oleh

Lima Bentuk Dugaan Kecurangan Kualitatif Jokowi-Maruf

Ilustrasi

JAKARTA, SriwijayaAktual.com – Sejumlah argumentasi hukum kualitatif
dan kuantitatif turut ditambahkan dalam perbaikan berkas gugatan hasil
Pilpres 2019 yang diajukan Tim Kuasa Hukum pasangan Prabowo
Subianto-Sandiaga Uno ke Mahkamah Konstitusi (MK), Senin (10/6) kemarin.

Ketua Tim, Bambang Widjojanto menguraikan bahwa dalam argumen
kualitatif, pihaknya mendalilkan pasangan Joko Widodo-Maruf Amin telah
melakukan kecurangan pemilu (electoral fraud) yang bersifat terstruktur,
sistematis, dan masif (TSM).
Dugaan kecurangan itu terbagi menjadi dua, yaitu penyalahgunaan
kekuasaan (abuse of power) dan penyalahgunaan sumber daya dan sumber
dana negara (misuse of state resources).

“Dengan menggunakan posisinya sebagai presiden petahana, paslon 01
menggunakan semua resources. Sepintas tampak biasa dilakukan berdasarkan
hukum sehingga terkesan absah. Akan tetapi bila dikaji lebih dalam
terlihat tujuannya adalah mempengaruhi pemilih  memenangkan Pilpres
2019,” tegas mantan Komisioner KPK itu dalam keterangan tertulisnya,
Selasa (11/6/2019). 

Secara lebih detail, pria yang akrab disapa BW itu merinci ada lima
bentuk dugaan kecurangan kualitatif yang dilakukan Joko Widodo-Maruf
Amin. Kelima bentuk kecurangan itu adalah penyalahgunaaan APBN dan
program kerja pemerintah, penyalahgunaan birokrasi dan BUMN, dan
ketidaknetralan aparatur negara seperti polisi dan intelijen.

Selanjutnya, ada kecurangan mengenai pembatasan kebebasan media dan
pers, serta diskriminasi perlakukan dan penyalahgunaan penegakkan
hukum. 

“Kecurangan TSM adalah pelanggaran yang sangat prinsipil dan mendasar
atas amanah pemilu jurdil sebagaimana diamanahkan berdasarkan pasal 22E
ayat 1 UUD 1945,” terangnya. [rmol]


Komentar

Banyak Berita Terhangat Lainya