oleh

‘Jaringan Pemusnah Pater Beek untuk Hancurkan Islam di Rezim 2 Jokowi Menguat’

loading...
Oleh Djoko Edhi Abdurrahman

KOLOM PEMBACA-OPINI, SriwijayaAktual.com – Pater Beek sudah meninggal 1983. Tapi jaringannya, yang terdiri dari
CIA, Katolik Roma, PMKRI Radikal, Kasebul, Tentara Jesuit, dan CSIS
sendiri sedang dalam masa puncak kemampuan penghancuran, seiring periode
kedua Presiden Jokowi. 
Setelah menghancurkan Komunis Indonesia, target jaringan itu adalah
penghancuran Islam Indonesia. Maka ketika Jokowi naik jadi presiden
kedua kalinya, perhatian saya tercurah ke jaringan pemusnah Pater Beek
yang makin massif. Tadinya dibahas di PN1. Jaringan ini menguasai Densus
88, penyidik KPK, Katolik PDIP, dan kelompok bisnis papan atas
Hoaqiau. 

Dalam sejumlah diskusi, tak ada perbedaan pendapat bahwa jaringan
pemusnah Pater Beek itu, adalah ancaman bagi aktivis Islam. Setelah
komunis dipunahkan, sesuai target Pater Beek, adalah penghancuran
Islam. 

Penghancuran Islam sudah dimulai sejak Orba, dan successfull. PPP
dihabisi oleh Golkarnya Pater Beek, kini tinggal parpol marginal yang
tak punya makna bagi Komunitas Islam. 
Periode Kedua Jokowi, adalah kemenangan jaringan Pater Beek melawan
gerakan Islam dengan PDIP sebagai ruling party yang sukses menundukkan
semua parpol koalisi. Bahkan berhasil menarik Prabowo Subianto, panglima
perang yang kabur dari medan perang 02 itu ke koalisi 01.  Memalukan!
Saya mengutip artikel anonim untuk mengenalkan Pater Beek, pendiri CSIS
dan pendiri Sekbergolkar. Tanpa mengenal Pater Beek, niscaya gagal
memahami peta pertarungan Islam versus Katolik di global village pada
FGD mendatang. Katolik di situ harus dibaca Freemason, juga Barat, yang
sangat paranoid akan bangkitnya Khilafah Islamiyah dari Indonesia,
setelah dua kali Perang Dunia pecah gegara Khilafah Islamiyah. 

Jaringan Katolik itu penting, apakah mereka masih anti komunis, ketika
komunis telah bermutasi menjadi one state two systems. Bentuk nyatanya
terkini, adalah OBOR (One Belt One Road – Satu Sabuk Satu Jalan, Satu
China) dan OBOR Inisiative. Faktanya, Hoaqiau Indonesia malah jadi proxy
RRC. Musuh satu-satunya adalah Islam untuk dihancurkan via sejumlah
jargon radikal: khilafah, terorisme, takviri.

“Gereja harus berperan dalam mengatur Negara, kemudian mengalokasikan
orang-orang yang tepat untuk bekerja di dalam dan melalui Negara”, kata
Pater Beck Josephus Gerardus van Beek. 
Pater Beek lahir di Amsterdam, 12 Maret 1917, meninggal di Jakarta, 17
September 1983 pada usia 66 tahun. Ia  pastor Yesuit (Katolik Roma),
dikenal dengan panggilan Pater Beek. Kemampuannya kurang lebih sama
dengan Van Der Plass, arsitek Indonesia RIS (Republik Indonesia
Serikat). Pater Beek juga dianggap lanjutan Van Der Plass.

Pater Beek lahir di Amsterdam, Belanda, sebagai bungsu dari empat
bersaudara. Ia bungkas  ketika Perang Dunia I meletus. Sejak anak-anak
ia dididik di kolese yang dikelola oleh imam-imam Yesuit. Setelah itu
masuk ke Serikat Yesus dan menjadi novisiat tahun pertama di Mariendaal,
Grave, pada 7 September 1935. 

Novisiat tahun kedua, 1937, dijalaninya di Girisonta, Indonesia. Ketika
menjadi novis (siswa novisiat), semangat mudanya dikobarkan dengan
gairah pergi ke tanah misi, Hindia Belanda, tanah jajahan Pemerintah
Kerajaan Belanda, negerinya.

Ketika Jepang menduduki Indonesia, Pater Beek sempat menghuni kamp
interniran di Kesilir, Banyuwangi (1943), kamp Banyubiru, Semarang
(1944), kamp Cikudapateuh, Bandung (1945), dan kamp Pundong, Bantul
(1946).

Meskipun ia rohaniwan, berkewarga negaraan asing, Pater Beek lama
bertugas di Indonesia. Ialah otak pembentukan lembaga CSIS (Center for
Strategic and International Studies) pada 1 September 1971.
Ketika politik Indonesia dikuasai Komunis, ia menggalang aliansi dengan
TNI dan melahirkan Sekbergolkar (Sekretaris Bersama Golongan Karya),
cikal bakal Golkar.

Pater Beek menulis surat terbuka monumental kepada Presiden Soekarno.
Surat kritik tajam terhadap kebijakan Presiden Soekarno itu, memberi
tekanan terhadap PKI. Ia menggunakan nama samaran Dadap Waru, bertanggal
5 November 1965. Isi surat itu agar Bung Karno bersikap tegas menindak
PKI.

Selain pernah sebagai Kepala Asrama Realino, Pater Beek juga turut
mengawali Biro Dokumentasi. Biro Dokumentasi adalah biro Serikat Yesus
Provinsi Indonesia pada tahun 1961 semasa Pater Georgius Kester menjadi
Provinsial. Biro itu menyediakan bahan studi dan analisis keadaan
berdasarkan tolok ukur ajaran dan moralitas Katolik untuk digunakan
aktivis.

Dalam kegiatannya, biro itu menyiarkan dokumen mengenai kebijakan
pemerintah dan evaluasi atas berbagai kejadian penting di Indonesia. Apa
yang dilakukan Biro Dokumentasi itu kemudian menjadi asupan bagi
masyarakat, khususnya umat Katolik di Indonesia, untuk menghadapi
perkembangan sosial, politik masyarakat, serta bersikap kritis terhadap
pemerintah. 

Analisis yang dihasilkan Biro Dokumentasi kemudian diedarkan kepada
aktivis yang terlibat dalam Front Pancasila dan Sekbergolkar. Biro itu,
antara lain, menghasilkan kajian tentang sosialisme yang
mempertemukannya dengan intepretasi gagasan sosialisme yang disodorkan
PKI.

Vatikan kemudian memindahkan Beek dari Indonesia karena diminta oleh
Kabakin, waktu itu Letjen Soetopo Yuwono. Beek kembali lagi ke Indonesia
pada 1974. Ia meninggal 17 September 1983 di RS Saint Carolus, Jakarta,
dalam usia 66 tahun. Ia dimakamkan di Giri Sonta, kompleks pemakaman
dan peristirahatan ordo Serikat Yesus di Ungaran, Semarang, Jawa Tengah.

Agen CIA
Fakta bahwa Beek adalah agen CIA, selain diungkap di buku “Pater Beek,
Freemason dan CIA” dikemukakan pula oleh Dr. George J. Aditjondro
(penulis yang juga mantan anak buah Beek), dalam artikel berjudul “CSIS,
Pater Beek SJ, Ali Moertopo, dan LB Moerdani”.

Di artikel itu, George menulis: “Menurut cerita dari sejumlah pastur
yang mengenalnya lebih lama, (Pater) Beek adalah pastur radikal
anti-Komunis yang bekerja sama dengan  pastur yang pengamat China
bernama Pater Ladania di Hongkong” (sudah meninggal beberapa tahun silam
di Hongkong).
Pos China watcher (pengamat China) pada umumnya dibiayai CIA. Maka,
tidak sulit untuk dimengerti jika Beek mempunyai kontak yang amat bagus
dengan CIA.

Sebagian pastur mencurigai Beek sebagai agen Black Pope di Indonesia.
Black Pope adalah seorang kardinal yang mengepalai operasi politik
Katolik di seluruh dunia. 

Fakta yang diungkap George didukung disertasi Mujiburrahman berjudul
“Feeling Threatened Muslim-Christian Relations in Indonesia’s New Orde”.
Dalam buku “Pater Beek, Freemason dan CIA”, Sembodo mengatakan, mereka
yang digerakkan Beek untuk membentuk organisasi-organisasi itu, adalah
mahasiswa Katolik yang telah dipersiapkan melalui Kasebul (Kaderisasi
Sebulan), seperti misalnya Sekjen DPP PDIP,  Hasto Christianto,
contohnya.

Melalui Kasebul, Beek menciptakan banyak kader radikal militan untuk
memperjuangkan misi Katolik, yang terpenting  pada masa ORBA adalah
untuk menghancurkan kekuatan politik Islam di Indonesia, memarginalisasi
umat Islam dan menyingkirkan umat Islam Indonesia dari peran strategis
pemerintahan dan negara.

Sebagai tindak lanjut, pada 3 Oktober 1965 para mahasiswa itu membentuk
Kesatuan Aksi Pengganyangan GESTAPU (KAP-GESTAPU) yang, pada 23 Oktober
1965 berganti nama menjadi Front Pancasila. Ketua umumnya Subchan ZE
(Ketua PBNU, yang akhirnya terbunuh di Mekkah) dan Sekjennya Harry Tjan
Silalahi, kader Beek.

