oleh

Dikoreksi Mbak Tutut, Bapak “Soeharto Tidak Pernah Mengundurkan Diri”

Terungkap, Alasan Pidato Soeharto Tak Pakai Kalimat ‘Mengundurkan Diri’ saat Lengser, Ternyata karena Ini 

JAKARTA, SriwijayaAktual.com – Presiden kedua RI, Soeharto tidak
pernah mengundurkan diri sebagai presiden. Tidak ada kata-kata mundur
dalam pidato penguasa Orde Baru itu pada 21 Mei 1998 lalu.

Begitu tegas putri kedua Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana usai
menyerahkan Arsip Presiden Soeharto kepada Arsip Nasional Republik
Indonesia (ANRI), Kamis (18/7/2019).

Dikoreksi wanita berkerudung yang akrab disapa Mbak Tutut itu, Soeharto
menyatakan berhenti sebagai presiden. Tapi bukan mengundurkan diri. 

“Saya koreksi. Bukan mengundurkan diri, tapi berhenti. Bapak selalu
pakai istilah berhenti dan beliau memakai istilah berhenti itu setelah
mencari di dalam UUD 1945,” ujarnya.

Mbak Tutut menjelaskan bahwa ada perbedaan makna mendalam antara
mengundurkan diri dan berhenti. Mengundurkan diri, sambungnya, sama saja
tidak bertanggung jawab saat masih menjalankan tugas.

“Kenapa nggak mengundurkan diri saja? Beliau mengatakan bahwa kalau saya
(Soeharto) sebut mengundurkan diri berarti saya belum selesai tugas
sudah mundur. Itu artinya tidak tanggung jawab,” jelas Tutut.

Atas alasan itu, Soeharto kemudian menggunakan istilah berhenti.
Maknanya, Soeharto berhenti sebagai presiden karena sudah tidak lagi
dipercaya rakyat.

“Yang memperkerjakan saya (Soeharto) itu tidak percaya, supaya saya
tidak kerja lagi kerja di situ, ya saya berhenti. Jadi istilah itu mohon
diterapkan. Jadi bukan mengundurkan diri, tapi berhenti,” jelasnya.

Baca Juga: Keluarga Cendana Serahkan “HARTA KARUN” Milik Presiden Soeharto & Ibu Tien ke Negara

Adapun kala itu, Soeharto memilih berhenti karena tidak ingin ada korban
terus berjatuhan, di mana kondisi saat itu mahasiswa dan rakyat bersatu
menuntut reformasi.


“Terus kalau ditanya, kenapa kok tidak terus saja waktu itu jadi
presiden. Ada salah satu rekan beliau menanyakan. Dia menjawab bahwa
kalau saya terus, berarti akan makin banyak generasi-generasi muda yang
menjadi korban,” katanya.

“Jadi lebih baik berhenti, biarlah nanti generasi yang lain bisa meneruskan perjuangan bapak,” demikian Mbak Tutut. [md]
Catatan Redaksi; Harap Baca Juga buku: Detik-detik
yang Menentukan, Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi (2006) yang ditulis
Bacharuddin Jusuf Habibie.

Komentar

Banyak Berita Terhangat Lainya