oleh

Ingin Kaya? Jangan Ambil Gelar S-2 !!!”

Ilustrasi
SriwijayaAktual.com – Apakah sampai sekarang kamu masih beranggapan bahwa gelar S-2, khususnya MBA (Master of Business Administration), akan berpengaruh besar bagi kesuksesan finansialmu?
Apakah
sampai sekarang kamu masih punya keyakinan bahwa untuk disegani dalam
dunia bisnis atau menjadi manager perusahaan yang hebat, kamu perlu
sekolah lagi selepas S-1?
Kalau iya, sudah saatnya kamu berpikir ulang.

Gelar MBA tak selalu berpengaruh pada nominal gajimu

Dalam bukunya yang berjudul “The MBA Bubble“, penulis asal Spanyol sekaligus lulusan MBA sekolah bisnis top internasional Mariana Zanetti berargumen bahwa mengejar gelar Master of Business Administration itu
buang-buang waktu dan uang. Zanetti, yang bekerja untuk Shell sebelum
mengambil program MBA satu tahun di sekolah terkenal Instituto de
Impresa (IE) Madrid, akhirnya bekerja di sebuah perusahaan penjual
furnitur rumah tangga di Spanyol dengan gaji yang mirip.

“Gaji saya memang tinggi, tapi itu bukan karena gelar MBA saya. Itu karena pengalaman saya bekerja di Shell sebelumnya.
Jangan
salah, saya tidak bilang bahwa MBA itu tidak berguna sama sekali. Saya
bertemu banyak profesor genius dan rekan-rekan yang ambisius. Saya pun
mendapatkan banyak ilham tentang bagaimana bisnis berskala global
dijalankan. Tapi, itu semua juga akan saya dapatkan seandainya saya
tetap bekerja di Shell. Saya tidak perlu secara khusus mengambil gelar
ini.”

Wisuda program Master di Harvard Business School via www.nextventured.com
Zanetti memberi perkecualian:

“Memang ada beberapa jenis pekerjaan yang “menuntut” sang pekerja untuk mengambil gelar MBA. Contohnya, management consulting dan investment banking.
Tapi tidak dengan jenis pekerjaan yang lain. Pekerjaan lain lebih
mengutamakan kemampuan serta keahlian spesifik seorang individu
daripada gelar MBA, yang hanya akan memberi seseorang pengetahuan
umum.”

Selain itu, Zanetti menekankan bahwa nominal
gaji bulanan yang kamu terima — seberapa tinggi pun itu — tidak akan
serta-merta membuat kamu menjadi bagian dari masyarakat kelas atas. Hal
ini juga sudah dari dulu ditekankan oleh beberapa penulis yang bukunya
berisi soal kemakmuran dan kekayaan. Jika kamu ingin “naik level” dari
tingkat masyarakat kelas menengah, kamu wajib mencari sumber pemasukan
lain selain gaji bulanan.

Jadi, bagaimana sebenarnya para CEO dan wirausahawan memperoleh kekayaan?

Robert T. Kiyosaki dalam bukunya “Rich Dad, Poor Dad” menjelaskan
bahwa orang kaya tidak bekerja demi uang. Mereka bekerja demi
menghasilkan aset yang nantinya akan “mencari” uang untuk mereka.
Kalau
kamu ingin bekerja demi uang, kuliahlah. Kalau kamu ingin bekerja lebih
keras lagi demi hal tersebut, kamu boleh mengambil gelar master. Tapi
kalau kamu ingin bekerja demi aset, yang nantinya akan mencarikanmu
uang? Gelar akademik yang tercatat dalam CV-mu belum tentu membantu.
Mungkin
banyak dari kamu yang menyangka bahwa para jutawan dan CEO
perusahaan-perusahaan dunia bisa mencapai posisi mereka yang sekarang
berkat kuliah S-2. Padahal dari studi yang dikeluarkan Businessweek,
tidak ditemukan adanya korelasi antara gelar master dengan kesuksesan
finansial. Coba lihat profil para CEO yang perusahaannya terdaftar di
CAC 40 (bursa saham Prancis). Kamu akan menemukan bahwa gelar master itu
cuma pilihan segelintir dari mereka. Itu sama sekali bukan kewajiban.
Wisudawan Pascasarjana UGM via isaninside.net
Di beberapa perusahaan, gelar S-2 memang diwajibkan untuk meraih
jenjang yang lebih tinggi. Tapi ingat, ini tidak berlaku di semua
perusahaan. Dan seperti kata Zanetti tadi: mengandalkan gaji bulanan —
bahkan kalaupun kamu sudah ada dalam jenjang yang tinggi di perusahaan
itu — tidak akan lantas menjadikanmu masyarakat kelas atas.
Jadi gimana caranya supaya bisa kaya? Kalau kamu mau kaya jadilah entrepreneur,
investor, atau jadi kedua-duanya. Kalau kamu mau realistis, hapus
impianmu untuk jadi bintang rock, olahragawan, atau CEO Garuda
Indonesia. Menurut hitung-hitungan statistik, peluang kamu kecil.
Orang-orang terkaya di dunia saat ini adalah entrepreneur yang
tidak punya gelar master. Banyak juga di antaranya yang tidak punya
gelar sarjana sama sekali. Mereka berhenti kuliah setelah menyadari
kuliah cuma mengajari mereka untuk patuh dan jadi karyawan.
Mark Zuckerberg menerima standing ovation dari karyawannya via www.google.co.id
Hari ini, orang-orang tanpa gelar master ini malah membawahi karyawan
yang gelar akademisnya panjang kayak kereta. Contohnya, Mark Zuckerberg
di Facebook, Bill Gates (Microsoft), mendiang Steve Jobs (Apple).
Amancio Ortega (Zara), Sir Richard Branson (Virgin), dan Ingvar Kampard
(Ikea).
Kalau kamu memang masih berminat kuliah S-2, pastikan
tujuanmu bukanlah mau jadi kaya. Misalnya, S-2 akan berguna bagi kamu
yang ingin jadi akademisi, dosen, peneliti, jurnalis, atau
pekerjaan-pekerjaan lain yang menuntut pemahaman ilmu lebih dalam (Hipwee pernah membahas lebih jauh soal manfaat kuliah S-2 disini).
Jadi, gimana pendapatmu sekarang? Apa kamu masih mau kuliah s-2?. (Hipwee)

Komentar

Banyak Berita Terhangat Lainya