Cerita SBY 70 Tahun Hidup dalam 3 Penggal Sejarah

Berita337 Dilihat
Susilo Bambang Yudhoyono (Dok/Istimewa)

BOGOR-JABAR, SriwijayaAktual.com – Presiden keenam RI sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) menceritakan pengalamannya 70 tahun hidup dalam
tiga era pemerintahan Indonesia; Orde Lama, Orde Baru dan reformasi. Ia
memetik hikmah dari lika-liku perjalanan hidupnya. 
Cerita itu disampaikan SBY dalam pidato kontemplasi di Puri
Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Senin 9 September malam tadi. Ini orasi
politik pertama SBY setelah sempat “vakum” delapan bulan dari panggung
politik, karena memilih merawat istrinya Ani Yudhoyono lalu ibu
kandungnya Siti Habibah. Keduanya kini sudah meninggal dunia.
“Kontemplasi yang hendak saya sampaikan ini berangkat dari apa yang
saya dapatkan dalam perjalanan hidup saya selama ini dalam bentangan
waktu 70 tahun usia saya, saya hidup dalam tiga penggal sejarah yang
berbeda, era Presiden Soekarno, era Presiden Soeharto dan era
Reformasi,” kata SBY.
Menurutnya, masing-masing era memiliki semangat zaman, kehidupan,
dan corak sejarah yang berbeda-beda dari sisi profesi dan pengabdian.

“20 tahun saya menjadi warga sipil dan seorang pemuda yang
menempuh pendidikan awal, 30 tahun menjadi prajurit dan perwira militer
yang bertugas menjaga kedaulatan dan keutuhan negara, 15 tahun mengabdi
di jajaran pemerintahan, baik sebagai menteri maupun presiden, dan
kemudian lima tahun terakhir ini saya kembali ke pangkuan masyarakat
sipil.”
SBY mengaku mengarungi berbagai ragam kehidupan yang dinamis,
sarat dengan pasang dan surut, suka-duka, serta sukses dan gagal. Ia
bersyukur karena dapat memetik berbagai hikmah dan pelajaran, dan
menjadikan perjalanan hidup saya sebagai universitas yang abadi.
Apa hikmah dan pelajaran yang dipetik SBY?
“Pilihan saya adalah hikmah dan pelajaran apa yang saya dapatkan
dalam kehidupan bemasyarakat, berbangsa dan bernegara di negeri tercinta
ini, baik dalam kapasitas saya sebagai rakyat, maupun sebagai pemimpin.
Pemimpin dalam berbagai tingkatan, Mulai dari tingkat bawah hingga
puncak. Juga pemimpin dalam berbagai cabang kehidupan, militer, politik
dan pemerintahan,” katanya.
“Saya ingin mendekatinya dengan pikiran dan pertanyaan yang
sederhana. Mari kita renungkan bersama, dan apa jawaban kita terhadap
pertanyaan seperti ini, ingin menjadi manusia seperti apa diri kita?”. 
Hampir pasti setiap orang punya jawabannya sendiri-sendiri. Yang
jelas, lanjut SBY, apapun narasinya, setiap orang pasti ingin menjadi
manusia yang baik, hidupnya baik, dan membawa pula kebaikan bagi yang
lain.
“Kalau kita lebarkan dan tingkatkan cakupannya, misalnya Lantas
masyarakat seperti apa yang kita inginkan? Jawabannya, pastilah kita
ingin memiliki dan menjadi masyarakat yang baik, a good society.
Demikian juga kalau kita lanjutkan, bangsa dan negara seperti apa yang
kita tuju dan kita bangun, jawabannya akan serupa a good nation, a good
country.”
Menurut dia, kalau kita membaca literatur dan mempelajarai definisi
dan kriteria apa itu masyarakat yang baik (good society) dan negara yang
baik (good country), akan kita dapati bahwa rumusannya ada yang
sifatnya universal, namun ada juga yang khas negara tertentu.
“Tentu, kontemplasi saya ini tidak hendak menguraikan apa rumusan
yang sering dirujuk oleh banyak negara itu, Bukan. Justru di sinilah,
saya ingin menyampaikan apa yang saya pelajari dan dapatkan sendiri,
dari berbagai pengalaman dan pelajaran kehidupan dan pengabdian di
negeri ini.” (sal/okezone)

Komentar