oleh

Kurikulum Bakal Berubah Lagi : Bahasa Inggris SMP-SMA Dihapus, SD 5 Mata Pelajaran

-Berita-141 views
loading...


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Ilustrasi/Guru
JAKARTA, SriwijayaAktual.com – Kurikulum pendidikan di tanah air nampaknya bakal berubah lagi.

Hal itu terungkap saat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud)
Nadiem Makarim mengundang sejumlah organisasi guru ke kantornya. Dia
ingin mendengar cerita dan solusi masalah pendidikan tanah air dari para
guru.

Dalam pertemuan pada 4 November 2019 kemarin itulah muncul wacana mengubah kurikulum.
Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia Muhammad Ramli Rahim ikut hadir dan
berdiskusi dalam acara itu.

Menurut dia, rencananya, Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris,
serta pendidikan karakter berbasis agama dan Pancasila menjadi mata
pelajaran (mapel) utama di SD.

“Karena itu, mapel bahasa Inggris dihapus untuk SMP dan SMA. Sebab, sudah dituntaskan di SD,” kata Ramli.

Pembelajaran bahasa Inggris yang dimaksud Nadiem, lanjut dia, lebih fokus mengajarkan percakapan. Bukan tata bahasa.

Kemudian, untuk SMP tidak boleh lebih dari lima mapel yang diajarkan
kepada siswa. Sedangkan di SMA, maksimal enam mapel tanpa penjurusan.

“Bagi siswa yang ingin fokus pada keahlian tertentu dipersilakan memilih SMK,” terang Ramli, menirukan ucapan Nadiem.

Karena SMK fokus mengajarkan keahlian tertentu, muncul wacana untuk menggunakan sistem SKS (Satuan Kredit Semester).

Dengan begitu, siswa yang dianggap pintar dan lebih cepat menguasai
keahlian tertentu bisa lulus setelah dua tahun menempuh pembelajaran di
sekolah. Sedangkan siswa yang lambat menyerap ilmu bisa sampai 4 tahun
untuk lulus.

Menurut Ramli, Nadiem bahkan mengusulkan ujian kelulusan SMK tidak hanya
normatif. Lebih ke praktis untuk mengukur ketrampilan dan keahlian
siswa. “SMK tidak boleh kalah dari Balai Latihan Kerja yang hanya tiga,
enam, atau 12 bulan saja,” ujarnya.

Sementara itu, Nadiem mengungkapkan bahwa dirinya hanya mengikuti arahan
Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk meningkatkan dan mengelola sumber
daya manusia Indonesia agar lebih maju. Menurut dia, mengubah kurikulum
itu bukan hanya mengubah konten.

Esensinya adalah menyederhanakan dan mengubah cara penyampaian materi kepada siswa untuk tidak hanya sekadar menghafal.

“Dan itu adalah PR (pekerjaan rumah) saya untuk bisa mengubahnya. Tapi
itu bukan sesuatu yang bisa diubah dalam waktu cepat. Butuh pemikiran
yang sangat matang dan butuh masukan dari para guru dan pihak lain.
Jadi, penyempurnaan, penyederhanaan, dan perubahan kurikulum itu saya
mengacu pada guru,” beber mantan bos Goj-Jek itu. Sebab, kata Nadiem,
guru yang paling mengetahui apa yang dibutuhkan siswa-siswanya.

Menurut dia, guru-guru era sekarang sudah canggih. Mampu menggunakan
teknologi sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Dengan teknologi, guru bisa bebas memilih konten seperti apa yang cocok
dengan materi pelajaran. Dengan begitu, banyak inovasi akan muncul.

Dari momen-momen tersebut bisa memicu pemerintah daerah untuk menggelar
pelatihan guru berbasis teknologi. Dengan memanfaatkan teknologi,
pembelajaran bisa menjadi lebih efisien dan fleksibel.

“Namun yang perlu diingat, teknologi tidak bisa menggantikan peran
seorang guru. Karena pembelajaran yang sesungguhnya adalah adanya
koneksi batin guru dan siswa. Teknologi adalah alat, bukan segalanya,”
jelasnya.

Nadiem membenarkan, dalam pertemuan dengan beberapa organisasi guru itu,
banyak guru yang ingin bebas dan merdeka untuk memberikan yang terbaik
kepada siswanya. Dalam arti, mereka tidak dibebani tugas yang sifatnya
administratif.

“Kalau kebanyakan tugas untuk guru itu soal administratif (seperti
sertifikasi atau kenaikan pangkat), tentunya waktu untuk anak dan energi
akan terkuras. Itu yang harus dipikirkan,” beber Nadiem. [radarbogor]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed