oleh

DPR RI Minta SKK Migas Jelaskan Tren Penurunan Lifting Minyak

-Berita-159 Dilihat
Tambang Minyak (Ilustrasi)
JAKARTA, SriwijayaAktual.com – Anggota Komisi VII DPR RI Ramson Siagian minta Kepala SKK Migas Amien
Sunaryadi menjelaskan penyebab terjadinya trend penurunan lifting
minyak bumi dan gas bumi yang cukup tajam karena Plt. Menteri ESDM Luhut
Binsar Pandjaitan menyampaikan  prediksi lifting minyak bumi di APBN
2017 sebesar 780 ribu barel per hari dan lifting gas bumi setara
1.150.000 barel per hari.
“Komisi VII DPR mengadakan rapat dengan
Kepala SKK Migas dan pimpinan K3S, adalah  untuk mendapatkan data yang
akurat dari SKK Migas dan K3S. Kami juga ingin mendengarkan  penyebab
terjadinya trend penurunan yang cukup tajam lifting minyak bumi dan gas
bumi,” papar Ramson dalam keterangan tertulis Humas DPR, seperti dilansir Elshinta.com, Selasa (6/9/2016).
Saat
rapat dengar pendapat Komisi VII dengan Kepala SKK Migas dan pimpinan
KKKS di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (5/9/2016), politisi dari
Gerindra ini mengatakan seharusnya lifting minyak meningkat jika 
dilihat dari potensi yang ada di bumi Indonesia ini. Tetapi
kebijakan-kebijakan dan sistem mempengaruhinya. Pada  tahun 2000 lifting
minyak  sekitar 1,2 juta barel per hari.
“Kalau dilihat dari
revenue sebenarnya sekarang sudah tidak signifikan. Penerimaan Negara
Bukan Pajak (PNBP) untuk tahun 2016 nanti di APBN-P dari minyak  dan gas
bumi hanya 30 triliyun. Kalau dibandingkan dengan pendapatan di Sektor
Pajak yang 1.500 triliyun, jadi hanya 2 persennya,” terang Ramson.
Selanjutnya
ia menjelaskan, bahwa di 2014  PNBP dari minyak dan gas sebesar 216
triliyun atau 216,8 trilyun rupiah. Saat itu penerimaan dari pajak
sekitar 1.103 triliyun. Jadi sekitar 20% lebih ratio antara PNBP dari
minyak dan gas terhadap penerimaan pajak di struktur APBN.
“Saat
ini hanya 2% dari penerimaan pajak, dua tahun lalu 20%. Jadi luar biasa,
tentunya dipengaruhi lifting dan penurunan harga minyak serta  gas di
pasar global,” mantapnya.
Pada kesempatan itu, ia  ingin
mengkonfirmasi apakah benar yang diajukan pemerintah dalam hal ini Plt
Menteri ESDM bahwa 780 ribu barel per hari dan setara 1.150.000 barel
per hari untuk lifting gas bumi yang akan ada dalam struktur APBN.
Karena ini dua asumsi makro yang harus masuk dalam APBN sesuai dengan UU
yang ada dan yang  menentukannya adalah  Komisi VII DPR RI bersama
pemerintah.
“Saya melihat, menghitung ini apakah benar dan sudah
sesuai dengan yang sudah disampaikan di sini. Artinya setiap KKKS
tertera mengenai lifting minyak dan gas, saya menghitung memang agak
sesuai,” ungkapnya.
Baca juga; Pemerintah Akui Belum Maksimal Kelola Minyak dan Gas Dengan Benar

Tetapi yang menjadi problem, tukasnya, bahwa
SKK Migas menyampaikan di sini, ada trend penurunan yang cukup tajam.
Jika  2017 minyak 780 ribu barel per hari, maka 2018 sudah 630 ribu
barel per hari, dan 2019 trennya menurun menjadi 540 ribu barel per
hari.
“Ini memang sangat memprihatinkan, 2020 menjadi 480 ribu
barel perhari artinya yang pesimisnya. Sementara tren konsumsi BBM dalam
negeri cukup tinggi. Ada kecenderungan ini kelemahan dari kebijakan
sistem, karena suatu negara kompetitif itu sangat dipengaruhi sistem dan
kebijakan,” tandasnya. (Ant)

Komentar

Banyak Berita Terhangat Lainya