oleh

Kontroversi Teknologi Makanan Sintetis

-Berita-283 Dilihat
Sriwijaya Aktual – Makanan sintetis semakin disebut-sebut sebagai pangan masa depan. Namun kemajuan teknologinya dengan cepat mendahului progres minat konsumen.
Hanya dua dari 10 orang Amerika bersedia untuk memakan daging sintetis (daging yang ditumbuhkan secara in-vitro di laboratorium), demikian menurut jajak pendapat Pew Research Center.
Tampaknya kesukaan untuk hal-hal yang berbau teknologi tinggi tidak dengan mudah bisa ditransfer ke piring makan.
Meskipun keengganan mengkonsumsi makanan hasil modifikasi masih meluas, era baru yang disebut produk rekayasa “ekstrim” genetika, faktanya sudah mulai memenuhi rak-rak supermarket.
Teknologi ini berkembang sangat cepat sehingga membuat perbedaan antara berbagai jenis makanan yang dimodifikasi secara genetik bisa rumit. Sementara organisme yang dimodifikasi secara genetik memiliki urutan DNA yang berubah, biasanya dengan memiliki ciri-ciri spesies lain digabung dengan ciri biologi mereka sendiri, atau “synbio (syntetic biology)”, yaitu penciptaan organisme yang sama sekali baru dengan urutan DNA yang dibuat seluruhnya di komputer . Organisme ini, biasanya bakteri atau ganggang, yang digunakan untuk menghasilkan komoditas berharga seperti perasa dan minyak.
Penelitian dan pengembangan produk-produk sintetis ini saat ini sebagian besar rahasia. Perusahaan-perusahaan riset menjaga dengan ketat teknologinya. Meskipun sudah ada yang mulai memasuki pasar, ketidakpercayaan umum terhadap makanan berteknologi tinggi mengancam perusahaan-perusahaan yang menanamkan investasinya di synbio. Dibutuhkan transparansi dan penjelasan kepada konsumen tentanng manfaat dari teknologi baru ini.
“Selalu ada kecemasan tentang perubahan,” kata Mark Post, yang memimpin tim Cultured Beef project di Maastricht University, Belanda. “Ketika perubahan yang datang semakin radikal, kecemasan yang dirasakan pun semakin bertambah besar.”
Tahun lalu, untuk pertama kalinya kelompok Post meluncurkan burger buatan laboratorium kepada masyarakat. Burger yang dijuluki “frankenburger”, ini bahan utamanya daging yang ditumbuhkan dari sel induk. Berita utama media menularkan kebingungan dalam masyarakat tentang lima ons daging buatan seharga $330.
Satu-satunya cara melalui pemberitaan yang buruk tersebut adalah keterbukaan : “Saya pikir itu penting dalam solusi teknologi tinggi untuk masalah kehidupan nyata bahwa Anda harus benar-benar 100% transparan dalam apa yang Anda lakukan,” kata Post.