Setelah Front Pancasila terbentuk, organisasi lain juga terbentuk. Di
antaranya KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), KAPI (Kesatuan Aksi
Pelajar Indonesia), KAPMI (Kesatuan Aksi Pemuda Mahasiswa Indonesia),
KAPPI (Kesatuan Pemuda Pelajar Indonesia), KABI (Kesatuan Aksi Buruh
Indonesia), KASI (Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia), dan KAGI (Kesatuan
Aksi Guru Indonesia).

Bersama Front Pancasila, organisasi itu melakukan demonstrasi menuntut pembubaran PKI berikut semua organisasi underbouw-nya. 
Tuntutan mereka dipertegas dalam Resolusi Front Pancasila saat Rapat
Raksasa Pengganyangan Kontra Revolusi pada 9 November 1965 di Lapangan
Banteng, Jakarta. Resolusi ini antara lain berisi tuntutan agar PKI
dibubarkan dan tokoh-tokohnya diajukan ke pengadilan. Resolusi
diserahkan secara langsung kepada wakil pemerintah yang hadir di tempat
itu.

Dari semua organisasi mahasiswa tersebut, yang paling fenomenal adalah
pembentukan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) karena organisasi
yang dibentuk pada 25 Oktober 1965 ini merupakan organisasi yang
dibentuk berkat kesepakatan sejumlah organisasi yang berhasil
dipertemukan oleh Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pendidikan (PTIP),
Mayjen dr. Syarief Thayeb.

Organisasi-organisasi tersebut adalah HMI (Himpunan Mahasiswa Islam),
PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), GMKI (Gerakan Mahasiswa
Kristen Indonesia), SOMAL (Sekretariat Bersama Organisasi-organisasi
Lokal), Mahasiswa Pancasila (Mapacas), dan IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa
Indonesia).

‘Bermainnya tangan’ Beek di organisasi ini terlihat dari dominasi kader
pastur itu di organisasi ini. Bahkan ketua presidium organisasi ini
adalah kader Pater Beek, yakni Cosmas Batubara.

Sembodo menegaskan, Cosmas termasuk kader Beek yang giat menggalang aksi
mahasiswa untuk mempercepat tergulingnya Soekarno dan hancurnya PKI.
Sembodo bahkan berani menyebut bahwa KAMI-lah organisasi yang menjadi
poros utama Beek untuk menciptakan puting beliung yang menghancurkan
Soekarno dan PKI.

Masih menurut Sembodo dalam buku ‘Pater Beek, Freemason dan CIA’, Van
den Heuval dalam laporan-laporannya menjelaskan, Beek mulai menggalang
kekuatan mahasiswa sejak mengajar di Universitas Atmajaya. Dari sini ia
membangun sel di kalangan mahasiswa dengan menyadari, selain tentara,
mahasiswa merupakan kekuatan besar yang dapat digerakkan. Terbukti,
ketika para pendukung Soekarno, terutama tentara, bereaksi, mahasiwalah
yang dikerahkan untuk memukul balik reaksi itu.

Peranan Beek dalam pengorganisasian mahasiswa untuk menggulingkan
Soekarno, dibenarkan ISAI melalui hasil investigasinya yang
dipublikasikan dalam buku berjudul “Bayang-bayang PKI”.

“Selama bertahun-tahun Pater Beek telah menghimpun dan membina anak-anak
muda, terutama mahasiswa, untuk ditempa sebagai kekuatan anti-Komunis.
Basis utamanya adalah PMKRI (Pergerakan Mahasiswa Katolik Republik
Indonesia) yang saat itu merupakan underbouw Partai Katolik. Tokoh-tokoh
PMKRI pula yang kemudian banyak terlibat dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa
Indonesia (KAMI). 

Dengan pengaruh dan jaringan anti-Komunis yang kuat itu, tak heran
banyak dugaan bahwa Pater Beek memainkan peranan penting dalam gerakan
anti-Komunis. Antara lain, ia sering disebut sebagai penghubung antara
AD dengan CIA.

Strategi KAMI untuk menggulingkan Soekarno sangat halus. Pada awal
gerakan, organisasi ini seolah mendukung sang the founding father dan
hanya menuntut pembubaran PKI.

Akan tetapi  ketika Soekarno tidak memedulikan tuntutan itu, maka
strategi diubah. Mereka mulai melancarkan perang terbuka terhadap
Soekarno dengan cara menggelar demonstrasi secara bertubi-tubi untuk
mendesak Soekarno mengundur diri sebagai presiden. Soekarno tentu saja
naik pitam dan meminta agar KAMI dibubarkan.

Saat KAMI terpojok, Beek segera mengefektifkan sel-selnya yang telah ditanam di pemerintahan.

Dalam buku berjudul “Army and Politics in Indonesia”, Harold Crouch
memaparkan, alih-alih membubarkan KAMI, Ali Moertopo justru memindahkan
markas organisasi itu dari kampus UI ke Komando Tempur II Kostrad di
mana Opsus (Operasi Khusus) yang dipimpin Ali Mutopo berkantor. 

Seperti mendapat perlindungan, pemimpin KAMI, Cosmas Batubara menjadi
aman di sana. Bahkan dari sana pula gerakan KAMI dapat ‘dikendalikan’
oleh Ali Murtopo, dan kembali dikobarkan.

Ali Murtopo tidak sendiri mengobarkan kembali aksi KAMI itu. Ia dibantu Kemal Idris dan Sarwo Edhi.

Bahkan agar terkesan gerakan KAMI mendapat dukungan luas dari masyarakat
dan jumlah peserta demonstrasi semakin lama semakin banyak, Ali Murtopo
membagi-bagikan jaket kuning yang serupa dengan jaket almamater UI,
kepada mahasiswa dari kampus lain agar mereka dapat ikut serta berdemo.
Crouch menyebut, jaket itu berasal dari CIA.

Tentang pembagian jaket almamater UI palsu itu diungkap Manai Sophian di
buku “Bayang-bayang PKI” Katanya: “Saya punya dua jaket kuning yang
didatangkan dari Hawai itu. Saya simpan, akan saya kasih tunjuk kalau
ada orang yang tidak percaya. Jaket kuning itu dipakai anak-anak sekolah
di Amerika menjelang musim dingin dan dipakai juga oleh sheriff. Lantas
didatangkan ke sini. Dan oleh Ali Murtopo disuruh dibagi-bagikan. Jaket
kuning ini memang bukan jaket kuning UI”.

Ketika akhirnya Soekarno benar-benar membekukan KAMI, Ali Murtopo
membentuk dua organisasi baru untuk melancarkan demonstrasi
anti-Soekarno selanjutnya, yaitu KAPPI dan Laskar Arif Rahman Hakim.
Demonstrasi besar-besaran inilah yang memaksa Soekarno mengeluarkan
Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar), surat yang aslinya hingga
kini masih misterius keberadaannya, dan menjadi pertanda awal kejatuhan
sang the founding father.

Hebatnya, hanya dalam waktu kurang dari dua tahun, Soeharto mampu
melumpuhkan partai yang beranggotakan sekitar 20 juta orang. Dalam buku
“Pater Beek, Freemason dan CIA”, Sembodo menyatakan bahwa keberhasilan
Soeharto itu tak lepas dari campur tangan Beek.

Melalui Ali Murtopo, Beek menyerahkan 5.000 nama pentolan PKI dari
tingkat pusat hingga daerah, termasuk Madiun yang menjadi salah satu
basis PKI, kepada CIA. Oleh Dinas Intelijen Amerika Serikat itu, data
diserahkan kepada Soeharto agar orang-orang yang namanya tercantum dalam
daftar itu ditangkap.

Hal ini terungkap setelah wartawati Amerika Serikat, Kathy Kadane,
mewawancarai mantan pejabat Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta,
pejabat CIA, dan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. 

Mantan pejabat Kedutaan Besar Amerika Serikat, Lydman, mengakui kalau
pengumpulan nama-nama orang PKI selain dilakukan oleh stafnya, juga
dibantu oleh Ali Murtopo yang kala itu menjabat sebagai kepala Opsus.
Dengan dua cara ini, maka 5.000 nama pentolan PKI terkumpul.

Mengapa Ali Murtopo menyerahkan dulu daftar itu kepada CIA, dan tidak
langsung saja kepada Soeharto? Jawabannya jelas, karena Ali Murtopo
adalah anak buah Beek, dan selain anggota Freemason, Beek adalah anggota
CIA.

Jadi, sebelum daftar itu digunakan oleh Soeharto, CIA harus
men-screening-nya dulu agar tidak ada nama yang sebenarnya merupakan
bagian dari CIA, ikut terbantai.

Jejak Beek mungkin bisa dilacak dari perlakuan Soeharto selanjutnya
kepada Soekarno. Setelah tidak lagi menjadi presiden, Soeharto
menjadikan Soekarno sebagai tahanan politik, dan mengisolasinya dari
dunia luar. Ketika Soekarno meninggal pada 21 Juni 1970, Soeharto juga
tidak mau memenuhi amanat Soekarno untuk memakamkannya di Istana Batu
Tulis, Bogor. Melalui Keppres RI No. 44 Tahun 1970, Soekarno dimakamkan
di kota kelahirannya, Blitar, Jawa Timur.

Menghancurkan Islam!
Setelah Soekarno dihabisi, selanjutnya, melalui tangan Soeharto, Islam menjadi sasaran berikutnya yang dihabisi oleh Pater Beek.

Naiknya Soeharto menjadi presiden tak ubahnya bagai kunci pembuka jalan
yang mempermudah misi Pater Beek selanjutnya: menghancurkan Islam!

Maka tak heran jika selama hampir 20 tahun pertama  Orde Baru
(1967-1987) banyak terjadi peristiwa yang menyakiti dan merugikan umat
Islam.

Dalam buku “Pater Beek, Freemason dan CIA”, Sembodo mengatakan untuk
mencapai misinya ini, Beek menggunakan konsep Gereja dalam ‘mewarnai
kehidupan di bumi’, yakni berperan aktif dalam berbagai lini kehidupan
bernegara.

Ia mengacu pada tulisan Richard Tanter yang bunyinya: “Visi (Pater) Beek
pribadi atas peran Gereja, Gereja harus berperan dalam mengatur Negara,
kemudian mengalokasikan orang-orang yang tepat untuk bekerja di dalam
dan melalui Negara”.

Dari visi ini, tegas Sembodo, jelas sekali bahwa Pater Beek mempunyai
kehendak untuk ‘mewarnai’ kehidupan politik di Indonesia dengan
‘mengalokasikan orang-orang yang tepat untuk bekerja di dalam dan
melalui negara’.

Dengan kata lain, Beek menempatkan banyak orang-orangnya di berbagai
posisi strategis di dalam pemerintahan Orde Baru, era pemerintahan
Soeharto.

Dengan konsep seperti ini, maka dikembangkanlah konsep Negara yang oleh
Daniel Dhakidae dalam bukunya yang berjudul “Cendekiawan dan Kekuasaan
dalam Negara Orde Baru”, disebut sebagai ‘Negara Organik’.

Menurut Daniel, konsep ini merujuk pada ajaran Thomas Aquinas, yaitu
adanya jaminan ketenteraman lewat suatu pemerintahan yang ‘keras’, yang
mempunyai kemampuan memerintah dan kemampuan memaksa. Konsep negara
organik seperti ini akan menolak paham liberalisme dan sosialisme,
karena paham liberalisme dianggap memberikan tempat istimewa bagi
pribadi, sedangkan sosialisme dianggap menghalalkan perjuangan kelas
yang akan menghancurkan tatanan Negara organik.

Di atas konsep seperti itu lah awalnya Orde Baru dibangun. Sebagai
sebuah negara organik, Orde Baru mempunyai dua ciri yang menonjol, yakni
hirarki (sentralistik) dan harmonisme.

Agar Negara kuat, maka harus dipegang secara hirarkis di mana yang
paling atas memegang kontrol, terhadap orang-orang di bawahnya.
Sementara untuk menjaga ketenteraman, maka harmonisme harus dijaga
dengan cara sebisa mungkin menghilangkan perbedaan pendapat, dan setiap
permasalahan diselesaikan secara musyawarah.

Dua perwira TNI AD yang didekati Beek adalah Yoga Sugama dan Ali
Murtopo. Kedua orang ini direkrut karena dinilai memiliki kriteria
sesuai yang ia butuhkan. Apalagi karena kedua orang inilah yang
mendukung Soeharto menjadi Panglima Divisi Diponegoro. Dukungan
diberikan saat Soeharto masih menjabat sebagai Komandan Resimen
Yogyakarta. Jadi, setelah mendapatkan pion utama untuk menyukseskan
misinya, Beek mendapatkan pembantu-pembantu pion utamanya itu. Maka
lengkap sudah pion-pion yang ia butuhkan. Tinggal mencari pion-pion
pendukung lain sebagai kacung-kacung ketiga pion ini.

Beek mengenal sosok Yoga Sugama dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik
Republik Indonesia (PMKRI), salah satu organisasi yang menjadi
tunggangannya dalam menyukseskan misi-misinya. Organisasi ini bahkan
ikut memiliki peranan penting dalam penggulingan Soekarno.

Karir Yoga seluruhnya dihabiskan di dunia yang sepak terjangnya selalu dilakukan secara diam-diam dan sulit dilacak itu. 

Selain di Jepang, ia pernah mendapat pendidikan intelijen di Inggris
pada 1951. Kehebatannya dalam dunia yang satu ini, juga sifatnya yang
cenderung machiavelis (menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan),
sesuai yang dibutuhkan Pater Beek. Apalagi karena untuk dapat
menyukseskan misi-misinya, Beek memang harus melakukan gerakan seperti
layaknya seorang intel.

Meski ia seorang pastur, predikat itu hanya alat untuk mencapai
misi-misinya. Itu sebabnya dalam lembaran sejarah Indonesia yang
diajarkan di sekolah-sekolah maupun di perguruan tinggi-perguruan
tinggi, nama ini tidak pernah sekali pun muncul karena ia memang tak
pernah memunculkan dirinya secara terang-terang dalam beragam peristiwa
di Indonesia, termasuk dalam peristiwa G-30S/PKI maupun
peristiwa-peristiwa besar lainnya.
Beek mengenal sosok Ali Mutopo juga dari PMKRI. Di mata Beek, Ali adalah
sosok yang ambisius dan machiavelis, sosok yang dibutuhkannya. Apalagi
karena Ali juga bukan seorang Muslim yang taat, meski berasal dari
keluarga santri. Seperti Soeharto, Ali dikenal sebagai penganut ajaran
kejawen atau Islam abangan. Mengenai hubungan Ali Murtopo dengan Beek,
Dr. George J. Aditjondro memberikan penjelasan: Banyak yang tak percaya
kalau Ali Murtopo (yang berasal dari keluarga santri di pesisir Pulau
Jawa) bisa menjadi orang yang sangat anti Islam dan berjasa besar dalam
menindas orang Islam di awal Orde Baru. Yang orang cenderung lupa
adalah, bahwa Ali Murtopo punya rencana berkuasa. Oleh karena itu, semua
yang merintanginya untuk mencapai tujuannya haruslah ditebas habis.
Musuhnya bukan cuma Islam, tapi juga perwira-perwira ABRI yang
dianggapnya sebagai perintang, seperti HR Dharsono, Kemal Idris, Sarwo
Edhi Wibowo, dan Soemitro (Pangkopkamtib). Almarhum HR Dharsono (Pak
Ton) difitnahnya berkonspirasi dengan orang-orang PSI untuk menciptakan
sistem politik baru untuk menyingkirkan Soeharto. Kemal Idris dituduhnya
berambisi jadi presiden. Sedang Sarwo Edhi difitnahnya merencanakan
usaha menajibkan (menendang ke atas) Soeharto.

Maka jelas apa yang membuat Beek merasa cocok merekrut orang ini. Di
kemudian hari terbukti bahwa Ali Murtopo merupakan ‘abdi’ Beek yang
setia, yang patuh pada apapun perintah Beek untuk menghancurkan Islam
yang merupakan agama Ali Murtopo sendiri.

Untuk mencapai tujuan yang besar, maka dibutuhkan modal dan sarana yang
besar pula. Pater Beek tentu menyadari hal ini, sehingga menjadikan
Soeharto, Yoga Sugama dan Ali Murtopo saja tidak cukup, maka harus ada
pion-pion yang menjadi pendukung ketiga pilar utamanya ini agar tujuan
tercapai.

Sebelum dan selama mendekati Soeharto, Yoga Sugama, dan Ali Murtopo,
Beek juga mendekati orang-orang di luar institusi militer. Di antaranya
adalah mahasiswa yang dalam beberapa peristiwa, terbukti dapat dijadikan
motor paling efektif untuk melancarkan sebuah gerakan dan membuat
perubahan.

Bagi Beek, merekrut mahasiswa Islam untuk menjadi ‘anggota pasukannya’
tentulah tidak mudah. Maka dengan didukung agen-agen CIA dan Freemason
yang lain, ia menggarap mahasiswa Katolik. Maka berdirilah PMKRI pada 25
Mei 1947.

Dalam buku “Pater Beek, Freemason dan CIA”, Sembodo menulis, berdirinya
PMKRI bermula dari hasil fusi Federasi Katholieke Studenten Vereniging
(KSV) dan Perserikatan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI)
Yogyakarta. Kala itu Federasi PSV memiliki cabang di beberapa kota di
Indonesia, yakni KSC St. Bellarminus Batavia yang didirikan di Jakarta
pada 10 November 1928, KSV St. Thomas Aquinas Bandung yang didirikan
pada 14 Desember 1947, dan KSV St. Lucas Surabaya yang didirikan pada 12
Desember 1948.

Federasi KSV yang didirikan pada 1949 diketuai Gan Keng Soei (KS Gani)
dan Ouw Jong Peng Koen (PK O Jong). Sedang PMKRI Yogyakarta yang
didirikan pada 25 Mei 1947 diketuai pertama kali oleh St. Munadjat
Danusaputro.

Di antara tokoh-tokoh PMKRI yang menonjol di era Demokrasi Terpimpin
Soekarno adalah dua bersaudara Liem Bian Koen (Sofian Wanandi) dan Liem
Bian Kie (Jusuf Wanandi).

Menurut Mujiburrahman dalam desertasi bertajuk ‘Feeling Threatened
Muslim-Christian Releations in Indonesia’s New Orde’, kedua bersaudara
ini merupakan kader utama Beek di PMKRI. 

