oleh

KPK Nilai Ada Kecacatan Logika TGPF Bentukan Kapolri

-Berita-204 Dilihat
Jurubicara KPK Febri Diansyah [dok/net]
JAKARTA, SriwijayaAktual.com – Hasil investigasi Tim Gabungan Pencari
Fakta (TGPF) Novel masih mengecewakan bagi KPK secara khusus, dan bagi
masyarakat pada umumnya. Sebab, pelaku penyerangan terhadap Novel
Baswedan belum juga terungkap. 

Terlebih, TGPF dinilai cacat logika saat menyebut Novel diduga telah
melakukan excessive abuse of power atau telah dianggap menggunakan
kewenangannya secara berlebihan. 
Jurubicara KPK, Febri Diansyah mengatakan, pihaknya mengaku aneh dengan laporan TGPF tersebut.

“Jadi, logikanya pelaku merasa keberatan atau marah karena Novel
melakukan excessive abuse of power. Nah, pertanyaannya dari mana tim
gabungan pencari fakta tahu persepsi dari pelaku? Apakah TGPF sudah
memeriksa terhadap pelaku sehingga mengambil kesimpulan itu,” ujar Febri
kepada wartawan di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis
(18/7/2019).  

“Atau hanya diambil sebagai kesimpulan yang dasarnya kita tidak tahu? Ini tidak terjelaskan kepada publik,” imbuhnya.
Sebelumnya, TGPF menduga ada upaya penggunaan kewenangan secara
berlebihan di balik penyerangan air keras terhadap penyidik senior KPK,
Novel Baswedan.

“TPF menemukan fakta bahwa terdapat probabilitas dari kasus yang
ditangani oleh korban yang berpotensi menimbulkan serangan balik atau
balas dendam akibat adanya dugaan. Sekali lagi kami tekankan, akibat
adanya dugaan penggunaan kewenangan secara berlebihan. Excessive abuse
of power,” kata tim pakar TGPF Nur Kholis.

Berita Terkait: Kapolri Tito Hemat Bicara Soal Berakhirnya Satgas Kasus Novel Baswedan

Terkait hal itu, Febri menegaskan bahwa pegawai KPK dalam melaksanakan
tugasnya dipastikan tidak melakukan sebagaimana yang dituduhkan oleh
TGPF. Sebut saja penanganan kasus KTP-El yang menjerat ketua MK Akil
Mochtar, hingga kasus Buol dan lain-lain. 


“Itu dilakukan tim, bahkan tidak hanya satu satgas dan tidak hanya di
penyidikan, ada penyelidik dan penuntut. Semuanya sudah berkekuatan
hukum tetap. Tidak ada istilah exesive use of power yang dilakukan dalam
proses itu,” lanjutnya.

Baca Juga: Pegawai KPK: Tim Bentukan Kapolri Pojokkan Novel Baswedan

Bahkan, Febri menilai sikap TGPF ini seakan menempatkan Novel sebagai layaknya pihak yang melakukan serangan.


“Oleh karena itu kami sangat menyayangkan alih-alih kita mendapatkan
titik yang lebih terang pelaku penyerangan Novel. Sekarang justru ada
beberapa poin yang terkesan menyerang, atau menjadikan novel korban
lebih dari satu kali. Jangan sampai ada isu yang membuat novel menjadi
korban berkali-kali,” demikian Febri. [rml]

Komentar

Banyak Berita Terhangat Lainya