oleh

‘KEBANYAKAN NONTON SINETRON’

Aulia Kesuma kebanyakan nonton sinetron via https://megapolitan.kompas.com

Pengakuan Mengejutkan
Wanita Pembakar Suami dan Anak di Sukabumi: Terpengaruh dari Sinetron
SriwijayaAktual.com – Bulan Agustus 2019 kemarin, masyarakat Sukabumi dikagetkan dengan penemuan
dua jasad manusia dalam sebuah mobil yang terbakar habis. Setelah proses
evakuasi dilakukan, terungkap kalau jenazah
malang itu adalah bapak dan anak bernama Edi Chandra Purnama alias
Pupung Sadili dan M Adi Pradana alias Dana. Nyawa keduanya melayang di
tangan wanita yang bernama Aulia Kesuma, yang notabene adalah istri
Pupung dan ibu tiri Dana.
Aulia yang merupakan otak pembunuhan
keji itu, menyewa jasa 4 pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa Pupung
dan Dana. Ia juga yang membuat skenario seolah-olah kedua korban itu
mengalami kecelakaan dan mobilnya jatuh ke jurang. Tapi, entah kurang
latihan atau gimana, semua rencananya nggak berjalan dengan mulus. Belum
lama, Aulia membuat pengakuan mengejutkan lain. Katanya, rencana
pembunuhannya itu terpengaruh sinetron!
Publik
tak henti-hentinya mengutuk perbuatan jahat Aulia Kesuma kepada suami
dan anak tirinya. Nggak hanya membunuh, ia juga membakar jasad keduanya
dengan maksud menghilangkan jejak
Mobil yang dibakar Aulia bersama jasad suami dan anaknya via www.grid.id
Bulan Agustus lalu, publik dikejutkan dengan peristiwa pembunuhan
keji yang dirancang seorang wanita untuk suami dan anak tirinya. Aulia
Kesuma, otak pembunuhan itu menyewa pembunuh bayaran dan
mengiming-imingi para eksekutor itu dengan uang Rp500 juta. Motif
pembunuhan itu kabarnya karena Aulia ingin menguasai harta suaminya
untuk membayar utang Rp10 miliar.
Tapi sayang, rencana Aulia
membakar jasad suami dan anaknya di dalam mobil dan mendorong mobil itu
ke jurang, demi menghilangkan jejak, kurang berjalan mulus. Anak kandung
Aulia yang bernama Geovani Kelvin yang ikut membantunya, malah kena
percikan api dan menderita luka bakar. Sedang dua diantara 4 eksekutor
–Kusmawanto Agus dan Muhammad Nur Sahid– telah berhasil ditangkap polisi
di Lampung, Selasa 27 Agustus lalu.
Sampai sekarang, polisi
masih terus mendalami kasus ini. Baru-baru ini, Aulia dipertemukan
dengan para wartawan di Kepolisian Daerah Metro Jaya untuk melakukan
konferensi pers
Aulia saat membuat pengakuan mengejutkan via megapolitan.kompas.com
Selasa, 3 September kemarin, Aulia melakukan jumpa pers di Kepolisian
Daerah Metro Jaya. Di sana Aulia membuat pernyataan dan pengakuan, yang
setiap perkataannya rasanya mampu membuat siapapun bertanya-tanya: kok
bisa sih melakukan perbuatan sejahat itu?? Bahkan ia mengaku sempat
mengucap ‘alhamdulillah’ saat berhasil membunuh kedua korban!
Tapi ada satu pengakuan Aulia yang semakin bikin kita nggak habis pikir. Katanya, seperti dilansir dari Detik,
rencana pembunuhan atau skenario Aulia itu terinspirasi dari sinetron!
Awalnya, Aulia bermaksud membakar dua jasad korbannya di dalam rumah,
tapi rencana itu gagal. Di tengah situasi terjepit, Aulia akhirnya
memutuskan buat membawa korbannya ke suatu tempat untuk kemudian dibakar
di dalam mobil lalu mobilnya didorong masuk jurang. Namun lagi-lagi
rencananya berantakan setelah anaknya sendiri ikut terbakar, yang
membuatnya harus dirawat di RS sampai saat ini.

Karma does exist ya…

Inspirasi tindak kejahatan yang muncul dari tayangan TV itu semakin
diperkuat dengan pendapat psikolog, bahwa kebanyakan nonton adegan
kekerasan bisa berakibat tumpulnya empati
Tayangan kekerasan menumpulkan empati via www.viva.co.id
Orang yang sering terpapar adegan-adegan kekerasan, kejahatan, atau
kebencian di layar kaca, lambat laun rasa empatinya bisa berkurang,
seperti dilansir Detik Health.
Fakta itu diungkapkan oleh Indra Kusumah S.Psi., M.Si., CHt, Humas
Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A)
Bandung.
Kekerasan jadi dianggap sebagai sesuatu yang biasa aja.
Terlebih bagi remaja dan anak-anak, mereka akan menganggap kekerasan
jadi salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan suatu
masalah. Mereka jadi tidak peka dengan penderitaan orang lain. Sedih
banget, ‘kan…
Sebenarnya, miris juga ketika menyadari kalau
pengaruh sinetron ternyata sekuat itu. Seharusnya pengakuan Aulia bisa
jadi pembelajaran bagi produser untuk berhenti membuat tayangan yang
bisa menginspirasi penonton melakukan tindak kejahatan
Tayangan kekerasan picu perilaku agresif via hellosehat.com
Tanggung jawab membuat tayangan yang mengedukasi, memang tidak hanya
bisa dibebankan pada para produser atau pembuat sinetron aja, melainkan
juga pemerintah, dalam hal ini KPI, Kominfo, dan sederet lembaga
terkait. Namun, setidaknya produser atau rumah-rumah produksi bisa
mengambil langkah pertama dengan menghentikan tayangan-tayangan nggak
mutu di layar kaca, tentunya dengan berkaca dari kasus Aulia di atas.
Saat dihubungi Kumparan,
Wakil Ketua KPI, Mulyo Hadi Purnomo, mengaku akan memberi sanksi kepada
sinetron yang menampilkan adegan kekerasan. Keputusan ini sebagai imbas
dari pengakuan Aulia di atas. “Tapi ngomong-ngomong, kok baru dipertegas
sekarang ya? Terus gimana tuh sama sinetron-sinetron azab yang juga
berdampak pada pembodohan publik?. [*]

Komentar

Banyak Berita Terhangat Lainya