Pasang Iklan Murah disini
Berita  

Kisah Bos IMF Bersedekap, Pujian dan Jatuhnya Presiden RI Soeharto

Presiden Soeharto menandatangi perjanjian dengan IMF. Michel Camdessus terlihat memandanginya dengan bersedekap.[foto:AP]

Soeharto di Januari 97 akhirnya menerima untuk mengundang masuk IMF/Michel Camdessus.

ARTIKEL-JAKARTA, SriwijayaAktual.com – “Foto ini sangat merusak citra IMF!” Begitu kata James Boughton
kepada Bloomberg, awal Juli tahun lalu, saat disodori selembar foto
bergambar dua orang. Boughton, mantan sejarawan Dana Moneter
Internasional (IMF), dimintai komentarnya terkait foto legendaris yang
diambil di Jakarta pada 15 Januari 1998.
Di dalam foto itu
ada Michel Camdessus, managing director IMF, dan Presiden Indonesia
Soeharto beserta sejumlah menteri dan pejabat lainnya di satu ruangan.
Soeharto menunduk ke arah meja. Di belakangnya ada pergola bermotif
wayang.
Di atas meja ada beberapa dokumen bermap batik. Ia
lalu menandatangani beberapa lembar dokumen letter of intent (LoI) yang
berisi Indonesia menerima resep ekonomi dari IMF untuk memulihkan
situasi nasional yang memburuk sejak Agustus 1997.
Di
belakang Soeharto, dalam momen tersebut, Camdessus berdiri sambil
melipat tangannya. Di bagian inilah fotografer dari berbagai media
menjepretkan kamera mereka. Foto epik ini menjadi amat terkenal di
dunia. Berbagai macam interpretasi muncul melihat pose Camdessus dan
Soeharto.
Ada yang menerjemahkan bahasa tubuh Camdessus
saat itu sebagai sosok majikan arogan yang sedang menunggu Indonesia,
yang seperti kerani, mengharapkan bantuan dana siaga. Benarkah demikian?
Menurut Boughton, tidak. Versi IMF, kata Boughton menjelaskan, kisahnya
amat berbeda.
Boughton menuturkan, saat itu Camdessus
masuk ke dalam ruangan yang besar bersama Soeharto. Camdessus berharap
ada dua bangku di balik meja tanda tangan itu. Sehingga ia dan Soeharto
bisa duduk berdampingan.
Ternyata protokoler hanya
menyediakan satu bangku utama: Untuk Presiden Soeharto. Akhirnya,
Camdessus berdiri di samping Soeharto yang duduk. Kemudian Soeharto
berdiri untuk menandatangani dokumen. Boughton mengungkapkan, Camdessus
saat itu berpikir, “Apa yang harus saya lakukan?”. Secara refleks,
Camdessus melipat kedua tangannya di depan dada.
“Itu
reaksi beberapa detik saja, karena ia tidak tahu harus berbuat apa. Dan
kamera langsung menjepretnya,” kata Boughton menggambarkan.
Begitulah
versi IMF tentang foto yang amat bersejarah itu. Namun, tentu saja
bukan citra IMF yang rusak yang menjadi cerita utama. Setelah tanda
tangan itu, kita tahu, ekonomi Indonesia justru lebih rusak dan
terpuruk. Krisis ekonomi dengan cepat berubah menjadi krisis sosial
politik.
                                       *****
Anggaran negara kemudian diperketat. BUMN strategis dijual ke investor asing. Banyak perusahaan gulung tikar.
Pengangguran
meluas. Rentetan dampak ini yang menjadi pemicu krisis sosial
selanjutnya. Kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan terjadi di mana-mana.
Penculikan aktivis dan penembakan mahasiswa terjadi. Eksodus warga keturunan Tionghoa keluar Indonesia merebak.
Lima
bulan setelah menandatangani dokumen letter of intent IMF itu, rezim
Soeharto yang berumur 32 tahun tumbang. Presiden Soeharto menyerahkan
kekuasaannya kepada Wakil Presiden BJ Habibie. Era pertama reformasi
dimulai.
Bulan-bulan yang kelam Kapan tepatnya krisis
moneter menghantam Indonesia? Yang biasa kita jadikan patokan adalah
kerusuhan Mei 1998 atau saat Soeharto menandatangani LoI dengan IMF,
Januari 1998. Jauh dari itu, sebetulnya.
Krisis moneter
Asia pertama teridentifikasi saat spekulan mata uang menghancurkan bath
Thailand terhadap dolar AS pertengahan Mei 1997. Otoritas moneter
Thailand kewalahan menghadapi serangan ini sampai mereka akhirnya butuh
bantuan IMF beberapa bulan kemudian.
Di Indonesia, dari
catatan Republika, ada beberapa kali hantaman krisis kurs sebelum
akhirnya berubah menjadi krisis ekonomi menyeluruh. Hantaman pertama
dalam rekaman koran ini terjadi pada 21-22 Juli. Sebelum itu, kurs
rupiah terhadap dolar AS relatif stabil di level Rp 2.400 per dolar AS.
Digoyang
spekulan dalam dua hari, kurs rupiah jebol hingga mendekati Rp 2.700
per dolar AS. Otoritas moneter sempat panik, tapi berhasil menenangkan
gejolak rupiah. Ini hanya berlangsung sepekan. Pada 29 Juli, Bank
Indonesia mengetatkan likuiditas dengan menaikkan tingkat bunga
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) menjadi dua digit.
Sepanjang
pekan terakhir itu juga, nama pialang saham Yahudi George Soros muncul.
Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad, pada 26 Juli, menegaskan
Soros ada di belakang serangan spekulan terhadap mata uang Asia
Tenggara. “Saya tegaskan! George Soros-lah yang saya maksud,” kata
Mahathir ketika itu.
Beberapa hari sebelumnya, Mahathir
memang sempat menyinggung ada pemilik modal berbasis di Amerika Serikat
yang menunggangi krisis kurs di ASEAN. Mahathir memang patut khawatir,
karena situasi krissi yang sama ketika itu sudah berada di depan pintu
Malaysia.
Dalam catatannya ketika itu, wartawan Republika
Guntur Subagja menulis, ada tiga sebab mengapa rupiah bergejolak selama
Juli 1997. Pertama, karena faktor spekulan yang mencari untung. Spekulan
memborong dolar AS besar-besaran dan melepaskan rupiah secara
bersamaan. Kedua, pada saat yang sama, tingginya utang luar negeri
perusahaan swasta nasional yang sedang jatuh tempo.
Ini
membuat pengusaha secara bersamaan dengan spekulan, mencari rupiah untuk
melunasi utang jangka pendek ataupun jangka panjangnya. Dolar AS makin
langka di pasaran. Ketiga, tulis Guntur, faktor psikologis di ASEAN yang
menyebabkan negara-negara lain ikut memborong dolar AS dan ini membuat
kian langkanya rupiah di pasar mata uang.
Uniknya, tulis
Guntur, pada saat genting seperti itu Gubernur BI Soedradjad Djiwandono
mengeluarkan pendekatan ‘nasi goreng’ terhadap situasi rupiah.
Maksudnya
apa pendekatan ini? Masyarakat Indonesia, menurut Soedradjad,
berpenghasilan rupiah. Belanjanya pun masih dalam rupiah. “Kalau hanya
makan nasi goreng, tak perlu takut dan membesar-besarkan gejolak
rupiah,” kata Gubernur BI, percaya diri.
Namun, pendekatan
‘nasi goreng’ Gubernur BI ini terpatahkan pada Agustus 1997. Krisis
rupiah justru makin kencang menerpa Indonesia. Krisis rupiah menyeret
anjloknya indeks di Bursa Efek Jakarta. Perbankan yang ketakutan ikut
mengerek bunga simpanan mereka ke tingkat yang tak terpikirkan
sebelumnya.

