oleh

Dihajar Buzzer, Gubernur Anies Baswedan Banjir Dukungan

loading...
KOLOM PEMBACA-OPINI, SriwijayaAktual.com – Beberapa orang japri
saya, mengirim link media terkait petisi terhadap Anies. Diantara mereka ada
orang penting di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Beliau berkomentar: Ternyata,
lawan Anies bekerja sistematis untuk menjatuhkan.
Semua yang japri
saya minta respon dan tanggapan. Apa jawaban saya? Hehehe Kok ketawa? Gak
serius amat? Si Amat aja gak serius, kenapa saya harus serius?, jawabku. Dalam
hati aku cuma bilang: “hanya orang bodoh yang mau merespon mainannya buzzer.”
Seseorang dari
fraksi PDIP DKI memberi komentar: petisi itu tak berafiliasi dengan partai
manapun. Mereka adalah orang-orang yang merasa dirugikan. Oh ya? Siapa mereka
bung DPRD? Dari mana asalnya? Jangan-jangan dari Bangka Belitung. Kerugian apa
yang dialaminya?
Mirip banjir di
Jatiasih Bekasi kemarin, yang disalahin Anies. Bekasi bro! Kenapa gak salahin
Ridwan Kamil dan Walikota/Bupati Bekasi? Kenapa salahin Anies? Karena Anies
yang ditarget. Waduh!
Bagaimana respon
Anies? “Kami bertanggungjawab, dan tidak salahkan siapa-siapa”. Begitu
menghadapi banjir, Anies turun langsung dan ikut lakukan evakuasi korban.
Pastikan para pengungsi teratasi dan aman logistiknya. Dimana kementerian
sosial? Hus… Gak usah nanya-nanya yang lain.
Benar kata kawan
saya, orang penting di MUI itu. Memang ada upaya sistematis untuk mengganggu
Anies. Upaya itu dimulai sejak Anies dilantik jadi gubernur. Publik tahu itu.
Inget kata “pribumi” dalam pidato pelantikan Anies yang dikasuskan? Itu baru
pemanasan. Dan tak berhenti sampai sekarang. Sudah lebih dari dua tahun. Makin
kesini, makin kencang.
Ini terjadi bukan
saja karena faktor “gak move on”, tapi juga terkait kebijakan Anies yang
seringkali mengganggu kepentingan oligarki. Terutama kegalauan mereka
menghadapi pilpres 2024. Oh ya? Masih lama, kok galau ya?
Lihat video
orang-orang yang pakai atribut topi sinterklas? Videonya viral. Dalam video
itu, ada beberapa orang yang karena rajin bully Anies menjadi terkenal. Mereka
gelisah. Gelisah kalau Anies jadi presiden. Makin gelisah lagi ketika Anies
datang dan turun langsung ke lokasi banjir, warga teriak “Gubernur Rasa
Presiden” (Kompas, 5/1/2020)
Tidak hanya Anies
yang dibully. Semua pihak yang mengapresiasi kinerja Anies juga dibully.
Termasuk kompas, kumparan dan detik.com yang dalam konteks banjir ini berusaha
obyektif memotret kerja Anies dan respon warga. Kena bully juga. Jangan-jangan
Jaya Suprana dan Sujiwo Tedjo juga akan dibully hanya karena mengapresiasi
kerja Anies.
Jangan tanya soal
moral dan etika. Bagaimana kita membuat standar moral dan etika untuk
orang-orang yang mejadikan banjir dan penderitaan para korban sebagai arena
berpolitik? Maksudnya gak bermoral? Ah, jangan terlalu vulgar. Rakyat juga
sudah paham.
Lalu, bagaimana dari
sisi politik? Ini baru butuh analisis lebih detil. Selama ini, “para buzzer”
selalu gagal mengganggu Anies. Alih-alih menjatuhkan, justru sebaliknya, setiap
kasus malah jadi blessing dan mengangkat nama Anies. Lem aibon, Ambruknya jembatan
di hutan kota, dan sekarang soal banjir. Kenapa?
Pertama, “para
buzzer” selalu kesulitan untuk mendapatkan isu seksi. Setidaknya hingga hari
ini, Anies tak pernah melakukan kesalahan fatal terkait dengan integritas,
kebijakan dan komunikasi politiknya. Ini salah satu kelebihan Anies, bicara dan
kerjanya sangat terukur. Jadi, tak ada ruang untuk menggarap isu yang
berpotensi downgrade Anies.
Kedua, terlalu
banyak rekayasa. Penyebaran hoaks dengan data-data invalid dan cenderung ngasal
justru jadi faktor kegagalan mereka. Ketika data-data asli dibuka, kelar. Ini
terus berulang terjadi. Intinya, para buzzer ini gak bermain taktis. Hanya
eforia sesaat.
Ketiga, pola
komunikasi “ala preman” justru mendatangkan ketidaksimpatisan publik. Miskin
dukungan, bahkan memancing perlawanan banyak pihak. Corat coret wajah Anies
dengan berbagai bentuk caci maki yang gak karuan. Mereka gak paham psikologi
publik. Publik Indonesia masih waras. Gak suka sampah model seperti itu.
Keempat, walaupun
sudah bekerja sistematis, terstruktur dan masif, para buzzer ini tetap kalah
jumlah, kalah cerdas, kalah kompak dan kalah militan dibanding para pendukung
Anies. Ini yang membuat setiap isu kandas di tengah jalan.
Kelima, Anies tak
mudah dipancing untuk bereaksi dan merespon para buzzer itu. Dalam konteks ini,
Anies cukup matang dalam sikap dan melakukan komunikasi politik. Sejumlah orang
justru balik simpati dan dukung Anies ketika Anies melakukan komunikasi dengan
pihak-pihak yang selama ini “memusuhinya”. Disamping kerja Anies yang terukur.
Tentu terukur menurut lembaga-lembaga yang dianggap kredibel oleh publik untuk
memberikan penilaian. Termasuk KPK, BPK dan sejumlah kementerian.
“Saya tak akan
menjawab dengan kata-kata, tapi dengan kerja dan karya”, kata Anies. Dan Anies
telah membuktikannya dengan karya nyata dan sejumlah penghargaan.
Terkait banjir yang
tak hanya menimpa Jakarta, tapi juga Jawa Timur, Jawa Barat, Banten dan
Kalimantan Selatan, Anies tegar di tengah dibullyan, caci maki dan kebencian.
Fokus kerja, turun langsung ke lapangan dan pimpin pasukan untuk mengatasi
dampak banjir. Tak mengeluh. Tak menyalahkan pusat. Tak menyalahkan presiden.
Tak menyalahkan kepala daerah lain. Tak nyalahin hujan. Tak nyalahin air laut
yang sedang pasang. Tak nyalahin tiga belas sungai.
Anies juga tidak
bilang: “banjir akan lebih mudah diatasi jika jadi presiden”. Anies gak pernah
bilang begitu. Kalau pada akhirnya nanti Anies jadi presiden dan melanjutkan
program-program yang sudah dimulai dan dikerjakan Pak Jokowi, itu soal lain.
Lima fakta ini yang
membuat lawan politik Anies seperti tak menemukan ruang yang cukup untuk
merusak nama Anies. Ini bisa dilihat dari kegalauan mereka dalam video yang
viral beberapa hari ini.

Baca Juga: Lieus: Banjir Jakarta Cara Tuhan YME Menguji Anies Jadi Presiden RI

Bisa dimaklumi. Di
satu sisi, mereka tak siap ditinggal Jokowi pensiun di 2024. Di sisi lain,
mereka tak punya tokoh yang kompetitif untuk dilawankan dengan Anies. Enggak
tahu kalau pada akhirnya mereka mencalonkan Abu Janda, Denny Siregar atau Arde
Armando untuk menjadi kompetitor Anies. Perlu juga dicoba dan diberi
kesempatan.
Yang publik gak bisa
maklumi, mengapa mereka tak punya rasa empati kepada para korban. Di saat
banjir tiba dan penderitaan menimpa bangsa ini, para buzzer justru makin masif
produksi bullyan dan caci maki. Dimana nurani mereka? Di sisi lain, walaupun
terus dubully, Anies justru malah banjir dukungan. (*)
*Penulis: Tony Rosyid (Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed