Pasang Iklan Murah disini
Berita  

‘Kiai Nyentrik’ ini Punya Tongkat Presiden RI Soekarno dan Kapak Wiro Sableng 212, kok Bisa? Gimana tu Kisahnya…

Pendiri Ponpes Graksan Kota Cirebon, KH Abdul Wahid Umar menunjukkan barang-barang pusaka di kediamannya.( foto:Jamal Suteja/Radar Cirebon)

Kalau mau melihat benda pusaka dan antik, di sinilah tempatnya.
Pondok Pesantren Kanggraksan Kota Cirebon. Pengasuhnya juga seorang kiai
nyentrik. Namanya Abdul Wahid Umar. Bagaimana kisahnya hingga kini dia
mengkoleksi banyak benda antik dan unik?

CIREBON-JABAR, SriwijayaAktual.com – DUA belas tahun lalu, KH Abdul Wahid Umar kembali ke
Cirebon dari perantaunya di Jakarta. Kepulanganya ke tanah kelahiran,
lantaran mengikuti amanat dari ulama. Salah satu amanat itu, menjaga
barang-barang pusaka dan antik.
Amanat ini diikuti Abdul. Bagi sebagian orang, hal-hal berbau klenik
mungkin dipandang minor. Apalagi ketika cara mendapatkannya ditempuh
dengan hal-hal yang bersifat supranatural. Persepsi ini tidak berlaku
baginya.
“Saya udah 12 tahun. Setelah ibu bapak meninggal, dapat amanat kemudian
pulang ke Cirebon. Dari situ saya mulai koleksi barang-barang antik,”
kata Abdul, kepada Radar Cirebon (Jawa Pos Group) dilansir Kamis (22/2/2018).
Sejak saat itu, sudah ratusan benda antik yang dikoleksinya. Mulai
dari tongkat Presiden Soekarno, samurai jepang, keris, patung ganesha,
jam kuno, hingga logam mulia yang berlogo Soekarno dan buatan London.
Yang unik tentu saja ada Kapak Wiro Sableng. Tidak ada tulisan 212 di
kapak tersebut. Hanya ada ukiran gambar naga di atas besi baja yang
menjadi bahan pembuatnya. “Kalau saya menyakini Wiro Sableng itu
waliyullah,” ucapnya, saat disinggung apakah sosok Wiro Sableng itu
fiksi atau nyata.
Kebanyakan benda-benda antik didapatkan Abdul Wahid Umar, hasil
pencarian saat malam hari. Biasanya di pinggir-pinggir pantai mulai dari
Kejawanan hingga Gunungjati. Dia sendiri menyebut tujuan mengambil
benda antik itu, sebagai cara untuk mengamankan agar tidak diambil oleh
yang tidak bertanggung jawab.
Abdul Wahid Umar sendiri sulit menjelaskan dari mana asal usul benda
tersebut. Namun diyakini benda-benda itu merupakan pusaka peninggalan
leluhur, yang masih liar. Sehingga perlu disterilkan agar bisa dipajang.
Biasanya untuk menundukan benda pusaka itu, Abdul Wahid punya cara
tersendiri. Termasuk juga untuk menjaga agar barang tersebut tidak
rusak. “Setiap bulan mulud dibersihkan. Tanggal 12 Rabiul Awal, pakai
bubuk bata dan air,” katanya.
Dia menyebut, hingga saat ini ada 80 macam jenis barang yang
dikoleksinya. Ada beberapa barang yang tidak dia pajang dan masih
tersimpan di rumah. Sementara untuk benda-benda antik lainnya dia pajang
di area Ponpes Graksan. Abdul sendiri membebaskan orang untuk melihat
benda-benda tersebut selama tidak merusak. “Kalau ini saya tidak dijual,
tapi kalau ada orang yang minta asalkan cocok sama aura bendanya, saya
kasih,” katanya.
Abdul sendiri ingin memiliki tempat khusus untuk menyimpan
benda-benda pusaka. Dia juga punya tempat khusus untuk koleksi hasil
kesenian, seperti lukisan, hiasan dari akar, dan batang pohon yang mirip
dengan naga dan burung perkutut. “Kalau akar dan batang pohon ini, saya
juga nemu, pas awal belum terbentuk seperti naga dan perkutut, tapi
setelah itu baru terlihat,” Tandasnya Abdul yang biasa juga orang sebut kiai nyetrik ini. (fab/jpg/JPC)

Spesial Untuk Mu :  Gempar! Dan Merinding! Kuntilanak dan Genderuwo Ikut Rapat Pilkades