oleh

Ketika Presiden Jokowi Shalat Istisqa, Kabut Asap Makin Pekat di Pekanbaru

-Berita-245 Dilihat
Ilustrasi

PEKANBARU-RIAU, SriwijayaAktual.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi)
mengaku telah melakukan berbagai upaya melakukan pemadaman kebakaran
hutan dan lahan (karhutla) di Riau dan wilayah nusantara lainnya. Selain
mengerahkan satgas karhutla, salah satu upaya lainnya juga dengan
berdoa dengan melakukan Shalat Istisqa untuk memohon turunnya hujan
seperti dilakukan di Pekanbaru.

Bersamaan dengan itu kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
terlihat makin pekat menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (17/9/2019) dilansir laman indonesiainside.

Berdasarkan data BMKG pada Selasa pagi konsentrat polutan PM10 yang
terkandung pada jerebu terpantau pada kategori sangat tidak sehat hingga
berbahaya di Kota Pekanbaru. Wilayah Riau masih diselimuti asap cukup
pekat yang mempengaruhi jarak pandang.

“Jarak pandang di Pekanbaru mulai membaik yang terkini sekitar 1,2
kilometer. Itu membaik dibandingkan pada pukul tujuh pagi hanya 800
meter,” kata Staf Analisis BMKG Stasiun Pekanbaru, Agus.

Jarak pandang di daerah lainnya masih cukup buruk seperti di Kota Rengat
kini 800 meter, Kota Dumai 900 meter dan Kabupaten Pelalawan 600 meter.

Dengan mengenakan kemeja putih dan kopiah hitam, Presiden Jokowi
melaksanakan shalat Istisqa di Masjid Amrullah yang berlokasi di dalam
kompleks Lanud Roesmin Nurjadin pada sekitar pukul 09.00 WIB.

Rombongan Presiden yang turut mengikuti shalat tersebut diantaranya
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Tito Karnavian,
Kepala BNPB Doni Monardo, Gubernur Riau Syamsuar, dan Ketua PWNU Riau.

Presiden terlihat serius mendengarkan ceramah dari khatib DR. HM.
Fakhri, MA. Adapun imam shalat Istisqa adalah DR. H. Khairunnas Jamal,
M. Ag.
Presiden Joko Widodo (tengah) mengikuti shalat Istisqa untuk memohon
turunnya hujan di Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (17/9/2019). Foto: Antara

Selesai melakukan rangkaian shalat istisqa, Presiden menyempatkan diri
membagikan buku-buku kepada warga di luar masjid. Setelah itu, rombongan
Presiden langsung menuju landas pacu untuk naik helikopter menuju
lokasi karhutla. Presiden tidak memberikan keterangan kepada wartawan.

Dari data BMKG, pada pukul 06.00 WIB satelit Terra Aqua mendeteksi 498
titik panas yang jadi indikasi karhutla di Sumatera. Daerah paling
banyak adalah Provinsi Sumatera Selatan sebanyak 194 titik, Jambi 174
titik, sedangkan di Riau 60 titik.

Khusus di Riau, dari 60 titik panas tersebut paling banyak di Kabupaten
Rokan Hilir (Rohil) dengan 27 titik, dan Pelalawan 11 titik, Kota Dumai
delapan titik, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) enam titik, Indragiri
Hilir (Inhil) empat titik, Bengkalis dua titik, dan Kuansing serta
Kampar masing-masing satu titik panas.

Dari jumlah tersebut, ada 41 yang dikategorikan titik api. Lokasi paling
banyak juga di Rohil dan Pelalawan yang masing-masing ada 23 titik dan
tujuh titik.

Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kota Pekanbaru, Riau,
semakin memburuk. Bibin Sulianto Staf Analisa BMKG Stasiun Pekanbaru,
menjelaskan memburuknya udara di Bumi Lancang Kuning ini juga tambah
parah karena adanya kiriman asap dari provinsi tetangga seperti Jambi
dan Sumatera Selatan.

Kualitas udara di Kota Pekanbaru juga sangat buruk. Berawal dari level
sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat, dan kini sudah di posisi
berbahaya. Pada hari Senin kemarin (16/9), melansir data Air Visual
menunjukkan Air Quality Index (AQI) dan polusi udara di Pekanbaru
menyentuh 152 atau masuk dalam kategori tidak sehat. Sedang level
tertinggi sebulan terakhir menyentuh 181 terjadi pada Jumat (13/9/2019).

Dari sisi kesehatan, kabut asap akibat kebakaran hutan menjadi ancaman
serius bagi kesehatan masyarakat, apalagi dalam jangka panjang. Penduduk
di kelompok bayi, anak-anak, wanita hamil dan menyusui, serta lanjut
usia rentan terkena penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).

Disisi lain, polutan dari asap kebakaran hutan dan lahan juga dapat mencemari air dalam jangka panjang.

Kualitas udara yang tidak sehat juga mengganggu proses belajar mengajar
di sekolah. Sekolah-sekolah juga diliburkan hingga saat ini. [*]

Komentar

Banyak Berita Terhangat Lainya