oleh

10 September Terjadi Kiamat…, Ratusan Masjid Hancur!

-Berita-283 Dilihat

10 September
Terjadi ‘Kiamat Kecil’, Ratusan Masjid Hancur

SriwijayaAktual.com – Gempa bumi dahsyat memporak-porandakan
wilayah timur Mediterania, Konstantinopel, Kesultanan Turki pada 10
September 1509. Gempa berkekuatan 7,2 Skala Richter (SR) yang terjadi
pukul 10 malam itu berada tepat di perairan dangkal di Laut Marmara,
sehingga menyebabkan terjadinya gelombang tsunami.

Sebanyak 10 ribu orang meninggal dunia. Konstantinopel kini lebih
dikenal dengan Istanbul, dan Kesultanan Turki atau Kesultanan Utsmaniyah
kini berubah menjadi Republik Turki.

Berdasarkan data yang diolah VIVA, Senin, 9 September 2019, gempa bumi
yang terkenal dengan sebutan The Lesser Judgement Day atau ‘Kiamat
Kecil’ ini membuat 109 masjid, ribuan rumah, serta bangunan lainnya rata
dengan tanah.

Pada saat guncangan pertama terjadi, air laut langsung menyusut
seketika. Tak lama kemudian gelombang besar yang dikenal dengan sebutan
tsunami setinggi 6 meter menghantam dan membanjiri jalan dan permukiman
warga.

Pascaguncangan pertama terjadi, gempa terus mengguncang Konstantinopel
selama 45 hari ke depan. Galatis adalah wilayah terdampak terbesar dari
hantaman tsunami tersebut. Hal ini pula yang membuat banyak nyawa hilang
di Konstantinopel. Wilayah lainnya yang juga terkena dampak besar
adalah Corlu, lalu menyebar hingga Izmit.

Sebagai informasi, kata tsunami berasal dari bahasa Jepang “tsu” yang
berarti pelabuhan dan “nami” yang berarti gelombang. Secara ilmiah,
tsunami adalah gelombang air laut yang tinggi dan cepat, yang disebabkan
oleh pergerakan tiba-tiba di dasar laut.

Faktor yang sering terjadi dan menyebabkan 90 persen bencana tsunami
adalah gempa bumi yang terjadi di bawah laut. Gempa bumi di bawah laut
terjadi karena tubrukan lempeng-lempeng tektonik. Tubrukan ini
mengakibatkan pergerakan dasar laut dan mengganggu keseimbangan air yang
berada di atasnya.

Namun, tidak semua gempa bumi bawah laut berpotensi menimbulkan tsunami.
Misalnya, gempa bumi bawah laut yang pusat gempanya lebih dari 30
kilometer di bawah permukaan air biasanya tidak berpotensi tsunami.

Sebaliknya, apabila pusat gempa berada dekat dengan permukaan air laut,
berada pada jarak 0 hingga 30 kilometer di bawah permukaan laut, maka
tsunami mungkin terjadi. Selain itu, gempa yang memicu tsunami biasanya
berkekuatan di atas 6,5 SR dan memiliki pola pergerakan (sesar) naik
turun.[vv]

Komentar

Banyak Berita Terhangat Lainya