oleh

Klaim Chino, Yang Terjadi Di Xinjiang Cuma Program Deradikalisasi

-Berita-18 views
loading...
CHINA, SriwijayaAktual.com – China kembali
menyanggah tuduhan pelanggaran hak asasi manusia terkait dengan isu penahanan
terhadap satu juta orang etnis Uighur di Xinjiang. Hal tersebut disampaikan
oleh Dutabesar China untuk Australia, Cheng Jingye.
Cheng dengan
hati-hati, menegaskan bahwa pusat-pusat ditempatkannya etnis Uighur bukan
kamp-kamp penahanan, melainkan sekolah-sekolah pelatihan kejuruan dengan
program deradikalisasi. Lebih lanjut, Cheng mengatakan semua
“trainee” atau siswa di sekolah-sekolah tersebut pun telah lulus.
“Saya mengerti
sekarang peserta pelatihan di pusat-pusat semuanya telah menyelesaikan studi
mereka dan mereka telah, dengan bantuan pemerintah setempat, secara bertahap
menemukan pekerjaan mereka,” ujar Cheng dalam konferensi pers, Kamis
(19/12/2019) seperti dimuat CNN.
Menurut Cheng,
tindakan China di Xinjiang tidak ada hubungannya dengan HAM, melainkan
pendekatan China untuk mencegah terorisme. Hal yang sama yang dilakukan oleh
negara Barat. Selain itu, China menjamin dan melindungi hak beragama kelompok
etnis di  Xinjiang.
“Kebebasan
berkeyakinan beragama dan hak-hak lain semua kelompok etnis di Xinjiang telah
dipromosikan dan dilindungi,” katanya.
“Penyebaran
ekstremisme telah secara efektif diatasi dan keamanan publik telah meningkat di
Xinjiang dan orang-orang dari semua kelompok etnis dapat hidup dan bekerja
dalam damai,” tambahnya.
Lebih lanjut, Cheng
mengatakan isu mengenai pelanggaran HAM terhadap etnis Uighur yang mayoritas
adalah umat muslim adalah sebuah berita palsu. Sebelumnya, pemerintah China
telah berulang kali membantah isu tersebut dan warga yang “dirawat”
di sana pun dapat pergi kapan saja.
Namun, pernyataan
tersebut kemudian bertolak belakang dengan serangkaian kebocoran data
pemerintah yang dirilis oleh media internasional. Dalam dokumen yang bocor
tersebut, digambarkan pusat-pusat yang dimaksud pemerintah China justru seperti
kamp-kamp penahanan yang dijaga ketat di mana orang-orang Uighur dipaksa untuk
belajar bahasa Mandarin dan pendidikan “idelogis”.
Konferensi pers yang
dilakukan Cheng sendiri terbilang istimewa karena jarang sekali pejabat atau
diplomat China mengadakan hal tersebut untuk media asing. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed