oleh

Aduh!! Bengkulu Rawan Gempa Berpotensi Tsunami, ini Penyebabnya…

-Berita-232 Dilihat
Tempat Wisata Pantai Panjang Bengkulu [net]

BENGKULU, SriwijayaAktual.com – Bengkulu merupakan salah satu dari 34 provinsi di Indonesia. Wilayah
tersebut juga menjadi kawasan megathrust. Namun, apakah megathrust
tersebut? 
Bengkulu merupakan suatu daerah dengan tatanan tektonik atau
lempeng luas yang memiliki mekanisme pergerakan rata-rata, sesar naik.
Sehingga provinsi berjuluk ”Bumi Rafflesia” ini sering dilanda banyak
gempa besar dengan kedalaman dangkal.
Dari catatan sejarah gempa, daerah ini di dominasi gempa dengan
mekanisme sesar naik. Merujuk peta sumber dan bahaya gempa Indonesia
tahun 2017, khusus Bengkulu setidaknya terdapat dua segmen subduksi,
yakni megathrust Mentawai-Pagai dan megathrust Enggano, namanya.  
Dua segmen tersebut menjadi generator utama untuk gempa-gempa
megathrust di wilayah Bengkulu. Di mana setiap segmen memiliki potensi
kekuatan gempa maksimum yang berbeda. 
Pada segmen megathrust Mentawai-Pagai, kekuatan maksimum gempa
wilayah ini mencapai M=8.9. Sementara pada segmen Enggano kekuatan
maksimum-nya sedikit lebih kecil, M=8.4. 
”Bengkulu sering di landa gempa karena terdapat dua segmen
subduksi megathrust,” kata PMG Ahli Muda Stasiun Geofisika Kepahiang,
Bengkulu, Sabar Ardiansyah, Minggu (10/2/2019). 
Sejarah Gempa Besar di Bengkulu

Bengkulu sempat di landa gempa berkekuatan dahsyat, yaitu, Minggu
4 Juni 2000 dengan kekuatan Mw=7,3. Kemudian, pada Rabu 12 September
2007 dengan kekuatan Mw=8,4. Dua gempa besar tersebut berlokasi relatif
berdekatan. 
Dua gempa tersebut pada dasarnya dibangkitkan segmen megathrust
yang berbeda. Di mana gempa pada Minggu 4 Juni 2000, disebabkan
megathrust Enggano. Sementara, gempa pada Rabu 12 September 2007
dibangkitkan megathrust Mentawai-Pagai. 
Segmen Enggan, lanjutnya, sejak tahun 2000 hingga 2019 belum ada
gempa besar melebihi M=7,0 yang terjadi pada segmen tersebut. Meskipun
demikian, aktivitas segmen Enggano tetap tinggi. 
“Buktinya, adanya rekaman gempa-gempa kecil yang tercatat di BMKG
Kepahiang. Sehingga segmen ini terus melepaskan energi sepanjang waktu
dalam bentuk gempa-gempa kecil,” ujarnya. 
Sementara, pada segmen megathrust Mentawai-Pagai, sambung Sabar,
selain gempa pada Rabu 12 September 2007, gempa besar terakhir terjadi
pada Senin 25 Oktober 2010, dengan kekuatan Mw=7,7. Gempa ini diikuti
gelombang tsunami dan menelan banyak korban jiwa. 
”Secara langsung gempa 2010, memang tidak berdampak pada daerah
Bengkulu. Namun getaran gempa dirasakan cukup kuat di beberapa daerah
seperti Mukomuko, Bengkulu Utara dan Kota Bengkulu,” sampai Sabar. 
Berdasarkan catatan sejarah gempa di masa lalu, jelas Sabar, zona
megathrust Mentawai-Pagai ini pernah mencatat sejarah kelam dengan
terjadi gempa dahsyat pada tahun 1883, dengan kekuatam M=9,0. Dampaknya,
tidak hanya sekitar wilayah Sumatera Barat, melainkan wilayah lain ikut
terdampak. Seperti, Bengkulu. Dampak gempa tersebut menimbulkan
gelombang tsunami di provinsi berjuluk ”Bumi Rafflesia”. 
Sabar menyampaikan, akhir-akhir ini segmen Mentawai-Pagai kembali
menunjukkan eksistensinya. Pada Sabtu 2 Februari 2019, terjadi gempa
dengan kekuatan M=6,1 pada bagian paling utara segmen ini. Intensitas
gempa maksimum mencapai IV-V MMI dirasakan di Mentawai. Intensitas IV-V
MMI ini berpotensi mengakibatkan kerusakan pada perabot rumah tangga.
Frekuansi gempa susulannya pun cukup tinggi, dalam tiga hari gempa
susulan mencapai 116 kali. 
”Gempa itu dirasakan di beberapa tempat di Provinsi Bengkulu.
Seperti Mukomuko, Kota Bengkulu bahkan hingga ke Kabupaten Kepahiang,”
sampai Sabar. 
Jadikan Evakuasi Mandiri sebagai Budaya
Sabar mengatakan, sebagai masyarakat yang hidup berdampingan
dengan zona seismik aktif, masyarakat Bengkulu musti selalu dan dituntut
membudayakan siaga bencana. Sebab, secara alamiah baik segmen Mentawai
maupun segmen Enggano terus melepas energi gempa baik dalam bentuk gempa
kecil maupun gempa besar. 
”Sampai saat ini kita belum mampu memprediksi secara akurat,
kapan dan berapa besar kekuatan gempa yang akan terjadi,” tegas Sabar. 
Oleh karena itu, lanjut Sabar, seluruh lapisan masyarakat selayaknya
harus menyiapkan diri untuk terus meningkatkan upaya mitigasi. Menguasai
jalur evakuasi di sekitar lingkungan. Selian itu, masyarakat harus
mengerti cara penyelamatan diri saat terjadi gempa kuat yang berdampak
pada gelombang tsunami. 
Guncangan gempa kuat dan durasi yang cukup lama berkisar 20 detik
sebagai peringatan dini dari alam. Beberapa kasus, jelas Sabar, ada
gempa yang tidak dirasakan kuat, namun dengan durasi yang cukup lama
sekira >60 detik dapat menjadi tanda gempa besar yang dapat memicu
gelombang tsunami. Seperti, tsunami Mentawai 2010. 
Artinya, tambah Sabar, tanpa harus menunggu peringatan resmi dari
pemerintah, masyarakat harus segera menjauhi pantai, saat terjadi gempa
kuat dan durasi lama. Sebab, gelombang tsunami datang dalam waktu yang
sangat singkat sebelum datangnya peringatan resmi dari pemerintah.
“Evakuasi mandiri harus menjadi budaya yang tertanam sejak dini,” imbau Sabar. (rzy/okezone)

Komentar