oleh

“Akan Muncul Gelombang Perlawanan Cerdas”

-Berita-271 Dilihat
Ilustrasi/net

*Penulis: Asyari Usman (wartawan senior)

KOLOM PEMBACA-OPINI, SriwijayaAktual.com – Ada kecerdasan yang digunakan untuk kejahatan. Tetapi, hampir pasti akan
ada kecerdasan yang lebih mulia lagi. Yaitu, kecerdasan yang digunakan
untuk melawan kejahatan, kezaliman, dan kesewenangan.

Saya memperkirakan umat Islam garis lurus akan melancarkan perlawanan
yang cerdas (smart resistance) terhadap kejahatan dan kesewenangan para
penguasa. Perlawanan cerdas itu memang memerlukan kerja keras semua
orang. Perlu komitmen yang tak kenal lelah. Perlu ‘endurance’ (keuletan,
kegigihan). Sehingga, perlawanan itu akan menjadi gelombang besar.
InsyaAllah.

Di media sosial sudah langsung muncul bentuk perlawanan cerdas itu.
Kemarin, setidaknya ada dua tulisan menarik yang melambangkan ‘smart
resistance’ itu. Yang satu ditulis oleh Bung Azwar Siregar dan yang satu
lagi tidak ditemukan identitas penulisnya.

Mereka ini mengusulkan agar Pak Prabowo dan Bang Sandiaga Uno segera
membentuk bank yang bisa menampung dana umat Islam. Usulan ini sangat
praktis dan aplkikatif. Bisa dikerjakan. Bisa dikembangkan secara luas
dan cepat. Apalagi, menurut mereka, Bang Sandi memiliki latar belakang
bisnis yang sangat solid.

Bung Azwar bahkan ikut mengusulkan nama bank umat itu. Yaitu, Bank
Pembangunan Nasional (BPN). Yang satu lagi mengusulkan nama Bank
Persaudaraan Negara atau Bank Persaudaraan Nasional (BPN juga).

Mereka mengusulkan nama BPN sebagai bentuk pengabadian perjuangan
Prabowo-Sandi bersama umat dalam upaya untuk menegakkan keadilan dan
kemakmuran. Nama ini juga sangat cocok untuk terus menghidupkan ingatan
kaum muslimin tentang perampokan kemenangan demokratis umat.

Reaksi netizen sangat positif. Banyak yang malah tak sabar menunggu
kehadiran BPN karena mereka segera ingin memiliki rekening di situ.
Banyak siap hijrah ke Bank BPN begitu bank ini muncul.

Pengusul optimis. Begitu juga netizen. Mereka yakin Bank BPN bisa tampil
menjadi bank terbesar di Indonesia atau bahkan di Asia Tenggara.

Ada pula yang membuat meme yang sangat bagus tentang perlunya umat
memiliki bank sendiri. Pembuat meme menamakannya Bank Syam singkatan
untuk Bank Syariah Adil Makmur.

Itu baru salah satu bentuk perlawanan cerdas. Ada banyak lagi gagasan
yang sangat bisa dikerjakan asalkan umat menyadari dan berdisiplin untuk
mendukungnya, menyukseskannya Sebagai contoh, umat bisa bekerjasama
berbasis kejemaahan untuk mengembangkan sektor ritail. Sebenarnya sudah
ada, seperti “212 Mart”, Minimarket Sodaqo, KitaMart, dll.

Tetapi, kehadiran gerai-gerai milik umat itu masih memerlukan pembinaan
manajemen dan pengembangan bisnis yang lebih serius. Ini bukan masalah
besar, insyaAllah. Yang diperlukan adalah komitmen mayoritas umat dan
para pemuka bisnis umat.

Di bawah pimpinan Pak Prabowo dan Bang Sandi, diperkirakan pengelolaan ekonomi umat sangat berpeluang untuk sukses.

Ada contoh lain lagi. Misalnya, umat bisa membangun jaringan bengkel
mobil dan motor. Bisa juga berkpirah di sector manufaktur. Sektor ini
memang sudah banyak dimasuki tetapi sifatnya mungkin masih individual.
Sementara yang diperlukan adalah gerakan yang berjemaah dan lebih
terarah. Sehingga, bisnis yang dikelola umat bisa menjadi profesional
dalam bingkai kesyariatan.

Untuk menodorong keikutsertaan lapisan milenial, bisa pula didorong
kelahiran dan pertumbuhan retail online atau Olshop. Sektor ini pun
sangat potensial. Dan sangat mudah memperkenalkan serta mempromosikannya
di kalangan umat.

Pengembangan bisnis umat bisa menjadi ‘unlimited’, tak terbatas.
Begituah kira-kira. Karena semua sektor bisa diekplorasi dan
diekploitasi. Sebagai contoh, umat memerlukan penginapan yang nyaman dan
berbasis syariah. Umat juga perlu resort-resor wisata yang
family-friendly, yang cocok untuk keluarga.

Ada satu usaha yang sangat potensial untuk dikerjakan dan sangat relevan
dengan keperluan umat. Yaitu, penggilingan gabah (padi) sampai menjadi
produk yang memiliki kemasan bagus. Sangat mengherankan sekali mengapa
bisnis penggilingan gabah ini tidak dikerjakan oleh umat.

Padahal, yang bertani padi adalah umat dan yang membeli beras adalah
umat. Dan perlu diingat bahwa bisnis ini bukanlah pekerjaan yang
memerlukan modal besar. Sayangnya, di seluruh pelosok Indonesia
mayoritas bisnis penggilingan padi profesional dan berkualitas bukan
dikelola oleh umat maupun individu umat.

Jadi, konsep perlawanan cerdas itu bukanlah sesuatu yang utopis. Asalkan
umat memiliki kesadaran, tekad dan komitmen yang kuat. Saya yakin
sekarang ini adalah momentumnya. Pengalaman pahit penipuan dan
perampokan pilpres 2019 ini kita jadikan ‘turning point’ (titik balik)
dan ‘stepping stone’ (batu loncatan) untuk membangun kekuatan ekonomi
umat.

Kita tidak memerlukan bisnis-bisnis yang dikelola oleh orang-orang yang
‘tidak kita kenal’ itu. Kita harus menghentikan ekploitasi dana umat
oleh mereka. Umatlah yang lebih pantas mendapatkan kemaslahatan dari
proses produksi dan perniagaan yang berlangsung di seluruh pelosok
negeri.

Jangan pernah berkecil hati, apalagi patah semangat, meskipun umat jauh
tertinggal di bidang perekonomian dan bisnis. Yakinlah, kita bisa
melahirkan bisnis umat yang modern dan profesional.

Kita bisa mengumpulkan para pelaku bisnis yang saat ini menyadari
kelemahan umat di bidang ekonomi dan bisnis. Mereka akan memberikan
masukan dan pelatihan.

Semoga segera hadir Bank BPN, Umat Online Retail, Umat Shopping Centre,
Umat Business Centre, Umat Business Training Centre, Umat Bengkel Mobil,
Umat Bengkel Motor, yang dijalankan secara, profesiona, jujur dan
transparan. (*)

Komentar

Banyak Berita Terhangat Lainya