oleh

Amien Rais Salut dengan Keberanian MA yang Vonis Bersalah Jokowi

-Berita-250 Dilihat
Juru Bicara MA, Andi Samsan Nganro.

JAKARTA, SriwijayaAktual.com –  Mantan Ketua MPR Amien Rais salut
dengan Mahkamah Agung yang menolak kasasi Presiden Joko Widodo terkait
kasus kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.

“MA yang biasanya loyo mengatakan Jokowi dan teman-teman telah melanggar
UU. Siapa yang membisiki MA kok ngomongnya benar?” ucap Amien saat
acata Muhasabah dan Munajat untuk negeri di Gedung Dakwah, Kramat Raya,
Jakarta Pusat, Sabtu (20/7/2019).

Jokowi dan lembaga terkait dinyatakan melakukan perbuatan melawan hukum sehingga terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Putusan kasasi dengan nomor perkara 3555 K/PDT/2018 diketok pada 16 Juli
2019. Putusan tersebut dikeluarkan oleh Nurul Elmiyah selaku ketua
majelis hakim dengan anggota Pri Pambudi Teguh dan I Gusti Agung
Sumanatha.

“Kalau PK dikalahkan, itu artinya apa? Ya harusnya Mundur,” ucap Amien, Ketua Dewan Kehormatan PAN itu.

Perkara ini bermula dari kelompok masyarakat yang menggugat negara atas
kasus kebakaran hutan dan lahan. Para penggugat tersebut di antaranya,
Arie Rompas, Kartika Sari, Fatkhurrohman, Afandi, Herlina, Nordin dan
Mariaty.

Sedangkan para tergugat adalah Presiden Joko Widodo, Menteri Lingkungan
Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman,
Menteri Agraria dan Tata Ruang Kepala Badan Pertanahan Nasional Sofyan
Djalil, Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek, Gubernur Kalimantan Tengah
Sugianto Sabran, dan DPRD Kalimantan Tengah.

Dalam gugatannya, Arie Rompas dkk mendelikkan sebagai warga negara yang
berhak mengajukan gugatan warga negara atau citizen law suit (CLS) ke PN
Palangkaraya. Sebab, kebakaran hutan di Kalimantan Tengah sejak 1997
hingga sekarang belum dapat ditanggulangi. Padahal, pemerintah
bertanggung jawab terhadap warga negaranya untuk dapat menghentikan
kebakaran hutan.

PN Palangkaraya mengabulkan gugatan mereka sebagian. Kemudian, pada
pengadilan tingkat banding, Pengadilan Tinggi Palangkaraya menguatkan
putusan PN Palangkaraya.

Pemerintah pun mulai dari Presiden dengan pihak-pihak tergugat
mengajukan upaya hukum kasasi. Namun, dalam putusan yang diketok pada
Selasa, 16 Juli 2019 itu alasan-alasan kasasi yang diajukan pemohon
tidak dapat dibenarkan. [md]
Presiden Joko Widodo berkunjung ke lokasi kebakaran di Banjar Baru, Kalimantan, 2015 lalu. [AFP/Getty Images]

Alasan MA Tolak Kasasi Jokowi dalam Kasasi Kebakaran Hutan

Sebelumnya diberitakan, Mahkamah Agung menegaskan bahwa alasan yang dipakai pihak tergugat
dalam gugatan warga (citizen law suit) terkait kebakaran hutan dan lahan
(karhutla), tidak dapat diterima. Menurut Juru Bicara MA, Andi Samsan
Nganro, hal itu menjadi alasan MA menolak kasasi yang diajukan pihak
tergugat, yaitu Presiden Joko Widodo dkk dalam kasus ini.

“Menurut
majelis hakim kasasi, alasan-alasan kasasi yang diajukan oleh pemohon
kasasi tidak dapat dibenarkan,” ujar Andi di MA, Jalan Medan Merdeka
Utara, Jakarta, Jumat, 19 Juli 2019.

“Putusan, dalam hal ini putusan PT Palangkaraya yang menguatkan
putusan PN Palangkaraya sudah tepat dan benar dalam pertimbangan
hukumnya,” ujar Andi.

Andi juga mengemukakan, lembaga peradilan,
secara umum berpandangan bahwa karhutla yang merupakan salah satu bentuk
bencana alam, merupakan tanggung jawab pemerintah untuk menanggulangi.
Namun, masih terjadinya karhutla setiap tahun, dianggap sebagai bukti
bahwa pemerintah belum melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik.

“Penanggulangan
bencana dalam suatu negara, termasuk juga di Negara Republik Indonesia
menjadi tanggung jawab pemerintah,” ujar Andi.

Kebakaran hutan di Palangkaraya, 2015 lalu. [AFP/Getty Images]

Adapun, merujuk kepada putusan yang berlaku, berikut adalah konsekuensi dari ditolaknya kasasi:
I.
Presiden Joko Widodo wajib menerbitkan Peraturan pelaksana dari
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup, yang penting bagi pencegahan dan penanggulangan
kebakaran hutan dan lahan, dengan melibatkan peran serta masyarakat
yaitu:
1). Peraturan Pemerintah tentang tata cara penetapan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup;
2). Peraturan Pemerintah tentang baku mutu lingkungan, yang meliputi:
baku mutu air, baku mutu air laut, baku mutu udara ambien dan baku mutu
lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi;
3). Peraturan Pemerintah tentang kriteria baku kerusakan lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan/atau lahan;
4). Peraturan Pemerintah tentang instrumen ekonomi lingkungan hidup;
5). Peraturan Pemerintah tentang analisis risiko lingkungan hidup;
6). Peraturan Pemerintah tentang tata cara penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup; dan
7). Peraturan Pemerintah tentang tata cara pemulihan fungsi lingkungan hidup;
II.
Presiden Joko Widodo wajib menerbitkan Peraturan Pemerintah atau
Peraturan Presiden yang menjadi dasar hukum terbentuknya tim gabungan.
Tim gabungan itu bertugas:
1). Melakukan peninjauan ulang dan merevisi izin-izin usaha pengelolaan
hutan dan perkebunan yang telah terbakar maupun belum terbakar
berdasarkan pemenuhan kriteria penerbitan izin serta daya dukung dan
daya tampung lingkungan hidup di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah;
2). Melakukan penegakan hukum lingkungan perdata, pidana maupun
administrasi atas perusahan-perusahaan yang lahannya terjadi kebakaran;
3). Membuat roadmap (peta jalan) pencegahan dini, penanggulangan dan
pemulihan korban kebakaran hutan dan lahan serta pemulihan lingkungan;
III. Mendirikan rumah sakit khusus paru dan penyakit lain akibat
pencemaran udara asap di Provinsi Kalimantan Tengah yang dapat diakses
gratis bagi korban asap;
IV. Memerintahkan seluruh rumah sakit
daerah yang berada di wilayah provinsi Kalimantan Tengah membebaskan
biaya pengobatan bagi masyarakat yang terkena dampak kabut asap di
Provinsi Kalimantan Tengah;
V. Membuat tempat evakuasi ruang bebas pencemaran guna antisipasi
potensi kebakaran hutan dan lahan yang berakibat pencemaran udara asap;
VI. Menyiapkan petunjuk teknis evakuasi dan bekerjasama dengan lembaga lain untuk memastikan evakuasi berjalan lancar;
VII. Mengembangkan peta kerawanan kebakaran hutan, lahan dan perkebunan di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah;
VIII. Merumuskan kebijakan standar peralatan pengendalian kebakaran hutan dan perkebunan di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah;
IX.
KLHK untuk segera melakukan revisi Rencana Kehutanan Tingkat Nasional
yang tercantum dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 41 Tahun 2011
tentang Standar Fasilitasi Sarana Dan Prasarana Kesatuan Pengelolaan
Hutan Lindung Model Dan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi Model;
X. KLHK dan Gubernur mengumumkan kepada publik lahan yang terbakar dan perusahaan pemegang izinnya;
Mengembangkan sistem keterbukaan informasi kebakaran hutan, lahan dan perkebunan di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah;
XI.
Mengumumkan dana jaminan lingkungan hidup dan dana penanggulangan yang
berasal perusahaan – perusahaan yang lahannya terbakar;
XII. Mengumumkan dana investasi pelestarian hutan dari perusahaan-perusahaan pemegang izin kehutanan;
Sementara, Gubernur Kalteng diharuskan:
1. Membuat tim khusus pencegahan dini kebakaran hutan, lahan dan
perkebunan di seluruh wilayah Provinsi Kalimantan Tengah yang berbasis
pada wilayah Desa yang beranggotakan masyarakat lokal;
2. Mengalokasikan dana untuk operasional dan program tim;
3. Melakukan pelatihan dan koordinasi secara berkala minimal setiap 4 bulan dalam satu tahun;
4. Menyediakan peralatan yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan;
5. Menjadikan tim tersebut sebagai sumber informasi pencegahan dini dan
penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Kalimantan Tengah;
6. Gubernur dan DPRD segera menyusun dan mengesahkan Peraturan Daerah
(Perda) yang mengatur tentang Perlindungan kawasan lindung seperti
diamanatkan dalam Keputusan Presiden Nomor 32 tahun 1990 tentang
Pengelolaan Kawasan Lindung. (ase)

Komentar

Banyak Berita Terhangat Lainya