KontraS Sebut Polisi Siksa Anak saat 22 Mei: Direndam di Kolam Kotor

Berita352 Dilihat

JAKARTA, SriwijayaAktual.com – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan (KontraS) bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta
mengungkapkan adanya dugaan pelangggaran hukum yang dilakukan aparat
kepolisian dalam menangani anak berhadapan dengan hukum (ABH) pada
peristiwa kerusuhan 21-22 Mei 2019.

KontraS dan LBH Jakarta mengaku telah menemukan adanya dugaan
pelangggaran yang dilakukan aparat kepolisian terhadap ABH berupa
penyiksaan, penangkapan dan penahanan sewenang-wenang, serta
terhalangnya pihak keluarga mendampingi ABH saat dilakukan pemeriksaan.

Staf pembela Hak Asasi Manusia (HAM) KontraS, Andi Muhammad Rezaldy
mengatakan berdasar informasi yang didapat dari dua ABH yang ditahan
atas tuduhan terlibat dalam kerusuhan 21-22 Mei, yakni GL dan FY yang
masih berusia 17 tahun mengaku mendapat sejumlah penyiksaan. Mereka,
ditangkap oleh aparat kepolisian pada 22 Mei dini hari di sekitar kantor
Kepolisian Sektor Gambir.

“GL dan FY digiring dan dipaksa berendam di kolam yang sudah kotor dan
berwarna hijau. Sesudah direndam GL dan FY dibawa ke dalam kantor dan
dimasukkan ke dalam sel tahanan,” kata Andi saat jumpa pers di Kantor
KontraS, Jakarta Pusat, Jumat, (26/7/2019).

Lebih lanjut, kata Andi, tak berselang lama GL dan FY pun dikeluarkan.
Namun, mereka mendapatkan sejumlah penyiksaan kemudian dimasukkan
kembali ke dalam sel tahanan dewasa.

“FY dipukul di bagian dada sebanyak tiga kali, GL dipukul dua kali,
pertama di bagian dada lalu di punggung sebelum akhirnya dimasukkan ke
dalam sel bersama tahanan lainnya yang sudah dewasa,” ungkapnya.

Penyiksaan pun tak berhenti di situ, GL dan FY, sambungan Andi, kembali
disuruh berendam dalam kolam. Mereka diancam akan dipukul dengan balok
jika kepalanya keluar dari air saat berendam.

Sesudah itu, GL dan FY bersama 25 tahanan lainnya pun dibawa ke Polda Metro Jaya menggunakan mobil box.

“Di dalam mobil itu mereka diberikan ruang udara yang begitu sempit,
sehingga mereka harus secara bergantian mendapatkan udara segar dari
luar,” ujar Andi.

Sesampainya di Polda Metro Jaya, GL dsn FY pun menjalani pemeriksaan.
Namun, pemeriksaan tersebut dilakukan tanpa pendampingan dari pihak
keluarga.

“Ketika di-BAP (Berita Acara Pemeriksaan) ulang, FY mendapat penasehat
hukum namun diragukan keabsahan penunjukannya karena orang tua merasa
tak menandatangani surat kuasa,” ucap Andi.

KontraS bersama LBH Jakarta pun menduga aparat kepolisian dalam
memeriksa ABH terkait kasus kerusuhan 22 Mei melanggar Pasal 23 ayat (1)
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Selain itu, terkait dugaan penyiksaan, aparat kepolisian diduga kuat
telah melanggar Pasal 64 huruf e Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014
tentang Perlindungan Anak Juncto Pasal 3 huruf e Undang-Undang Nomor 11
Tahun 2002 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
“Polisi juga diduga melanggar Pasal 37 huruf a Konvenan hak anak-anak,” tandasnya. [sc]

Komentar