oleh

“Kembali ke UUD 1945″?

-Berita-212 Dilihat
Daina Gelar Diskusi dengan Tema Kembali ke UUD 1945 dengan Pembicara :
Irjen Pol Anton Tabah, DR. Margarito Kamis dan Sekretaris Majellis Syuro
Sahar L Hasan. 

JAKARTA, SriwijayaAktual.com  – Dapur Da’i Nusantara (Da’ina) menggelar diskusi politik
dengan menghadirkan Irjen Pol Anton Tabah. DR. Margrito Kamis, Ketua
Majelis Syuro PBB, MS. Kaban sebagai nara sumber. Diskusi yang mengambil
tema “Kembali ke UUD 1945” itu dilaksanakan di Markas Besar Partai Bulan Bintang, Jl. Raya Pasar Minggu, Rabu (11/1/2017).
Pantauan dalam  diskusi yang dilaksanakan sekitar pukul 14.30
itu diawali dengan Irjen Pol Anton Tabah sebagai pembicara pertama.
Dalam paparannya Anton mengatakan, Negara kita bukan bersadarkan
Pancasila, tetapi berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa. “Pancasila
hanyalah ideologi negara,” kata Anton.
Pembicara kedua yang sedianya Ketua Majelsi MS Kaban, namun
berhalangan, maka digantikan oleh Sekretaris Majelis Syuro, Sahar L.
Hasan. Sahar mengupas tentang amandemen UUD 45 yang dilakukan oleh
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dalam sidang Istimewa tahun 2001.
Dia menceritakan bahwa pada waktu itu, saat amandemen pasal 29 UUD
45, Fraksi Partai Bulan Bintang memperjuangkan masuknya tujuh kata yang
dihapus dari Piagam Djakarta. Tujuh kata itu berbunyi, Negara
berdasarkan ketuhanan dengan menjalankan Syarikat Islam bagi
pemeluk-pemeluknya. Namun kandas, karena, kata dia, Fraksi PBB tidak
menginginkan usulan itu divoting sebab berkaitan dengan keyakinan.
“Bila dikemudian hari PBB besar, maka PBB akan memperjuangkan hal itu kembali,” ucap Sahar.
Hadir sebagai pembicara terakhir, Dr. Margarito Kamis proses
perubahan UUD 45 dan kemungkinan-kemungkinan perubahan itu lagi. 
Margarito mengatakan UUD dalam ilmu hukum dan politik dia adalah
pantulan dari impian indah, tentang impian hari esok yang indah dalam
pandangan kemanusiaan. 
Menurutnya UUD yang baik harus berada ditangan
orang yang otaknya beres, hatinya beres. “Barang baik harus berada
ditangan orang baik” tegas Margarito.
Margarito menyoroti banyak persoalan bangsa saat ini lebih disebabkan
oleh perilaku-perilaku yang buruk. Bukan karena aturan atau UUD yang
buruk.
Baca Juga; Yusril; Pemberlakuan Presidential Thereshold Sudah Tidak Relevan
Dia manmbahkan bahwa para pendiri bangsa dalam membentuk UUD 1945
dulu pernah mengatakan, sebagus apaun atau seindah apaun UUD itu dibuat
sangat tergantung dari semangat penyelenggara negara.
Sebagai moderator Eddy Wahyudi memandu jalannya diskusi menjadi lebih
menarik. Peserta antusias dalam mengikuti tiap sesi sampai sesi
terakhir.  Diskusi ditutup menjelang Magrib. (sp.ak)

Komentar

Banyak Berita Terhangat Lainya