Akhirnya Prof.Lafran Pane, Pendiri HMI itu Jadi Pahlawan Nasional

Berita230 Dilihat

Oleh: Chazali H Situmorang* 

SriwijaayaaAktuaal.com – Siang menjelang
sore sekitar pukul 15 hari ini Jumat 3 November 2017, telepon saya
berdering dari seseorang sahabat saya yang saat ini sedang menjabat di
pemerintahan memberitahukan dengan sukacita bahwa Pak Lafran Pane, sudah
ditetapkan oleh Presiden Jokowi sebagai Pahlawan Nasional.


Saya tidak percaya begitu saja, dan mengcross check informasi
tersebut kepada senior saya alumni HMI yang mengikuti terus proses
pengusulan sebagai Pahlawan Nasional sampai masuk ke meja Presiden. Info
benar, karena pengurus MN KAHMI dan sebagian  Pengurus Daerah KAHMI jam
14.00 wib baru saja diterima Presiden Jokowi di Istana Negara. Dan
Presiden menyampaikan persetujuannya untuk pemberian gelar Pahlawan pada
Prof Lafran Pane bersama beberapa yang lain.

Perjalanan panjang
yang melelahkan dan berliku telah ditempuh oleh Tim Panitia yasng
ditunjuk oleh MN KAHMI dan dipimpin oleh Bang Akbar Tanjung. Dimulai
diusulkan tahun lalu tetapi masih belum berhasil. Bayangkan ada sebanyak
27 kali seminar dilaksanakan di 27 Perguruan Tinggi di hampir seluruh
wilayah Republik Indonesia. Sebagai bentuk kecintaan dan semangat yang
luar biasa dari para anggota HMI dan Alumni HMI untuk menjadikan tokoh
pendiri HMI yang sangat dihormati dan sebagai  panutan  Profesor H
Lafran Pane untuk mendapatkan kehormatan tertinggi dari Negara Republik
Indonesia yaitu sebagai Pahlawan Nasional.

Kita memberikan
apresiasi kepada Bang Akbar Tanjung, yang mendorong dan menghadiri
langsung seminar di 27 Perguruan Tinggi, dan bahkan sebagian Rektor
memberikan statement yang menyatakan bahwa Prof Lafran Pane layak dan
pantas untuk menyandang gelar Pahlawan Nasional. Dalam usia bang Akbar 
yang tidak muda lagi, memberikan pembelajaran kepada kami yang relatif
lebih muda tetapi tidak dapat mengikuti langkah dan gerakan bang Akbar
yang begitu sangat mobil. Semoga bang Akbar Tanjung diberikan kesehatan
dan kekuatan dalam menjaga moral dan kepedulain Alumni HMI lainnya dalam
menghantar masa depan adik-adik kader HMI. 

Presiden Joko Widodo didampingi Mensesneg Pratikno, bertemu dengan perwakilan KAHMI di Istana Negara, Jumat (3/11).
Sosok Lafran Pane sangat sederhana sekali. Itu bukan pencitraan
tetapi seperti itulah adanya. Saya termasuk yang beruntung karena
sempat beberapa kali menemani Prof Lafran Pane di Medan dalam berbagai
kegiatan HMI 35  tahun yang lalu. Saya ingat betul Pak Lafran Pane
meminta saya mengantarkannya ketemu Rektor USU ( Prof AP Parlindungan).
Dan saya mengantarnya bukan dengan mobil tetapi naik Vespa Super saya
yang sudah butut. Dan beliau santai  saja dan enjoy naik vespa butut
tersebut.
Spesial Untuk Mu :  Relawan Jokowi Ungkap Nama Menteri yang Kerjanya Hanya Berpolitik dan Berbisnis

Bagi saya itu kenangan yang manis yang masih terbayang
sampai saat ini. Suatu bentuk kesederhanaan yang tulus. Padahal waktu
itu sudah banyak Alumni HMI di Medan yang sudah kaya dan bermobil.

Sepintas
tentang  Prof Lafran Pane, beliau  lahir di kampung Pagurabaan,
Kecamatan Sipirok, yang terletak di kaki gunung Sibual-Buali, 38
kilometer kearah utara dari Padang Sidempuan, Ibu kota kabupaten
Tapanuli Selatan. Pak Lafran Pane  merupakan tokoh prakarsa dan pendiri
organisasi  HMI. Sebagaimana ditetapkan pada Kongres XI HMI tahun 1974
di Bogor.

Menurut berbagai informasi, sebenarnya Prof.Lafran
Pane lahir di Padangsidempuan 5 Februari 1922. Untuk menghindari
berbagai macam tafsiran, karena bertepatan dengan berdirinya HMI Lafran
Pane mengubah tanggal lahirnya menjadi 12 April 1923.

Sebelum
tamat dari STI Lafran pindah ke Akademi Ilmu Politik (AIP) pada bulan
April 1948. Setelah Universitas Gajah Mada (UGM) dinegerikan tanggal 19
desember 1949, dan AIP dimasukkan dalam fakultas Hukum, ekonomi,
sosial politik (HESP).

Dalam sejarah Universitas Gajah Mada
(UGM), Lafran termasuk dalam mahasiswa-mahasiswa yang pertama mencapai
gelar sarjana, yaitu tanggal 26 januari 1953. Dengan sendirinya Drs.
Lafran pane menjadi Sarjana Ilmu Politik yang pertama di Indonesia.

Mengenai Lafran Pane, Sujoko Prasodjo dalam sebuah artikelnya di
majalah Media nomor : 7 Thn. III. Rajab 1376 H/ Februari 1957,
menuliskan :….Sesungguhnya, tahun-tahun permulaan riwayat HMI adalah
hampir identik dengan sebagian kehidupan Lafran Pane sendiri. Karena
dialah yang punya andil terbanyak pada mula kelahiran HMI, kalau tidak
boleh kita katakan sebagai tokoh pendiri utamanya”.

Semasa di
STI inilah Lafran Pane mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (hari rabu
pon, 14 Rabiul Awal 1366 H /5 Februari 1947 pukul 16.00). HMI merupakan
organisasi mahasiswa yang berlabelkan “islam” pertama di Indonesia
dengan dua tujuan dasar. Pertama, Mempertahankan Negara Republik
Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Kedua, Menegakkan
dan mengembangkan ajaran agama Islam. Dua tujuan inilah yang kelak
menjadi pondasi dasar gerakan HMI sebagai organisasi maupun
individu-individu yang pernah dikader di HMI. Inilah yang menjadi
filosofi berfikir semua kader HMI diseluruh dunia, yaitu KeIndonesiaan
dan ke-Islaman.

Jika dinilai dari perspektif hari ini, pandangan
nasionalistik rumusan tujuan tersebut barangkali tidak tampak luar
biasa. Namun jika dinilai dari standar tujuan organisasi-organisasi
Islam pada masa itu, tujuan nasionalistik HMI itu memberikan sebuah
pengakuan bahwa Islam dan Keindonesiaan tidaklah berlawanan, tetapi
berjalin berkelindan. Dengan kata lain Islam harus mampu beradaptasi
dengan Indonesia, bukan sebaliknya.

Spesial Untuk Mu :  Cerita 'Oknum Polisi Bejat' Jadikan Gadis PSK

Dalam rangka
mensosialisasikan gagasan keislaman-keindonesiaanya. Pada Kongres
Muslimin Indonesia (KMI) 20-25 Desember 1949 di Jogjakarta yang dihadiri
oleh 185 organisasi alim ulama dan Intelegensia seluruh Indonesia,
Lafran Pane menulis sebuah artikel dalam pedoman lengkap kongres KMI
(Yogyakarta, Panitia Pusat KMI Bagian Penerangan, 1949, hal 56). Artikel
tersebut berjudul “Keadaan dan Kemungkinan Kebudayaan Islam di
Indonesia”.

Dalam tulisan tersebut Lafran membagi masyarakat
islam menjadi 4 kelompok. Pertama, golongan awam , yaitu mereka yang
mengamalkan ajaran islam itu sebagai kewajiban yang diadatkan seperti
upacara kawin, mati dan selamatan. Kedua, golongan alim ulama dan
pengikut-pengikutnya yang ingin agama islam dipraktekan sesuai dengan
yang dilakukan oleh Nabi Muhammad S.A.W. Ketiga, golongan alim ulama
dan pengikutnya yang terpengaruh oleh mistik.

Pengaruh mistik
ini menyebabkan mereka berpandangan bahwa hidup hanyalah untuk akhirat
saja. Mereka tidak begitu memikirkan lagi kehidupan dunia (ekonomi,
politik, pendidikan). Sedangkan golongan Keempat adalah golongan kecil
yang mecoba menyesuaikan diri dengan kemauan zaman, selaras dengan
wujud dan hakikat agama Islam. Mereka berusaha, supaya agama itu
benar-benar dapat dipraktekan dalam masyarakat Indonesia sekarang ini.

Ketua Majelis Nasional KAHMI Mahfud MD melakukan konferensi pers usai bertemu Presiden Joko Widodo, Jumat (3/11).
Lafran meyakini bahwa agama islam dapat memenuhi keperluan-keperluan
manusia pada segala waktu dan tempat, artinya dapat menselaraskan diri
dengan keadaan dan keperluan masyarakat dimanapun juga. Adanya
bermacam-macam bangsa yang berbeda-beda masyarakatnya, yang terganting
pada faktor alam, kebiasaan, dan lain-lain. Maka kebudayaan islam dapat
diselaraskan dengan masyarakat masing-masing.

