oleh

HEBOH!! Situs Skandal Sandiaga S. Uno

-Berita-401 Dilihat
Capture www.skandalsandiaga.com

JAKARTA, SriwijayaAktual.com  – PSI mendorong polisi mengusut tuntas situs yang memuat
fitnah perselingkuhan Sandiaga Uno. Meski mengutuk situs itu, Sekjen PSI
Raja Juli Antoni juga punya dugaan situs tersebut dibuat pendukung
Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sendiri.
Dugaan ini, sebut Toni, berkaca dari strategi Presiden Amerika
Serikat (AS) Donald Trump saat ikut serta dalam pemilu Presiden AS. Toni
menceritakan Trump kerap membuat materi kampanye hitam sendiri untuk
meraih simpati publik.
“Dengan kata lain bisa jadi, sekali lagi, bisa jadi tanpa bermaksud
menuduh, situs skandal Sandi itu dibuat pendukung Prabowo-Sandi
sendiri,” ujar Toni dalam keterangannya, Rabu (26/9/2018).
Ia pun meminta kepolisian segera mengusut tuntas kasus ini. Hal ini
dilakukan agar pelaku di balik kampanye hitam ini segera terungkap.
“Silakan polisi mengusut. Saya justru menuntut pihak kepolisian
bergerak cepat dan menuntaskan kasus ini sehingga terang benderang siapa
sebenarnya yang membuatnya,” ujar Toni.
Alasannya, Toni tak ingin publik berspekulasi buruk terkait kasus
ini. Dia menegaskan materi negatif itu bukan dibuat timses Joko
Widodo-Ma’ruf Amin.
“Ini kampanye hitam yang tidak boleh dikembangkan dalam demokrasi
kita. Pendukung Jokowi-Amin wajib mengutuk kampanye hitam seperti itu
karena bertentangan dengan nilai-nilai yang selama ini dikembangkan Pak
Jokowi. Tidak mungkin materi negatif itu diproduksi TKN Jokowi-Amin,”
tegasnya.
Dalam situs tersebut, Sandiaga dituding berselingkuh dengan perempuan
berinisial MB, pejabat di satu perusahaan terkemuka. MB juga disebut
sering ke Balai Kota DKI Jakarta saat Sandiaga menjabat Wakil Gubernur
DKI Jakarta. Dalam situs, tampak pula foto-foto perempuan yang diisukan
dekat dengan Sandiaga.
Sandiaga menepis isu tersebut. Dia menegaskan hal tersebut adalah fitnah.
“Pada intinya itu fitnah dan fitnah itu dosa,” tegas Sandiaga seusai
temu kader PAN di Hotel Sahid Mandarin, Kota Pekalongan, Jateng, Selasa
(25/9/2018). (ak.beng/dtk)

Komentar