oleh

Cerita-Kisah Jokowi Dahulu Pernah Digusur Tinggal Dipinggir Sungai Hingga di Hutan

loading...
Peluncuran buku Jokowi Menuju Cahaya. ©2018/Intan Umbari Prihatin

JAKARTA, SriwijayaAktual.com – Presiden Joko Widodo atau Jokowi sempat menceritakan kisah hidupnya saat berbincang-bincang dalam peluncuran buku Jokowi Menuju Cahaya yang ditulis Alberthiene Endah. Jokowi
menceritakan kehidupannya mulai dari remaja hingga menjadi Presiden,
termasuk saat tinggal di pinggir Kali Anyar, Solo, Jawa Tengah.
“Namanya hidup di kali, ya semua orang tahu, nggak harus saya
ceritakan. Yang jelas kesulitan, kesusahan, dan perjuangan hidup menjadi
keseharian kita. Dan saya kira hal-hal seperti itu tidak perlu
diekspos,” kata Jokowi di hadapan para tamu di Hotel Mulia, Jakarta,
Kamis (13/12/2018) malam.
“Nggak mungkin kita hidup senang terus, nggak mungkin. Hidup susah
terus nggak mungkin. Pasti ada susahnya, naik. Ada senangnya, naik. Ada
susahnya turun lagi. Buat saya ya biasa saja. Saya jalani biasa-biasa
saja,” kata Jokowi.
Kemudian, dia juga mengaku pernah merasakan digusur dan tinggal di
tengah hutan. Ketika itu tahun 1970, Jokowi ingat betul masih sekolah SD
dan merasakan digusur. Lalu, setelah lulus kuliah dan mendapatkan
pekerjaan di Aceh, dia bersama keluarga hidup menumpang dengan bibinya
di Kabupaten Bener Meriah.
“Dan betul-betul di tengah hutan, rumahnya satu dan ramai sekali,
hampir setiap malam seperti itu. Buat saya biasa saja. Namanya di hutan,
ya yang nongol ya babi hutan, kadang beruang. Buat kita ya biasa,” kata
Jokowi.
Karena itu, ketika menjadi pemimpin, dia mengaku bisa merasakan
bagaimana kalau rakyat digusur, sehingga bisa membuat kebijakan yang
tidak merugikan rakyat.
“Misalnya gusur menggusur. Misal, waktu saya pernah merasakan
digusur, masa saya menggusur? Misalnya. Pasti mempengaruhi proses
perjalanan panjang dan pengalaman batin, pasti mempengaruhi setiap
kebijakan,” kata Jokowi.
Tidak Memanjakan Rakyat
Selain
itu, Jokowi juga menceritakan bahwa proses membangun sebuah negara
tidaklah menyenangkan. Kadang ada pahit, sakit, tetapi ada proses kita
memetik buahnya. Karena itu, jangan sampai mendidik masyarakat untuk
gampang dan instan. Mudah saja untuk memanjakan rakyat, namun itu tak
dia lakukan.
“Buat saja subsidi sebanyak-banyaknya, buat saja bansos sebanyak-banyaknya kepada masyarakat, senang semua,” kata Jokowi.
Menurut dia, pembangunan suatu rumah yang kokoh perlu pondasi serta
pilar yang kuat. Sering dia sampaikan perjalanan sebuah negara yang
besar memerlukan kompetisi dan bersaing. Infrastruktur kata dia adalah
syarat.
“Sering saya sampaikan, dalam perjalanan menuju suatu negara yang
besar, kita berkompetisi, kita bersaing, manusianya juga jadi syarat
mutlak agar peningkatan SDM menjadi syarat dan akan kita lakukan setelah
infrastruktur dibangun,” kata Jokowi.
“Tetapi, negara yang cepat akan mengalahkan negara yang lambat. Yang
jelas bangsa ini akan tetap menjadi bangsa yang kokoh,” tegas Jokowi. [Intan UP/Lip6/Mrdk] 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed