oleh

Biikin Indonesia-China Memanas, Ini Sederet Kekayaan Alam Laut Natuna Indonesia

loading...
kekayaan laut natuna
JAKARTA, SriwijayaAktual.com – Hubungan Indonesia dan
China kian panas karena kapal coast guard dari China masuk ke dalam teritori
laut Indonesia di Natuna tanpa izin. Tak terima, Indonesia pun menyatakan apa
yang dilakukan China adalah pelanggaran.
Ternyata laut Natuna
menyimpan beragam potensi hasil laut, mulau dari cumi-cumi, lobster, kepiting,
hingga rajungan.
Plt. Dirjen
Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan Aryo Hanggono
mengungkapkan bahwa cumi-cumi menjadi komoditas laut dengan potensi hasil
paling banyak. Setidaknya ada 23.499 ton potensi cumi-cumi per tahun di Natuna.
“Natuna ya, di
sana ada cumi-cumi, lobster, kepiting, hingga rajungan. Di datanya itu, potensi
per tahunnya lobster ada 1.421 ton, kepiting, 2.318 ton, rajungan 9.711
ton,” papar Aryo ketika dihubungi detikcom, kemarin.
“Cumi-cumi
paling banyak nih, dia ada 23.499 ton per tahun,” ungkapnya.
Sedangkan untuk
komoditas perikanan tangkap potensial Kabupaten Natuna terbagi dalam dua
kategori, yaitu ikan pelagis dan ikan demersal. Potensi ikan pelagis Kabupaten
Natuna mencapai 327.976 ton/tahun, dengan jumlah tangkapan yang dibolehkan
sebesar 262.380,8 ton/tahun (80% dari potensi lestari).
Pada tahun 2014,
tingkat pemanfaatan ikan pelagis hanya mencapai 99.037 atau 37.8% dari total
jumlah tangkapan yang dibolehkan. Selebihnya yaitu sebesar 163.343,8 ton/tahun
(62.25%) belum dimanfaatkan.
Selain jenis ikan
pelagis, ikan demersal juga memiliki peluang produksi yang tidak kalah besar.
Potensi ikan demersal di Kabupaten Natuna mencapai 159.700 ton/tahun, tingkat
pemanfaatan pada tahun 2014, hanya sebesar 40.491 ton (25.4% dari potensi
lestari). Artinya, masih ada sekitar 119.209 ton/tahun (74.6%) ikan demersal
yang belum dimanfaatkan di Kabupaten Natuna.
Beberapa jenis ikan
di Kabupaten Natuna, yang potensial untuk dikembangkan antara lain Ikan dari
jenis kerapu-kerapuan, tongkol krai, teri, tenggiri, ekor kuning/pisang-pisang,
selar, kembung, udang putih/ jerbung, udang windu, kepiting, rajungan, cumi-cumi
dan sotong.
Melihat kekayaan
alamnya wajar saja banyak kapal asing ilegal yang mengintai Natuna. Lantas apa
yang membuat Laut Natuna sering dimasuki kapal asing?
Natuna sendiri
memang sering dimasuki kapal nelayan asing. Menurut Aryo penyebabnya karena
masih jarang nelayan lokal yang melaut di Natuna. Kalaupun ada, kemungkinan
hanya ada kapal yang kecil.
“Memang ada
penjagaan, cuma ya kan nggak setiap hari, mahal BBM-nya kalau setiap hari. Pada
saat kosong, mereka masuk tuh pinter mereka masuk. Selain itu, kapal ikan kita
di sana nggak banyak, yang ada juga kecil-kecil,” kata Aryo.
Aryo menyebutkan
nelayan lokal kebanyakan melaut di daerah Dobo dan Arafura. Pasalnya, jenis
ikan pelagis yang mudah ditangkap dan dijual ada di sana.
“Jadi
kebanyakan golden fishing ground-nya tuh ke Arafura, Dobo. Kalau nelayan Jawa
begitu. Di sana lebih banyak ikannya, ikan pelagisnya lebih banyak 2 setengah
kali di sana,” jelas Aryo.
Kemudian, wilayah
Natuna jadi incaran kapal nelayan asing juga karena kaya hasil laut dan
tempatnya pun strategis. Puluhan ribu kapal dari Malaysia, Thailand, Vietnam,
hingga China disebut Aryo sering bolak-balik ke Natuna.
“Karena memang
ada kedekatan geografis. Karena dekat dan banyak kekayaannya, puluhan ribu
kapal itu. Mereka ini mau cari ikan tapi nggak mau jauh-jauh,” ungkap Aryo
“Jadi Malaysia,
Thailand, Vietnam, dan China maunya turun dikit dapat lah Natuna,”
katanya.
Selain itu, wilayah
Natuna memang sering kosong. Maksudnya tanpa penjagaan, sebetulnya sudah ada
penjagaan dan patroli namun tidak setiap hari. Ditambah lagi nelayan lokal
jarang melaut di Natuna. Walaupun ada, itu juga hanya nelayan yang menggunakan
kapal kecil.
“Memang ada
penjagaan, cuma ya kan nggak setiap hari, mahal BBM-nya kalau setiap hari. Pada
saat kosong, mereka masuk tuh pinter mereka masuk. Selain itu, kapal ikan kita
di sana nggak banyak, yang ada juga kecil-kecil,” kata Aryo. [detikcom]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed