oleh

Abu Bakar Ba’asyir; Bebas, Namun Ogah Tanda Tangani Taat Pancasila, Tetapi Taat Pada ISLAM

-Berita-235 Dilihat
Abu Bakar Ba'asyir Bebas

SriwijayaAktual.comPENDIRI Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) Abu Bakar
Ba’asyir, yang mendekam di penjara dalam kasus terorisme, dijadwalkan
akan segera dibebaskan setelah persyaratan bebas bersyarat “diringankan”
dengan menekankan ia hanya akan “taat kepada Islam.” 
Pemilihan kata-kata dalam surat pernyataan itu, menurut Yusril
Ihza Mahendra, penasihat hukum pasangan calon presiden/wakil presiden
Joko Widodo-Ma’ruf Amin, disepakati setelah Ba’syir menolak
menandatangani dokumen pembebasan bersyarat yang mencakup taat kepada
Pancasila.
“Yang harus ditandatangi Pak Ba’asyir agak berat bagi beliau karena
beliau punya keyakinan yang dipatuhi hanya Allah, hanya Tuhan dan beliau
menyatakan hanya taat kepada Islam. ‘Jadi kalau saya diminta tanda
tangan taat kepada Pancasila, saya tak mau’”, kata Yusril tentang isi
percakapannya dengan Ba’syir di Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sindur,
Bogor. 
“Beliau hanya ingin taat kepada Islam dan kita memahaminya…Tak
ada pertentangan antara Islam dan Pancasila dan tak mau berdebat panjang
dengan Pak Ba’asyir,” tambah Yusril dalam wawancara dengan wartawan BBC News Indonesia, Endang Nurdin, Jumat (18/1/2019).
Ba’asyir telah menjalani hukuman selama sembilan tahun dari 15 tahun
hukuman penjara karena dinyatakan bersalah pada Juni 2011 dalam kasus
mendanai pelatihan teroris di Aceh dan mendukung terorisme di Indonesia. 
Ulama berusia 81 tahun ini sebelumnya ditahan di Nusakambangan,
Cilacap, namun dipindahkan ke LP Gunung Sindur, Bogor dengan alasan
kesehatannya menurun. 
Yusril mengatakan Ba’asyir telah mendapatkan remisi tiga kali dan
berhak untuk bebas bersyarat dan menyatakan telah mendapatkan
persetujuan dari Presiden Joko Widodo untuk membebaskannya dari penjara
dengan “pertimbangan kemanusiaan” karena “sudah berusia 81 tahun dengan
kondisi kesehatan yang semakin menurun, dengan pembengkakan kakinya yang
berwarna hitam.” 
Proses administrasi pembebasan Ba’asyir tidak memakan waktu lama
namun dia sendiri meminta waktu tiga sampai lima hari untuk berkemas,
kata Yusril. 
Tak lagi mendukung ISIS
Peneliti terorisme Sidney Jones menyatakan Ba’asyir sempat
dibaiat sebagai pengikut gerakan yang menamakan diri ISIS, yang muncul
saat Ba’asyir sudah di dalam penjara. 
Namun Sidney menyatakan pengaruh dua putra Ba’asyir menyebabkan ulama ini tak lagi menjadi pendukung gerakan kekhalifahan itu. 
“Melalui pengaruh anaknya Ba’asyir tak lagi pro ISIS… jelas
anaknya Abdul Rochim dan Abdul Rosyid tidak mendukung ISIS. Itu bisa
berarti bahwa mereka bisa memengaruhi bapaknya dan kalau begitu, mungkin
tak jadi risiko kalau sudah bebas. Karena jelas unsur pro-ISIS adalah
kelompok yang paling berbahaya di Indonesia sekarang ini,” kata Sidney.
Putra Ba’asyir Abdul Rochim yang ikut mendampingi Yusril Ihza
Mahendra mengatakan ayahnya akan langsung pulang ke Solo setelah
dibebaskan, “kemungkinan Senin atau Selasa.” 
Menyusul serangan bom Bali pada 2002, Ba’asyir ditetapkan sebagai
tersangka dan divonis dua tahun enam bulan setelah dinyatakan
berkomplot dalam kasus terorisme tersebut. Setelah bebas pada Juni 2006,
ia kembali ditahan pada Agustus 2010 dengan tuduhan terkait pendirian
kelompok militan di Aceh. 
Ba’asyir ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus serangan bom di
Bali pada 2002. Ia divonis 2,6 tahun penjara setelah dinyatakan
berkomplot dalam kasus itu. 
Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) pada tahun 2012 ditetapkan oleh
Departemen Luar Negeri AS, dalam daftar organisasi teroris asing (FTO). 
Saat itu, JAT dicurigai terlibat dalam berbagai kejahatan antara
lain perampokan bank untuk mendanai kegiatan mereka, termasuk serangan
bom bunuh diri di sebuah gereja di Solo, Jawa Tengah tahun lalu dan
sebuah masjid di Cirebon, Jawa Barat. 
JAT didirikan oleh Ba’asyir setelah keluar dari Jemaah Islamiah,
yang dinyatakan berada di belakang bom Bali 2002 dan beberapa kasus
terorisme. (sal/okz)

Komentar