oleh

ADUH! 15 Tahun Lagi Indonesia akan Kehilangan Pulau?, Ini Penyebabnya…

-Berita-186 Dilihat
Ilustrasi

SURABAYA-JATIM, SriwijayaAktual.com Utusan khusus Presiden RI untuk pengendalian
perubahan iklim, Prof Rachhmat Witoelar mengungkapkan perubahan iklim
yang saat ini terjadi selain fenomena tanah longsor dan sumur ambles di
daerah Jawa Timur (Jatim), juga dapat mengakibatkan pengikisan tanah termasuk
juga hilangnya sebuah pulau.
Baca ini: Fenomena Alam Yang Aneh, Puluhan Sumur Warga Desa ini Ambles

“Cuaca yang tak menentu ini akan
mengakibatkan bencana alam misalnya tornado, tanah longsor, banjir,
kebakaran hutan. Maka diimbau kepada pemuda agar tidak acuh pada alam
yang kita tinggali,” tutur Prof Rachhmat Witoelar ketika berbicara pada
rangkaian kegiatan Environation 2017 Talkshow dengan tema “Climate
Change: Self Revolution or Self Adaptation?” di Grand City Convex
Surabaya, Sabtu (29/4/2017).

Pada gelaran yang diinisiasi oleh
Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) Fakultas Teknik Sipil dan
Perencanaan (FTSP) Intitut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini
dimoderatori presenter kondang Tina Talisa.

Wimar yang pernah
menjabat sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia
ke-7, ini kembali menegaskan bahwa 15 tahun mendatang situasi akan
semakin buruk terlebih dapat merubah fenomena ekonomi.

“Alternatif
energi lebih menguntungkan dari fosil. Saat ini, generasi muda yang
menjadi kekuatan bangsa dalam menghadapi seluruh tantangan global.
Terlebih agar selalu peduli dan selalu bertukar pengalaman dengan
generasi tua untuk dapat merubah paradigma dengan pembangunan
berkelanjutan,” paparnya, dikutip dari laman beritajatim.

Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia,
Nur Masripatin menambahkan, pemerintahan presdien Jokowi ada perubahan
struktur yaitu KLHK memegang pengendalian perubahan iklim.

“Indonesia
ingin menjadi negara dengan pengurangan emisi hingga 29 persen.
Sebelumnya pada masa pemerintahan SBY hanya 26 persen. Ini artinya
pemerintah semakin peduli terhadap lingkungan. KLHK mengadakan pertemuan
diskusi tentang bagaimana masing-masing sektor untuk menerapkan
emission reduction,” tambahnya.

Ia memaparkan bagaimana upaya
pemerintah melakukan itu. Yakni, melalui program-program KLHK ada yang
ditransformasikan menjadi program nasional. Peran pemda sangat besar
dalam beradaptasi dengan perubahan iklim dan pengurangan emisi.

“Sistem
hukum sudah terintegrasi dengan baik. Dalam kehutanan, permasalahan
yang dihadapi adalah luasnya lahan hutan yang tanah gambut,” paparnya.

Baca Juga Ini: Lagi…Ada Tanah Gerak, Ratusan Rumah dan Satu Sekolah Rusak 
Prof Rachhmat Witoelar ketika berbicara pada
rangkaian kegiatan Environation 2017 Talkshow

Sementara,
Rektor ITS Joni Hermana menanggapi mengenai perubahan iklim menyebkan
kerugian ekonomi akibat bencana alam. Dirinya mengungkapkan, di Asia ada
7 dari yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, salah satunya
adalah Indonesia sehingga banyak bencana sering terjadi, Indonesia
seperti menjadi super market bencana.

“Namun persoalan utama
adalah mengedukasi masyarakat untuk proses mitigasi (pengurangan emisi
co2) dengan pengolahan limbah rumah tangga dengan terkonversi menjadi
zat yang ramah lingkungan dan melakukan adaptasi (penyesuaian dengan
dampak perubahan iklim). Serta pola fikir masyarakat yang menjadi
halangan dalam mitigasi karena terkait kesadarannya,” tutur Joni.

Ia
menandaskan, sejak ITS menjadi PTNBH, dirinya selalu gencar melakukan
upaya untuk fokus pada bidang-bidang keilmuan lingkungan, energi,
material, sains, perencanaan dan perubahan iklim. Seperti melatih
mahasiswa tidak hanya sains dan teknologi namun juga sofskill. Dirinya
selalu berupaya menggali diri, meraih berbagai kejuaraan pada setiap
mahasiswa ITS.

“Bagaimana perguruan tinggi menyiapkan generasi
muda dalam menghadapi perubahan iklim. Apakah perubahan iklim sudah
terjadi? Jika iya, masih banyak pejabat yang tidak merasa yakin dengan
perubahan iklim. Jika tidak, faktanya kenaikan CO2 di atmosfir meningkat
hingga 402 ppm. Co2 yang terakumulasi sehingga menyebabkan bumi semakin
panas karena ada halangan panjang gelombang matahari melewati
atmosfir,” ungkap Joni.

“Perguruan tinggi melakukan kajian untuk
mengatasi perubahan iklim. Kita semua menyadari bahwa meningkatnya Co2
akibat ulah manusia. Untuk mengatasi itu pendidikan berperan memegang
peranan penting untuk mengedukasi masyarakat,” inbuh Joni. 

Baca Juga ini: DAHSYAT !!! Peristiwa Alam, 4 Hektar Lahan Warga Ambles Mengeluarkan Mata Air Baru Yang Besar

Selanjutnya,
Direktur Produksi PT Pupuk Kalimantan Timur 4, Bagya Sugihartana
menjelaskan program pekate management system. Yakni managemen sistem
dalam konservasi energi dan air, dirinya berjanji akan mengurangi
pencemaran udara yang diterapkan oleh PT Pupuk Kaltim.

“Dalam
proses industri menggunakan 5 hal untuk menjaga energi dan mengurangi
emisi produksi. Dalam pemanfaatan tanah untuk produksi adalah
pengelolaan amonia menjadi urea dan juga menghasilkan bahan menetralisir
limbah amonia,” ungkapnya

Sementara dalam kaitannya dengan
limbah padat berbahaya, pihaknya lebih memanfaatkannya menjadi karung.
Selain itu juga diolah dengan bahan baku amonia dan air, dengan power
batu bara untuk menghemat gas alam.

“Namun kelemahannnya dengan
batu bara menghasilkan polutan yang dapat diolah. Serapan co2 pada RTH
(ruang terbuka hijau) diperbanyak. Pupuk kaltim berkomitmen untuk
mengurangi emisi,” tandasnya. [*]


Komentar

Banyak Berita Terhangat Lainya