Frankenburger

Pentingnya transparansi juga dikemukan oleh Andras Forgacs, co-founder dan chief executive dari Modern Meadow, Brooklyn, yang berharap satu hari nanti bisa menjual daging in-vitro kepada publik.
“Kami meminta banyak kepercayaan dari konsumen,” katanya kepada The Guardian bulan lalu. “Semakin konsumen memahami apa dan bagaimana yang kita lakukan, akan semakin baik. Hal ini termasuk mencakup transparansi dan pelabelan.”
Synbio dikembangkan sebagian besar untuk penciptaan biofuel berbasis alga. Tantangannya adalah sulitnya untuk menjadikannya komersial karena alasan biaya dan skala. Perusahaan-perusahaan Synbio terbukti masih kesulitan untuk menetapkan target peluncuran ke pasar komersial yang lebih menguntungkan.
Wewangian dan ekstrak, serta sabun dan lotion, sudah berisi bahan sintetis yang berasal produk biologi. Konsumen mungkin akan protes jika mereka tahu tentang itu, kata Dru Oja Jay, seorang juru bicara untuk ETC Group, sebuah organisasi pengawas internasional pelacakan dampak teknologi baru terhadap hak asasi manusia dan keragaman ekologi.
“Apa yang kita bicarakan di sini adalah tentang penciptaan besar-besaran organisme baru (saat ini telah sampai ke tingkat sel tunggal) yang menimbulkan banyak masalah ketika itu menjadi tidak terkendali,” kata Jay.
Masalahnya adalah tidak selalu jelas darimana asal produk. Upaya pemasaran perusahaan tidak selalu membantu. Bagi banyak perusahaan, penghilangan istilah “bahan biologi sintetik” dari promosi produk mereka telah menjadi keputusan yang disengaja karena kekhawatiran kepada reaksi negatif konsumen.
Apapun itu, cerita menarik adalah tentang Ginkgo BioWorks, yang menasbihkan dirinya sebagai “The First Organism Company”. Perusahaan ini mengklaim telah memiliki dan mengoperasikan “mesin rekayasa organisme” pertama di dunia, produk yang berusaha untuk “menggantikan teknologi dengan biologi”.
Situs Ginkgo memasang promosi untuk produk delapan wewangian kimia, pemanis dan perasa yang tumbuh dalam media kultur ragi. Jika berhasil, pergeseran dari pengembangan biofuel menuju pasar konsumen akan membuat perusahaan mendapat nilai tambah biofuel yang semula $ 1 per-kilogram menjadi $ 10.000 per kilogramnya.
Perusahaan biotek Swiss, EVOLVA, yang menghasilkan vanili sintetis diyakini akan memasuki pasar pasokan makanan, meskipun pengembangan produk akhirnya belum dibuat untuk konsumsi publik. Penelitian lebih lanjut diharapkan untuk menghasilkan kunyit, stevia, dan resveratrol sintetis.
Perusahaan Green-produk Ecover menjadi perusahaan pertama yang secara terbuka mengumumkan tentang minyak alga yang diproduksi oleh perusahaan bioteknologi Solazyme. Keputusan dihasilkan akibat kampanye negatif konsumen. Kampanye menuduh minyak itu dihasilkan dari “derivasi-synbio”, Solazyme mengklaim itu tidak benar karena ganggang secara genetik dimodifikasi hanya untuk meningkatkan produksi minyak secara alami, dan tidak untuk memproduksi bahan kimia sintetis.
Tapi itu tidak menghentikan petisi untuk mendapatkan 11.235 tanda tangan. Dan tekanan keras dari masyarakat kemungkinan akan mempengaruhi rilis dua produk baru Solazyme : tepung “kaya lipid” (menurut website perusahaan, bisa menggantikan lemak susu, kuning telur, dan minyak makan) dan alga berbasis “non-alergi, bebas gluten dan sumber protein berkelanjutan berkualitas tinggi”.
Berbasis di San Francisco Solazyme, produsen produk pembersih Ecover ini, juga menjual Sephora’s beauty line. Dan Unilever mengumumkan pada April 2015 bahwa mereka telah menggunakan minyak Solazyme pada produk sabun Lux, melewatkan setiap referensi untuk GMO atau synbio.

Ecover Website

Untuk mendapatkan penerimaan publik, perusahaan synbio juga harus menjelaskan manfaat dari penawaran mereka kepada publik yang sebagian besar masih mengabaikan keberadaan teknologi bio industri.
“Secara umum, kami menemukan bahwa orang cenderung curiga ketika Anda mencoba untuk membantah apa yang telah mereka percaya,” kata Lars Perner, asisten profesor pemasaran klinis di Marshall School of Business, University of Southern California.
“Apa yang menjadi kecenderungan lebih efektif untuk menambah keyakinan. Jadi Anda sebaiknya berbicara tentang bagaimana Anda membuat harga beberapa makanan ini terjangkau. Atau Anda bisa berbicara tentang rasa aman.”
Paul Winters, direktur komunikasim Biotechnology Industry Organization, sebuah kelompok perdagangan yang mendukung sektor bioteknologi, mengatakan industri bioteknologi telah melakukan pekerjaan yang baik selama ini. “Jika Anda melihat berita utama biologi sintetis secara umum mereka masih sangat positif.”
Unilever dan Ecover keduanya mengatakan mereka mengadopsi minyak Solazyme dalam upaya untuk menghilangkan ketergantungan mereka pada minyak kelapa sawit. Dan sumber protein seperti Solazyme mungkin mengurangi ketergantungan pada daging ternak. Sementara diet vegetarian yang sehat tidak memerlukan bahan makanan yang dimanipulasi, konsumsi daging terus tumbuh meskipun PBB mendukung kampanye vegetarian.
Untuk meminimalisir perubahan iklim, produksi daging global (yang bertanggung jawab untuk sebanyak 14,5% dari emisi gas rumah kaca – menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB) harus secara dramatis dibatasi atau secara signifikan berubah.
“Anda dapat membuat konsumen mengerti ada masalah dengan produksi daging,” kata Post. “Kebanyakan orang baik secara sadar atau tidak sadar tahu mereka mungkin tidak tahu atau bahkan, mungkin, tidak mau tahu semua tentang segala hal itu.”
Sementara orang Amerika “cenderung untuk membiarkan orang lain mengambil langkah pertama” dengan teknologi makanan yang cepat berkembang, mereka umumnya memiliki sikap laissez-faire tentang regulasi yang mengatur hal itu.
“Sikap apatis terhadap urusan politik, termasuk peraturan, hanya akan menjadikannya merajalela,” kata Bryan G Norton, profesor emeritus di school of public policy Georgia Institute of Technology. “Bahwa sikap laissez-faire tidak berarti perusahaan tidak memiliki tanggung jawab untuk melabeli produk mereka”.
“Memberikan labeling yang sebenarnya seharusnya menjadi strategi untuk membangun keyakinan,” kata Paul Thompson dari University of Michigan. “Sangat banyak kepentingan industri untuk aturan regulasi sehingga orang-orang dapat memilih.”
Praktik pengungkapan seperti pelabelan bertujuan meningkatkan percayaan. Ketika pilihan informasi tertahan, ketidakpercayaan tumbuh. Dalam beberapa kasus “pernyataan berlebihan tentang resiko” yang diterima masyarakat secara proporsional relevan dengan pilihan mereka untuk tidak memilih (produk).
Dari sudut kepentingan industri, praktik pelabelan telah banyak dibahas, meskipun belum didukung secara universal. “Ada beberapa perusahaan dan peneliti yang mengatakan produk biologi sintetis harus diberi label ‘syntetic biology inside’ seperti komputer dengan ‘Intel Inside’nya,” kata Paul Winters.
Memberi label atau tidak, semua perusahaan makanan sintetis tentu ingin menghindari terjebak dalam posisi antara harus membela keamanan produk mereka dengan kepentingan informasi konsumen.

Food Labeling

Apapun arah kampanye pemasaran synbio, itu adalah salah satu yang dibentuk oleh wacana publik tentang pilihan makanan untuk mengurangi dampak tekanan ekologis akibat melonjaknya jumlah penduduk dunia dan meningkatnya kemakmuran.
“Itu mungkin semacam faktor penyeimbang sini,” kata Perner. “Orang-orang mungkin tidak senang tentang pendekatan makanan sintetis, tapi manfaatnya mungkin lebih besar daripada biaya bencana ekologi yang harus dibayar.”
Pada tahun 2012, lebih dari 100 kelompok lingkungan, agama dan advokasi konsumen menyerukan moratorium pada rilis komersial produk synbio sampai peraturan yang mengatur pengembangan biteknologi dibuat.
November 2014, perwakilan dari 194 negara anggota yang membentuk Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati menyerukan semua negara anggota untuk mengambil pendekatan “pencegahan” bagi pengembangan synbio dan hanya menyetujui produk tersebut untuk uji coba lapangan “setelah penilaian risiko yang tepat telah dilakukan”.
“Akan menjadi pertarungan besar tentang hal itu, saya pikir,” kata Jay. “Kau bicara tentang sesuatu yang benar-benar transformatif dan, untuk menggunakan istilah bisnis, mengganggu.”
Meskipun Norton mengatakan masyarakat lebih menyukai produk dari pertanian tradisional, konsumen akhirnya akan beralih ke synbio. Hal ini sudah terjadi pada obat-obatan dan bahan bakar dan makanan kemasan.
“Ini sangat sulit, mengingat cara kita berpikir tentang risiko makanan, untuk mengatakan sesuatu yang benar-benar aman dan tidak ada risiko,” kata Thompson. “Risiko Makanan sangat rumit. Tidak pernah jelas bahwa sesuatu yang kita makan atau secara tradisional dimakan adalah aman. Juga tidak jelas apakah kita pernah berpikir tentang hal ini dengan sangat hati-hati di masa lalu.” (theguardian/tvsx)
Stevia: genus dari sekitar 240 spesies dari ramuan dan semak dalam keluarga bunga matahari (Asteraceae), asli subtropis dan daerah tropis dari barat Amerika Utara ke Amerika Selatan. Para spesies Stevia rebaudiana, umumnya dikenal sebagai ‘sweetleaf, ‘daun manis, ‘Sugar Leaf, atau hanya ‘stevia, banyak ditanam untuk daun manis. Sebagai pemanis dan gula pengganti, rasa stevia memiliki onset lambat dan durasi yang lebih lama daripada gula, dan beberapa ekstrak yang mungkin memiliki pahit atau licorice seperti aftertaste pada konsentrasi tinggi.
Resveratrol: senyawa polifenol yang ditemukan dalam tanaman tertentu dan dalam anggur merah yang memiliki sifat antioksidan dan telah diselidiki untuk efek anti kanker mungkin. Namun, efek metabolik yang menguntungkan dari resveratrol telah jelas menunjukkan pada model binatang diabetes.
Laissez-faire: kebijakan atau sikap untuk membiarkan sesuatu berjalan secara alami, tanpa campur tangan manusia. Sinonim: noninterventionist, noninterventional, noninterfering, tidak terlibat, acuh tak acuh, lemah.

Komentar