Minggu, 26 Juni 2022
Pasang Iklan Murah!
oleh

36 Tahun Mengenang Kehebatan Pasukan Elit Indonesia Bebaskan Sandera di Pesawat DC-9 Woyla oleh Teroris!

SriwijayaAktual.com PASUKAN khusus militer Indonesia pernah
mengukir sejarah dunia setelah berhasil melakukan pembebasan sandera
pesawat di Bandara Don Mueang, Bangkok, Muangthai pada 31 Maret 1981.
Tepat 36 tahun lalu, Kopassandha (Komando Pasukan Sandi Yudha) yang
merupakan embrio dari Kopassus sukses melumpuhkan lima orang teroris
pimpinan Imran bin Muhammad Zein anggota kelompok Komando Jihad (KJ)
yang membajak pesawat pesawat DC-9 Woyla milik maskapai Garuda
Indonesia.
Dibawah pimpinan Letkol (Inf) Sintong Panjaitan, pasukan elit TNI AD
ini bergerak senyap dan dalam waktu 3 menit berhasil menguasai pesawat.
Sebanyak 4 teroris tewas dalam penyergapan tersebut, sementara 1
prajurit dan seorang kapten pilot tertembak pada tubuhnya.
Aksi pembebasan sandera Garuda Woyla yang melambungkan nama pasukan
khusus Indonesia ini dimulai pada Sabtu, 28 Maret 1981. Pesawat DC-9
Woyla yang diterbangkan Kapten Pilot Herman Rante lepas landas dari
Jakarta pada pukul 08.00 WIB dan transit di Kota Palembang untuk kemudian
akan mendarat di Medan pada pukul 10.55 WIB.
Di dalam pesawat itu terdapat, 33 penumpang dari Jakarta dan 15
penumpang tambahan dari Palembang saat transit. Jadi total 48 orang di
dalamnya ditambah 5 kru pesawat tersebut yang terdiri dari 2 kru kokpit
dan 3 kru kabin.
Setelah transit di Kota Palembang, tiba-tiba seorang pria berpistol
memasuki ruangan kokpit. Teroris ini langsung menodongkan pistol ke arah
co pilot Hedhy Juwantoro. Dengan suara keras pria ini meminta kepada
Kapten Pilot Herman Rante untuk menerbangkan pesawat Kolombo, Sri Lanka.
Mulai dari sinilah diketahui jika pesawat tersebut tengah dikuasai
pembajak. Pihak intelijen Indonesia menyebut kelima orang pembajak
berasal dari kelompok Komando Jihad. Mereka adalah Zulfikar T Djohan
Mirza, Sofyan Effendy, Wendy Mohammad Zein, Mahrizal dan Mulyono.
Kapten Pilot Herman Rante sempat menolak permintaan tersebut dengan
alasan ketersediaan bahan bakar avtur. Akhirnya pilot mengarahkan
pesawat untuk mendarat di Penang Malaysia guna melakukan pengisian bahan
bakar untuk kemudian melanjutkan penerbangan. Saat transit di Malaysia
kelompok pembajak sempat menurunkan seorang nenek berusia 76 tahun
bernama Hulda Panjaitan. (KRj/BS)

Komentar