Baca Juga: Direktur Pelaksana IMF Datang ke Indonesia, Menkeu: Kedatangan IMF Tidak Tawarkan Hutang, Tapi…

Dua hari sebelum 17 Agustus adalah hari-hari
yang melelahkan dan panjang bagi gubernur BI dan Menkeu Mar’ie Muhammad
ketika itu. Rupiah melemah lagi terhadap dolar AS, sehingga memaksa BI
akhirnya melepaskan batas kurs intervensi terhadap rupiah. Situasinya
makin gawat. Gubernur BI menjadi foto utama harian ini dua hari
berturut-turut, menggambarkan parahnya situasi saat itu.
Presiden
Soeharto untuk pertama kalinya ikut berbicara soal rupiah. Pada
peringatan Hari Proklamasi, Presiden mengklaim rupiah sudah mencapai
keseimbangan baru.
Ucapan ini terbukti sehari sesudahnya.
Pada 19 Agustus 1997, rupiah jebol ke batas psikologisnya terhadap dolar
AS, mencapai Rp 3.000 per dolar AS.
Dari sini, situasi
kurs rupiah kian dalam tergelincir. Krisis moneter pun terjadi. Makin
tak terkendali menuju akhir tahun. Tak ada yang menyangka krisis bisa
terjadi separah itu. Pelemahan rupiah tak bisa ditahan oleh pemerintah
dan bank sentral. Situasi yang berlarut-larut ini memaksa Soeharto pada
Januari akhirnya menerima saran sejumlah pihak untuk mengundang masuk
Camdessus dan teman-temannya. [*]
Oleh: Stevy Maradona*, wartawan Republika 




Spesial Untuk Mu :  Budaya Politik Spanduk Dalam Pesta Demokrasi