Apakah Bisa Membangun Tanpa Semen? “Bangunan Tradisional dengan Tanah Tanpa Semen ini Masih Berdiri Hingga Sekarang”, Begini Caranya…

Berita124 Dilihat
Perempuan muda Desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali depan rumah
warga yang melestarikan arsitektur tradisional tembok tanah di bagian
depannya. Foto Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

KARANGASEM-BALI, SriwijayaAktual.com – Pabrik semen saat ini menjadi perhatian, terutama yang mengeksploitasi
kawasan sumber air untuk proses produksinya. Apakah bisa membangun tanpa
semen? Arsitektur Bali di masa lalu menggunakan tanah sebagai tembok
atau merekatkan bebatuan untuk rumahnya.
Sampai sekarang sejumlah bangunan tradisional dengan tanah pol-polan
tanpa semen ini masih berdiri dan dinikmati ratusan turis tiap harinya.
Misalnya di Desa Tenganan, Pegringsingan, Karangasem, Bali, yang
melestarikan sejumlah rumah tradisional dan masih dihuni warga hingga
kini.
Masuk ke Desa Tenganan Pegringsingan di Kabupaten Karangasem seperti
masuk ke lorong waktu masa lalu. Pemukiman berderet di sisi barat dan
timur dengan rapi. Bangunan yang digunakan untuk kebutuhan bersama
diletakkan di tengah-tengah. Misalnya bale pembuatan sesajen atau bale
rapat desa.
Bagian mencolok di sejumlah rumah adalah temboknya yang kelihatan
artistik dan tua. Teksturnya kasar, seperti tanah dionggokkan begitu
saja agar menempel. Tapi itulah teknik mengelem batu dengan tanah. Tanpa
semen. Sering disebut tanah pol-polan.
Banyak turis berfoto dengan latar tembok ini. Warna kecokelatannya
yang kalem kontras dengan indahnya kain-kain tenun dan selendang
warna-warni yang dipajang depan pintu rumah. Sebagian warga berdagang
kerajinan di rumahnya. Agar tak “menyakiti” keindahan arsitektur
bangunan tradisionalnya, warga sepakat dagangan digelar dalam rumah.
Bukan di depan. Jadi yang kelihatan hanya kain sebagai petanda, turis
bisa masuk. Melihat-lihat, membeli, atau ngobrol dengan pemilik rumah.
I Nyoman Sadra, salah seorang tokoh di Tenganan Pegringingan menyebut
walau desa terus ingin menjaga kelestarian arsitektur tradisional tapi
perubahan juga tak terelakkan. Ada yang sudah memanfaatkan keramik,
paras, dan lainnya ketika merenovasi rumah.
Salah satu arsitek yang memuja bahan alam, Gede Kresna, juga
mengaplikasikan tanah sebagai bahan utama lantai atau tembok di sanggar
dan rumah belajarnya, Rumah Intaran di Desa Bengkala, Kabupaten
Buleleng. Sekitar 3 jam berkendara dari Kota Denpasar.
Kresna bersama istrinya, Ayu Gayatri rajin mengampanyekan hidup
selaras alam memanfaatkan bahan baku sekitarnya untuk keseharian,
makanan dan bahan bangunan. Salah satunya aplikasi tanah ini. Ada yang
berupa tanah pol-polan, tanah dibulat-bulatkan dan dipadatkan lalu
disusun seperti tembok. Juga kombinasi tanah dan batu. Atau tanah dan
batu bata. Semuanya tanpa semen sebagai perekat dan penguat.
Seseorang tengah menggambar tekstur tembok tanah artistik dan tua ini
dalam lukisan di Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali. Foto Luh De
Suriyani/Mongabay Indonesia
Namun tanah ini sebelum diaplikasikan, diolah dulu dengan cara
fermentasi. Gede Kresna memberi resep fermentasi ini. Pertama, tanah
biasa digemburkan. Lalu ditambahkan air sedikit demi sedikit, biarkan
sampai mengendap. Setelah itu tanah basah ini diuleni dengan cara diinjak-injak, diamkan sekitar 24 jam. “Istilahnya nadiang atau menghidupkan tanahnya,” kata Kresna. Jika tanah tak bereaksi atau menyerap air artinya pasil atau jenuh. Syarat tanah yang digunakan cukup liat, tidak berpasir, berwarna kecokelatan.
Agar berkualitas baik, proses fermentasi ini bisa dilakukan
berulang-ulang. Tanah yang liat siap diaplikasikan. “Bukan meniadakan
semen karena masih diperlukan, tapi dikurangi,” Tuturnya Gede Kresna, (27/8/2017) dikutip dari laman mongabay.co.id.
Jepang juga mengaplikasikan tanah untuk tembok bangunan
tradisionalnya. Kresna mencontohkan di sana juga memanfaatkan bahan
lokal, tulang bambu dan jerami diapit tanah. Penggunaan tanah dengan
berbagai modifikasi baginya menunjukkan kemerdekaan warga memilih bahan
bangunan tanpa tergantung industri.
Penggunaan tanah juga berdampak pada kesehatan penghuninya. Bisa
lebih sehat karena tanah ini berfungsi sebagai insulasi udara alami,
material yang bisa menyesuaikan suhu dalam ruang dari suhu luar. Adem
saat siang, hangat ketika malam hari.
 
Sejumlah warga Desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali, duduk di
bale yang dibangun dengan pondasi batu kombinasi tanah. Foto Luh De
Suriyani/Mongabay Indonesia
Spesial Untuk Mu :  Perempuan ini Teriak-teriak Ingin Ketemu Jokowi Diamankan di MK

Gede Kresna pernah memaparkan strategi adaptasi bencana yang
diwariskan oleh leluhur orang Bali sendiri melalui bangunan tradisional.
Penggiat kehidupan tradisional ini menuturkan rumah-rumah Bali kuno
memiliki sistem tangguh dengan berbahan kayu dan memiliki bale di
dalamnya. Temboknya berbahan tanah polpolan, sehingga apabila terjadi
gempa bumi, struktur tetap berdiri. Meskipun tembok jatuh ke samping
karena gravitasi.
Pada gempa bumi Buleleng 1976, rumah di desa kuno Sidatapa hanya
mengalami sedikit kerusakan, dibandingkan di Seririt yang merenggut
banyak korban jiwa. Hal ini disebabkan karena beralihnya pilihan ke
rumah baru berbahan beton karena dianggap lebih modern. Banyak korban
tertimpa beton rumahnya. Hal serupa juga dibuktikan di wilayah lain di
Indonesia seperti di Nias yang rumah tradisionalnya teruji gempa bumi.
Pada 22 November 1815 menjelang tengah malam, gempa bumi besar
mengguncang. Kala itu pejabat-pejabat penting di kerajaan Buleleng turut
menjadi korban 202 tahun lalu. Getaran gempa itu disebut mengakibatkan
pegunungan retak, lalu longsor dengan suara menggelegar seperti guntur.
Longsoran pegunungan lantas menimpa ibukota Kabupaten Buleleng,
Singaraja. Desa-desa turut tersapu hingga ke laut. Bencana ini
mengakibatkan 10.523 orang meninggal.
Diskusi refleksi berjudul Peringatan 200 Tahun Gejer Bali, Sebuah
Refleksi Kebencanaan Masyarakat Bali ini dilaksanakan di Singaraja pada
2015 mengingatkan lagi bahwa arsitektur tradisional juga bisa jadi
bagian mitigasi bencana. Pusat gempa bumi diperkirakan berada di laut
sebelah utara kerajaan Buleleng di Bali utara. Ibukota buleleng
mengalami kerusakan parah. Gempa bumi itu menggetarkan seluruh pulau
Bali, sehingga disebut juga Gejer Bali yang artinya Bali bergetar.
Selain di Bali, getaran kuat juga dirasakan hingga Surabaya, Lombok
bahkan Bima.
Gempabumi besar 22 November 1815 ini ditengarai juga menimbulkan Tsunami. Laporan di dalam Catalogue of Tsunami on the Western Shore of the Pasific Ocean
yang disusun oleh S.L. Soloviev dan CH.N. Go mendeskripsikan adanya air
laut yang naik dan menerjang daratan dalam jangkauan yang luas pasca
gempa bumi. Sebanyak 1.200 orang lainnya menjadi korban akibat bencana
susulan dan naiknya air laut ke daratan. Istilah tsunami belum dikenal
penduduk pulau Bali saat itu. (*) 
Spesial Untuk Mu :  Tiga Orang Kaya ini Dapat Lunasi Utang Negara Indonesia, Lho! Siapa Aja sich?

Komentar