oleh

“Baju Kotak-Kotak Hilang Kesaktiannya”

-Berita-229 Dilihat

OPINI, SriwijayaAktual.com  – Kesaktian baju kotak-kotak yang pertama digunakan pada Pilkada DKI 2012 rupanya hanya sakti ketika dikenakan Joko Widodo.

Jokowi dua kali menggunakan ikon kotak-kotak tersebut: saat maju
Pilgub DKI berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama dan Pilpres 2014
bertandem dengan Jusuf Kalla. 
Berharap mengulang kesuksesan dengan baju bercorak kotak-kotak,
sejumlah calon PDIP di Pilgub Banten dan Jabar (penyanggah Jakarta) pun
mengikuti langka serupa. Pada 2013, artis-politisi Rieke Diah Pitaloka
berpasangan dengan Teten Masduki mencoba peruntungan dengan menantang
petahana Ahmad Heryawan yang berpasangan dengan aktor Dedy Mizwar.
Sempat digadang-gadang akan memenangkan pertarungan menyusul
kemenangan Jokowi pada tahun sebelumnya, pasangan Rieke-Teten akhirnya
kandas. Heryawan-Mizwar pun akhirnya duduk nyaman di Gedung Sate.
Dalam berbagai kesempatan saat kampanye, Rieke dengan bangga mengenakan baju kotak-kotak sebagai atribut resmi kampanyenya.
Pascakekalahan, Rieke-Teten sempat menggugat ke MK karena menuduh
terjadi kecurangan pemilu, dengan menyebut ada 11 juta masyarakat yang
tak bisa memilih. Namun, MK menolak seluruh permohonan mereka dengan
memutuskan tidak terjadi pelanggaran-pelanggaran yang bersifat
terstruktur, sistematis, dan massif yang secara signifikan dapat
mempengaruhi peringkat perolehan suara masing-masing pasangan calon
dalam Pilkada Jawa Barat.
Politisi PDIP yang ingin mendapatkan “kesaktian” dari baju
kotak-kotak berikutnya adalah Rano Karno di Pilkada Banten pada 15
Februari 2017. Rano yang berpasangan dengan Embay Mulya Sarief kalah
sangat tipis dengan Wahidin Halim-Andika Hazrumy.
Sempat mengadu ke MK tapi ditolak, Rano pun terpaksa mengakui
kekalahan lawan. Berang karena kalah, Ketua Umum Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri mencopot Ketua Dewan
Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Kabupaten Serang Ida Rosida Lutfi dan Ketua
Dewan Pimpinan Cabang PDIP Kota Tangerang Hendri Zein karena dinilai tak
becus mengeruk suara.
Pemberhentian keduanya dua hari pascapencoblosan merupakan dampak
dari kekalahan pasangan Rano-Embay di Kabupaten Serang dan Kota
Tangerang. Sekali lagi, baju kotak-kotak tak mampu mengkotakkan para
pemilih untuk fokus mencoblos pemakainya.
Terbaru adalah pasangan Ahok-Djarot. Berniat mempertahankan kursi
Jakarta 1, PDIP masih mempertahankan baju kotak-kotak sebagai seragam
resmi kampanye, dari timses tingkat atas sampai lapangan.
Dalam banyak kesempatan, baju kotak-kotak sepertinya malah
menjadi blunder akibat perilaku kader di tingkat bawah yang menyalahi
aturan. Ada yang tertangkap kamera bagi-bagi sembako, marah-marah, dan
sikap tak terpuji lain saat mengenakan seragam kotak-kotak. Bagi citra
Ahok-Djarot, ini adalah pukulan telak.
Belum lagi motif kotak-kotak yang di media sosial digiring dengan
asosiasi serbet, untuk membuat konotasi rendahan. Kemampuan
konotasi adalah menciptakan mitologisasi, dan ini sangat berhasil dengan
munculnya istilah “bani serbet” untuk pendukung Ahok-Djarot. Olok-olok
tersebut tak pantas tapi fakta di lapangan berbicara seperti itu.
Jadi, praktis hanya Jokowi yang berhasil menang dengan baju kotak-kotak.
Tentu saja, menang-kalah pemilu tak bisa ditentukan oleh atribut
kampanye. Ada banyak faktor lain yang lebih signifikan, seperti kualitas
calon, mesin politik, strategi kampanye dan komunikasi, serta
“gizi” yang memadai.

                                    Baca Juga: Selamat Datang Gubernur Baru DKI Jakarta
Akan tetapi, ada ungkapan Jawa, ajine rogo songko busono (harga diri dapat dinilai dari busana yang dikenakan). Jadi, busana adalah soal pembentukan citra calon di mata para pemilih. 
Barangkali motif kotak-kotak memang ditakdirkan hanya “aji” bagi
Jokowi, tapi tidak yang lain. Tahun depan ada Pilkada Jabar. Coba Kita lihat
apakah calon PDIP akan berani kembali mengenakan baju kotak-kotak yang
kini sudah berasosiasi dengan kain serbet itu. (Dhuha Hardiansyah/rima)

Komentar

Banyak Berita Terhangat Lainya