Sebagai muslim dan warga Negara Republik Indonesia, Lafran juga menunjukan semangat nasionalismenya.

Dalam
kesempatan lain, pada pidato pengukuhan Lafran Pane sebagai Guru Besar
dalam mata pelajaran Ilmu Tata Negara pada Fakultas Keguruan Ilmu
Sosial, IKIP Yogyakarta (sekarang UNY), kamis 16 Juli 1970, Lafran
menyebutkan bahwa Pancasila merupakan hal yang tidak bisa berubah.
Pancasila harus dipertahankan sebagai dasar Negara Republik Indonesia.

Namun ia juga tidak menolak beragam pandangan tentang Pancasila, Lafran mengatakan dalam pidatonya:
….Saya
termasuk orang yang tidak setuju kalau Pemerintah atau MPR mengadakan
interprestasi yang tegar mengenai pancasila ini, karena dengan demikian
terikatlah pancasila dengan waktu. Biarkan saja setiap golongan
mempunyai interpretasi sendiri-sendiri mengenai pancasila ini. Dan
interpretasi golongan tersebut mungkin akan berbeda-beda sesuai dengan
perkembangan zaman.

Adanya interpretasi yang berbeda-beda
menunjukan kemampuan pancasila ini untuk selama-lamanya sebagai dasar
(filsafat) Negara “. (hal.6)

Spesial Untuk Mu :  Istri Walikota Bandung Ridwan Kamil Berkemas dan Siap Pindah ke Rumah Kontrakan, kok Bisa?

Dari tulisan diatas nampak Lafran
sangat terbuka terhadap beragam interpretasi terhadap pancasila,
termasuk pada Islam. Islam bertumpu pada ajarannya memiliki semangat dan
wawasan modern, baik dalam politik, ekonomi, hukum, demokrasi, moral,
etika, sosial maupun egalitarianisme.

Egalitarianisme ini
adalah faktor yang paling fundamental dalam Islam, semua manusia sama
tanpa membedakan warna kulit, ras, status sosial-ekonomi. Wajah islam
yang seperti ini selazimnya dapat dibingkai dalam wadah keindonesiaan.
Wawasan keislaman dalam wadah keindonesiaan akan sesuai dengan
perkembangan waktu dan tempat. Untuk kepentingan manusia kontemporer
diseluruh jagat raya ini sebagai rahmatan lil alamin.

 Setiap 25
Januari, HMI  akan mengenang satu orang: Prof. Drs. H. Lafran Pane.
Dia pemrakarsa berdirinya HMI, organisasi yang banyak melahirkan sumber
daya manusia (SDM) terbaik di negeri ini, juga punya andil besar
terhadap lahirnya proklamasi. Pada 25 Januari 1991, beliau meninggal
dunia.

Singkat kata, Lafran Pane Layak dijadikan tokoh nasional dan pahlawan nasional.

Keppres
pengangkatan Prof. Lafran Pane sebagai Pahlawan nasional telah ditanda
tangani Presiden Jokowi bersama dengan pejuang asal Aceh Laksamana
Malahayati, gerilyawan laut Sultan Mahmyd Riayat Syah dari Riau , tokoh
nasionalis religius asal NTB Tuan Guru Pancor (Muhammad Zainudin Abdul
Madjid). Presiden, akan menganugerahi gelar tersebut pada 9 atau 10
November 2017 mendatang di Istana Negara.

Apakah juga akan bertambah lagi yang akan di anugerahi Pahlawan Nasional dari 9 orang yang diusulkan Kementerian Sosial  Munas
X KAHMI di Medan ( Hotel Santika) pada anggal 17 s/d 19 November 2017 
tentunya berbeda dengan Munas-Munas sebelumnya. Munas kali ini terasa
istimewah karena keluarga besar HMI dan para alumninya sedang dalam
suasana bersuka cita dan bersyukur kepada Allah SWT, karena pendiri HMI
Bapak Prof Lafran Pane mendapatkan anugerah oleh Negara dan Pemerintah
Republik Indonesia sebagai Pahlawan Nasional.

Momentum
tersebut memberikan isyarat kepada para Alumni HMI yang bernaung di
KAHMI sebagai  langkah awal untuk introspeksi diri apakah kita sudah 
move on dalam mewujudkan cita-cita “masyarakat adil dan makmur yang di
Ridhoi Allah SWT”. Dengan landasan yang kokoh sebagai  “insan cita,
pengabdi dan bernafaskan Islam”. Punya standar moral, konsisten dan
berintegritas sebagaimana telah dicontohkan sebagai Role Model  oleh
almarhum Prof Lafran Pane.  [R*]

Cibubur, 3 November 2017
*Chazali H Situmorang/ Alumni HMI Cabang Medan


Komentar