oleh

“Dilema Jokowi dan Prabowo”

Kolase/Foto/Istimewa
KOLOM PEMBACA-OPINI, SriwijayaAktual.com – JOKOWI menang. Itu versi quick count dan KPU. Legitimasinya? Nunggu
ketetapan Mahkamah Konstitusi (MK). Mungkinkah bisa berubah? Mungkin!
Apa yang tak bisa berubah dalam politik?

Seandainya Jokowi menang? Masalah belum selesai. Isu kecurangan membuat
Jokowi diprediksi sulit mendapatkan legitimasi (pengakuan) dari rakyat.
Terutama mereka yang hidup di wilayah di mana Prabowo-Sandi menang di
atas 70-80 persen.

Aceh yang ingin referendum, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, NTB,
Sulawesi Selatan dimana suara Jokowi di bawah 30 atau 20 persen akan
jadi beban sosial dan politik. Belum lagi delapan nyawa melayang saat
demo menuntut Jokowi didiskualifikasi. Itu angka resmi dari Rumah Sakit
DKI. Angka tak resmi? Simpang siur. Dan lebih dari 700 petugas pemilu
meninggal dengan menyisakan banyak pertanyaan.

Siapapun presidennya, tragedi Pilpres kali ini secara normal akan
menjadi beban sejarah. Itupun jika Jokowi juga menganggap itu bagian
dari tragedi. Anggaplah iya, tentu ini tak akan mudah bagi Jokowi jika
terpaksa harus menjalankan roda pemerintahan ke depan dengan minus
kepercayaan rakyat yang cukup besar jumlahnya. Isu rush money dan mogok
pajak harus jadi pekerjaan nasional, kendati belum terbukti.

Dalam situasi “tegang” seperti sekarang, mungkinkah Jokowi akan
mengalah, lalu mundur? Mengalah demi rakyat dan bangsa. Mengalah untuk
keutuhan NKRI. Mengalah sebagai seorang negarawan sejati yang lebih
mementingkan rakyatnya dari pada ambisi pribadi. 

Sekali lagi, tak ada yang tak mungkin dalam politik. Setiap keputusan
memungkinkan untuk diambil, kendati tak populer dan mendapat banyak
penolakan dari para pendukung. Segala pertimbangan tentu akan
dikalkulasi dengan matang. 

Boleh jadi Jokowi siap mengalah dan mundur. Tapi, apakah orang-orang
yang berada di sekitar Jokowi siap? Apakah mereka bersedia pensiun dini
dan istirahat menikmati masa tuanya? Apakah mereka siap kehilangan
pundi-pundi kekayaan yang mengalir dari bisnis politik dan kekuasaan?
Terutama bagi parpol pengusung, siap tak dapat jatah kabinet? 

Ini yang jadi dilema bagi Jokowi. Maju salah, mundur kena. Ini analisis normatif, berkaitan dengan psikologi manusia normal. 

Tak hanya Jokowi, dilema juga dialami Prabowo. “No point of return”. Tak
ada pilihan mundur. Itulah kalimat yang berulangkali keluar dari lidah
mantan komandan kopassus ini. Benarkah? Atau Prabowo akan menelan ludah
kembali?

Sejumlah pendukung mati di laga demonstrasi. Sejumlah elit di lingkaran
Prabowo jadi tersangka. Sebagian yang lain sudah ditangkap. Maju terus,
tak ada jaminan kalau tak ada lagi jatuh korban. 

Soal ini, Prabowo dikenal sensitif. Tak bisa melihat rakyat dikorbankan.
Ini kelebihan paslon nomor 02 dalam konteks moral. Tapi, secara
politik, ada yang menganggap itu kelemahan. Gak punya ketegaran dan daya
tahan. Mudah dipengaruhi, bahkan dipermainkan perasaannya oleh lawan.
Terlalu baper dan tak rasional. Mundur? Pasti akan dibilang pengecut.
Orang berkomentar: Cemen! Ini tentu dilematis bagi Prabowo.

Sementara, partai pendukung Prabowo mulai ada yang tak tahan godaan.
Demokrat balik kanan. Kalau cuma Demokrat, tak masalah. Rakyat juga tahu
CV Demokrat. Gak kaget. 2014 abstain. 2019 banyak manuver. Ada yang
bilang: partai pengganggu. Ngrecokin saja kerjanya. Tak punya komitmen
babar blas. (Sama sekali)

Sementara PAN? Masih tengak-tengok dan lihat kanan-kiri. Dulu, 2014, PAN
juga begitu. Habis pilpres, nyebrang ke kubu lawan. Apakah akan diulang
di 2019? Beda Amien Rais, beda Zulkifli Hasan (ketua umum PAN). Tarik
menarik dua matahari ini terus terjadi di PAN.

Bagaimana dengan PKS? Partai kader ini cenderung setia. Satu-satunya
partai yang menemani Gerindra sebagai oposisi. Lima tahun, tak mudah.
Susah dan berjuang bersama. PKS teruji kesabaran, kesetiaan dan
komitmennya.

Bagaimana kalau jatah Wagub DKI tak jadi diberikan kepada PKS? Bisa jadi
ancaman. Pecah kongsi? Koalisi bubar? Sangat mungkin. Cukup! Sabar ada
batasnya bro! Kira-kira begitu kata PKS. Cawapres gak dikasih, Wagub mau
diambil juga. Stop!

Di internal Partai Gerindra, apakah mereka solid? Belum tentu juga.
Kabarnya, ada pihak-pihak tertentu yang coba mendorong rekonsiliasi.
Beberapa orang dianggap dekat dan intens berkomunikasi dengan lingkaran
istana. 

Bagi mereka, lebih menguntungkan jika berkoalisi dengan Jokowi. Artinya
mengalah? Ya, dengan syarat. Nego dan tawarannya pasti aduhai. Modal
pilpres bisa kembali, di kabinet ada jatah. Mosok begitu? Namanya juga
politik bung.

Kabarnya, ada “oknum” yang bekerja untuk melakukan kompromi-kompromi. Deal-deal politik? Kira-kira begitu. 

Apakah imbauan Prabowo dan Sandi agar para pendukung tidak
berbondong-bondong hadir ke MK adalah tanda sudah ada deal politik?
Terperangkap oleh oknum yang sedang melakukan terjadinya kompromi? Atau
hanya semata-mata karena Prabowo dan Sandi tak ingin ada korban lagi?
Atau karena Prabowo sangat confidence bahwa MK akan memenangkan
gugatannya? 

Pertanyaan-pertanyaan ini sedang dicari jawabannya oleh publik.
Terdengar kabar tak sedap bahwa ada “oknum” yang mencoba mengganggu kinerja tim hukum yang dipimpin Bambang Widjojanto (BW). 

Tim yang dikomandoi mantan pimpinan KPK ini sedang berjuang keras di
jalur konstitusional melalui MK. Namanya juga kabar. Siapa oknum itu?
Cari aja sendiri! 

Hingga saat ini, BW dengan timnya tetap optimis. Gugatan 37 halaman
lengkap dengan lampiran 146 halaman siap bertarung di MK. Para ulama dan
pendukung Prabowo konsisten mengikhtiarkan kemenangan sampai batas
kemampuan terakhir. 
Tak akan mundur! Prabowo harus jadi presiden, kata mereka. 

Bagaimana dengan Prabowo sendiri? Mirip dengan Jokowi. Berada di dalam
dilema. Apakah Prabowo masih tetap Istiqomah dengan perjuangannya? Satu
baris dengan para ulama dan pendukungnya? Atau malah justru menyerah? 
Sejarah yang akan mencatat.

Apapun keputusan yang akan Prabowo dan Jokowi ambil, rakyat berharap sikap kenegarawanan yang harus dikedepankan. 

Perlu dipastikan bahwa bangsa ini masih punya masa depan. Dan sikap
kedua capres ini yaitu Prabowo dan Jokowi akan mempengaruhi tidak saja
nasib demokrasi Indonesia, tapi juga nasib bangsa ini ke depan.rmol.id

Oleh, Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa [rmol]

Komentar

Banyak Berita Terhangat Lainya