Kedua orang ini merupakan motor gerakan mahasiswa untuk menggulingkan
Soekarno dan membasmi PKI. Setelah kedua ‘musuh’ tersebut dihancurkan,
mereka kemudian mengorganisasikan penindasan terhadap Islam.

Selain kedua bersaudara tersebut, dalam desertasi Mujiburrahman, juga
menyebut kader Beek yang lain, yakni Cosmas Batubara dan Harry Tjan
Silalahi. 

Di era Orde Baru, Cosmas menduduki berbagai jabatan penting, termasuk
menteri. Ia kelahiran Simalungun 19 September 1938 lulusan Perguruan
Tinggi Publisistik Jakarta dan FISIP UI yang aktif di PMKRI sejak masih
kuliah. Ia bahkan sempat menjadi ketua umum organisasi itu.

Harry Tjan Silalahi yang lahir di Jogjakarta pada 11 Februari 1934
pernah menjabat sebagai sekjen Partai Katolik. Ia aktif berorganisasi
sejak masih SMA, dimana kala itu ia menjadi anggota Chung Lien Hui,
organisasi keturunan Tionghoa. 

Di bawah kepemimpinannya, organisasi itu berganti nama menjadi Persatuan
Pelajar Sekolah Menengah Indonesia (PPSMI). Ia juga aktif di Ikatan
Pemuda Pelajar Indonesia.

Setelah lulus SMA, Harry pindah ke Jakarta dan kuliah di Fakultas Hukum
UI. Ia lulus pada 1962. Selama kuliah, ia aktif di perkumpulan Sin Ming
Hui dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), dan
terpilih menjadi sekjen. Dari sini lah ia dikenal Pater Beek dan
direkrut.

Selain menggarap mahasiswa di dalam negeri, melalui Ali Moertopo, Beek
juga menggarap mahasiswa Indonesia yang tengah menuntut ilmu di luar
negeri.

Mahasiswa-mahasiswa ini kelak akan menjadi bagian dari CSIS (Center for
Strategic and International Studies) yang menjadi think thank Orde Baru
dalam setiap kebijakan, khususnya terkait upaya merginalisasi dan
penyingkiran umat Islam di seluruh sektor kehidupan bangsa.

Tentang pembangunan jaringan ini diungkap sendiri oleh Harry Tjan
Silalahi dalam tulisan berjudul “Centre Lahir dari Tantangan dan Jaman” :

“Bapak Ali Moertopo almarhum mendorong para aktivis di dalam negeri
untuk mengadakan kontak kerjasama dengan para aktivis mahasiswa di luar
negeri tersebut.

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Eropa Barat, seperti antara lain
di Perancis, yang waktu itu dipimpin Daoed Joesoef, PPI Belgia yang
diketuai Saudara Surjanto Puspowardojo, PPI Swiss yang dipimpin oleh
Saudara Biantoro Wanandi, demikian pula PPI Jerman Barat yang dipimpin
oleh Saudara Hadi Susanto, telah mengambil sikap seperti yang
ditunjukkan para mahasiswa dan sarjana yang ada di Indonesia”.

Menurut M. Sembodo dalam buku “Pater Beek, Freemason, dan CIA”, para
mahasiswa dan pemuda-pemuda Katolik tersebut kemudian diberi pelatihan
oleh Pater Beek yang dikenal dengan sebutan Kaderisasi Sebulan (Kasbul),
untuk dijadikan ‘laskar Kristus’ yang menjalankan Kristenisasi di
Indonesia secara besar-besaran. 

Dalam pikiran mereka ditanamkan doktrin bahwa Islam adalah musuh, Islam
adalah agama pedang, Islam adalah perampok Yerusalem, Islam adalah
perebut Konstantinopel, dan Islam adalah agama
anti-Kristus.Tuduhan-tuduhan ngawur.

Apa saja pelajaran yang diberikan kepada para mahasiswa dan pemuda itu,
Richard Tanter mengemukakan: “(Pater) Beek menyelenggarakan
kursus-kursus satu bulanan secara reguler bagi mahasiswa, aktivis,
maupun kaum muda pedesaan. Dengan menghadirkan pastur maupun rohaniawan,
sebagai bagian dari program kaderisasi; pelatihan keterampilan
kepemimpinan, kemampuan berbicara di hadapan publik, keterampilan
menulis, ‘dinamika kelompok’, serta analisis sosial”.

Sedang Cosmas Batubara menjelaskan begini; “Beliau (Pater Beek) hanya
memberikan training-training untuk menghadapi Komunis. Kita didoktrin
agar kuat melawan Marxisme-Leninisme. Juga diajarkan bagaimana kelompok
Komunis itu beraksi, dan bagaimana menghadapi mereka. Itu kami pelajari.
Kalau tidak, bagaimana kami bisa melawan CGMI”.

Apa yang dikatakan Cosmas ini membenarkan adanya Kasebul, namun
membantah menyerang Islam. Namun Richard Tanter mengungkapkan begini;
“Bagi (Pater) Beek, ada dua musuh besar, baik bagi Indonesia maupun
Gereja, adalah Komunisme dan Islam, dimana ia melihat keduanya memiliki
banyak keserupaan; sama-sama memiliki kualitas ancaman”.

Jadi, jelas, Beek memang menggunakan ‘pasukannya’ untuk terlebih dahulu
menghancurkan Komunis di Indonesia, dan setelah itu Islam. Tanter
mengatakan begini;“Pasca 1965, posisi militan yang anti-Islam digaungkan
dengan arus dominan yang berlaku dalam kepemimpinan Angkatan Darat
ketika itu. Indonesia yang diidealkan Beek adalah Indonesia yang
nasionalistik, non-Islamik, dengan golongan Kristen mendapatkan tempat
yang istimewa”.

Dengan metode menggunakan mahasiswa sebagai ‘pasukan tempur’, Pater Beek
sukses menghancurkan dua musuh sekaligus, Komunis dan Islam, dan bahkan
waktu kemudian membuktikan bahwa setelah itu Kristenisasi berjalan
dengan mulus di Indonesia. Tentu saja, setelah Soeharto menjadi
presiden.

Islam Korban Rezim Orba 
Sejak Suharto naik ke puncak kekuasaan menjadi Presiden RI, Beek leluasa menjalankan misi utama berikutnya: Menghancurkan Islam.

Ketergantungan Soeharto kepada Amerika, posisi Beek sebagai Pastur
Jesuit dan agen CIA memudahkan dirinya memberikan masukan dan nasihat
mengenai kebijakan pemerintah ORBA.

Berdasarkan pengakuan Beek, dia bertindak selaku konsultan pribadi Soeharto sejak 1966 sampai 1983 menjelang kematiannya.

Untuk memastikan Soeharto selalu menjalankan masukan dan pertimbangan
Gereja Katolik, walau Beek sedang tidak berada di Indonesia, pada 1
September 1971 didirikan CSIS. Hadi Soesatro, Harry Tjan Silalahi, Jusuf
Wanandi, Ali Moertopo, Soedjono Hoemardani dan Benny Moerdani menjadi
penasihat dan konsultan Soeharto ketika Beek berada di luar negeri.

Sekembalinya Beek dari Amerika pada 1974, dia telah menyiapkan rencana
strategis jangka panjang untuk memastikan pemerintah ORBA berjalan
sesuai misinya. 

Pada 17 September 1983 Beek meninggal dunia. Misinya menghancurkan
politik Islam dan marginalisasi umat Islam Indonesia diteruskan CSIS dan
para kadernya.

Sejak 1971 sampai 1987 Rezim Orba berhasil menghancurkan politik Islam
dan menempatkan umat Islam Indonesia sebagai kelompok paria dalam semua
sektor kehidupan.

Perubahan sikap dan kebijakan Soeharto kepada umat Islam pada 1988 di
mana CSIS ditinggalkan Soeharto, Benny Moerdani disingkirkan dan umat
Islam mulai dirangkul Soeharto, menimbulkan kemarahan besar dan rencana
penjatuhan Soeharto oleh CSIS dan Sofyan Wanandi dan seluruh kader
Kasebul.

Soeharto Tumbang 
Setelah bertahun-tahun berupaya menjatuhkan Soeharto yang berhubungan
mesra dengan umat Islam, kesempatan emas menjatuhkan Soeharto terbuka
lebar dengan bergabungnya James Riady teman karib Bill Clinton Presiden
AS.

Setelah melalui pengondisian dengan berbagai cara: penyebaran fitnah KKN
Soeharto dan Keluarga Cendana, Penunggangan penculikan aktivis yang
dilakukan Tim Mawar dengan kasus lain yaitu penghilangan paksa 14 orang,
sabotase ekonomi, perampokan BLBI, sampai mendorong aksi demo mahasiswa
di kampus – kampus Katolik – Kristen dan merekayasa terjadinya
kerusuhan Mei 98, akhirnya Soeharto mengundurkan diri 21 Mei 1998.
CSIS dan kelompok Kasebul bersama konglomerat Tionghoa kembali berkuasa
penuh seperti era ORBA 1971 – 1988 melalui terpilihnya Jokowi sebagai
Presiden.

CSIS kembali menjadi think tank pemerintah dan meneruskan misi utamanya
menghancurkan politik Islam dan marginalisasi umat Islam Indonesia. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed