oleh

Derita Cewek Anak Jalanan, Jadi Korban Esek-esek Gratisan Pengamen dan Pengayuh Becak, Di Kota mu Bagaimana?

-Berita-23 views
loading...
Derita Anak
Jalanan di Garut, Jadi Korban Esek-esek Gratisan Pengamen dan Pengayuh Becak

GARUT-JABAR, SriwijayaAktual.com – Memang sangat miris. Jika dibanding
dengan harga martabak, ternyata, esek-esek jalanan di Kabupaten Garut,
Jawa Barat, jauh lebih murah. Satu martabak di Garut harganya antara
Rp20 ribu hingga Rp45 ribu, esek-esek di Garut bisa free. Kalaupun
dibayar ternyata tak lebih Rp10 ribu.

Misalnya ZJ (12), warga Kecamatan Garut Kota, anak jalanan ini memang
sudah terbiasa dengan kerasnya kehidupan kota termasuk di antaranya soal
seksual. Dia kerap melayani nafsu bejat orang yang biasa hidup di
jalanan yang usianya jauh lebih tua hanya dengan imbalan minuman keras
oplosan secara gratis. Kalaupun diberi uang dia hanya mendapat uang Rp5
ribu saja.

“Paling diajak minum miras oplosan, kalau dikasih uang paling goceng (lima ribu),” katanya, Kamis, 7 November 2019.

Parahnya, laki-laki yang biasa dilayani adalah kakek renta penganyuh
becak dan pengamen yang biasa hidup di jalanan. Bocah usia belasan tahun
ini tak berdaya karena sering ditraktir mabuk-mabukan dan makan,
sehingga tak bisa menolak jika diminta untuk berhubungan intim.

“Kalau menolak saya suka ditempeleng atau ditendang, saya jadi takut. Jadi mau aja,” katanya.

Bukan hanya ZJ, IC (17), gadis warga Kecamatan Cikajang, adalah anak
jalanan tergolong baru. Dia turun di jalan baru sekitar tiga bulan.
Alasan keluar dari rumah karena kerap dianiaya ibunya. Oleh karena itu,
IC nekat kabur dan hidup di jalanan.
“Baru tiga bulan saya jadi pengamen, di rumah enggak betah suka disiksa sama ibu,” katanya.

Selama ini, IC mengaku sudah tiga kali dicabuli. Pelakunya adalah orang
tua lanjut usia berinisial A yang berprofesi sebagai pengayuh becak. Dia
kenal A melalui temannya ZJ. Dari perkenalan itulah, IC sering dibawa
jalan-jalan oleh A, sampai akhirnya harus melayani nafsu bejat A hingga
tiga kali.
“Kalau gituannya di kebun, masih di sekitar kota,” katanya sedikit malu-malu.

ZJ dan IC mengaku tak ada pilihan untuk hidup di jalanan. Untuk
mempertahankan hidup selain mau menjadi pemuas nafsu, keduanya kerap
mencari uang sebagai pengamen atau peminta-minta.
“Paling ngamen atau jadi pengemis, cari uang untuk makan atau jajan,” kata keduanya.

Bukan hanya ZJ dan IC, masih banyak anak jalanan yang kini menjadi
korban pencabulan sesama anak jalanan. Mereka sudah terbiasa dengan
kehidupan seks, walaupun tak mendapat bayaran sama sekali. [vivanews]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed