oleh

Kok Bisa ‘Like’ di FB Bikin Para Perempuan ini Rela Bug!l di Depan Kamera?

loading...
Ilustrasi

SriwijayaAktual.com – Pria di
Kota Lubuk Linggau, Prov.Sumsel, Bustanul Ardi, menipu sejumlah perempuan dengan cara berpura-pura
menjadi polisi. Modusnya adalah dengan me-like foto calon korbannya, lalu dia
mengajak video call mesum.
“Foto itu aku
pasang di Facebook (FB), aku lihat ada cewek
buat status aku like (lambang jempol di Facebook). Pasti itu ada yang
penasaran, baru ajak kenalan,” kata Bustanul.
‘Like’ menjadi pintu
masuk bagi Bustanul melancarkan aksi tipu-tipunya. Dari ‘Like’ tersebut, calon
korbannya bersedia membuka komunikasi.
Modus kejahatan yang
dilakukan Bustanul sebenarnya bukan merupakan yang pertama. Banyak kasus serupa
terjadi, yang pintu masuknya adalah interaksi di media sosial. Yang jadi
pertanyaan, mengapa masyarakat era digital begitu mudahnya membuka diri untuk
orang yang baru dikenalnya lewat media sosial?
Pelaku penipuan,
Bustanul Ardi. Foto: Polisi gadungan saat diamankan di Mapolda Sumatera
Selatan. (Raja Adil Siregar/detikcom)
Pakar Komunikasi
Digital UI Firman
Kurniawan mengatakan semua yang ditampilkan pada media sosial, seperti foto,
caption, lokasi, termasuk tanggapan berupa like, komentar, adalah simbol.
Aktivitas menampilkan simbol dan menerima simbol sebagai tanggapan merupakan
penerapan dari interaksi simbolik.
Menurut teorinya,
kata Firman, interaksi simbolik manusia dilakukan untuk menciptakan makna.
Terhadap makna yang disukai, interaksi akan dilanjutkan dengan simbol-simbol
yang memberikan rasa suka. Pihak yang di-Like postingannya, kata Firman, akan
berupaya mempertahankan interaksi yang disukainya.
“Era ini,
informasi macam apapun telah tersedia. Jumlahnya pun berlimpah. Sehingga dengan
modus menampilkan eksistensi diri, seseorang berupaya memproduksi informasi
yang mampu ‘memaksa’ pihak lain memberikan perhatian pada dirinya. Like,
terutama yang berasal dari pihak yang kredibel, dikagumi dan memiliki makna
pada seseorang, menjadi hal yang diburu,” ulas Firman saat berbincang
dengan detikcom, Selasa (10/12/2019).
Firman Kurniawan. Foto: Dok. Istimewa
Bustanul
berpura-pura menjadi polisi di media sosial. Muslihatnya itu membuat korbannya
memiliki harapan interaksi lebih dengan Bustanul.
“Akan halnya
pemberi like adalah orang yang dikagumi, disegani, makna simbolik dari suatu
tindakan akan memiliki makna yang lebih besar. Maka untuk memperolehnya
(mendapat perhatian ataupun mempertahankan interaksi, red) dilakukan
tindakan-tindakan di luar kewajaran, demi memperoleh itu semua. Bahkan ketika
harus bugil,” pungkas Firman.
(tor/dnu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed