oleh

Mahasiswi Cantik Dari Universitas Brawijaya Malang Ini, Tulis Surat Cinta Untuk Bupati Tuban

-Berita-271 Dilihat
TUBAN-JATIM, SriwijayaAktual.com – Gerakan Tuban Menulis mengadakan acara Rembuk Bareng Pemuda Tuban
dan Awarding Lomba Menulis Surat untuk Bupati Tuban, Provinsi Jawa Timur (Jatim). Acara ini digawangi
oleh Mutholibin selaku ketua Gerakan Tuban Menulis.

Dalam
sambutannya ia menyampaikan bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh
para pemuda, oleh karena itu perlu adanya sumbangsih yang positif yang
diprakarsai oleh para pemuda.

Imroatin Nurillah, seorang gadis
berasal dari kecamatan Jatirogo telah ditetapkan menjadi juara pertama
peserta Lomba Menulis untuk Bupati yang diselenggarakan oleh Komunitas
Gerakan Tuban Menulis.

Gadis ini menyurati bapak Bupati Tuban
dengan memberikan saran dan rekomendasi untuk pemerintahan Tuban
kedepan. “Tuban perlu adanya pemerataan potensi yang dikembangkan bukan
hanya desentralisasi yang berpusat di Tuban kota”, kata mahasiswi Arsitektur Universitas Brawijaya (UB) Malang ini.

Bapak Wakil
Bupati H. Ir. Noor Nahar Husein, M.Si yang hadir mewakili memberikan
tanggapan yang positif dan mengapresiasi terhadap kritik dan sarannya.

Beliau
berpesan agar saat ia lulus untuk mendatanginya dan menawarinya untuk
mendesain alun-alun di daerah kecamatan Jatirogo agar para PKL lebih
tertata. Berikut tulisan surat dari saudari Imroatin Nurillah :

Surat Cinta, untuk Pak Huda..

Assalamualaikum wr..wb..
Bagaimana kabar Bapak beserta keluarga hari ini? Semoga selalu sehat dan selalu dilimpahi cinta-Nya. Amiiin…

Kalau
boleh jujur, saya sebenarnya tidak ingin berbicara dengan Bapak hanya
melalui surat. Bila berkesempatan,ingin rasanya bisa duduk santai
bersama Bapak, ditemani secangkir kopi yang masih mengepul hangat,
lengkap dengan obrolan ngalor ngidul saya ini. Tapi saya tahu dan sadar
diri, Bapak tidak akan punya banyak waktu untuk sekedar ngopi bersama
saya, mahasiswa arsitektur, pejuang skripsi yang hanya bercita-cita
untuk lulus..hehehe…

Saya sangat tahu, Bapak punya jam terbang
tinggi mengurusi dengan susah payah dan semoga dengan ikhlas pula segala
tetek bengek tentang daerah kita yang kaya potensi ini.

Di pagi
mendung nan syahdu ini, saya sedang sangat tertarik membahas cinta,Pak.
Bolehkan? Saya menulis ini, juga karena saya cinta dengan kota kecil
dimana saya dibesarkan. Kota tempat dimana saya ingin selalu pulang
sejauh manapun saya pergi. Bapak tahu kan, wujud cinta itu peduli tanpa
henti.

Saya cinta, maka saya belajar peduli dengan baik.
Bukankah
cinta itu membawa energi positif, Pak? Nah, dengan pernyataan itu,
tidakkah Bapak ingin, menumbuhkan juga cinta-cinta yang lain selain
saya? Tidakkah Bapak ingin menebar cinta pada semua lapisan masyarakat
di kota Tuban ini tak terkecuali. Menurut saya, tidak ada yang lebih
baik dari seluruh masyarakat yang sangat mencintai kotanya.

Tidak ada yng lebih istimewa dari, seorang pemimpin yang dicintai rakyatnya.

Bukan
bermaksud menggurui, saya hanya ingin berpendapat, Pak. Masih tentang
cinta. Meskipun saya masih belia dalam urusan cinta,tapi percayalah,Pak.

Saya pernah jatuh cinta, meskipun harus patah.Hehe.. Belajar
dari pengalaman abal-abal saya, untuk membuat seseorang jatuh cinta,
kita tak butuh banyak bertingkah. Pertama adalah merebut perhatiannya
mendengarkan setiap ceritanya, setiap keluh kesahnya, setiap cita-cita
dan harapannya kemudian kita berusaha mewujudkan semampu kita. Bukankah
begitu, Pak?

Saya sama sekali tidak ingin menghakimi,Bapak. Saya
hanya ingin menjadi lebih dari suara-suara malas masyarakat yang hanya
bisa menggerutu menuntut ini itu kepada Bapak tanpa memberi saran secara
konkret.

Hingga, saya mohon, dengarkan cita-cita saya barang sejenak. Ini mewakili cita-cita kami para pemuda kota ini,Pak. Insyaallah..
Pertama,entah
kenapa, kami punya harapan, kota Tuban ini bisa menjadi kota dengan
karakter kreativitas seni dan teknologi informasi kuat yang saling
melengkapi.

Potensi seni Tuban, saya tahu Bapak pun pasti
membanggakannya. Hasil karya seni Tuban banyak dikenal diluar sana.
Terutama batik gedog. Kemudian disusul kerajinan ongkek dan kerajinan
gerabah.
Tidakkah bapak ingin, merebut perhatian masyarakat, dengan
misi memeperkuat karakter kota seni dengan mulai membuat pemerataan
potensi yang dikembangkan bukan hanya desentralisasi yang berpusat di
Tuban kota, tapi juga menyeluruh ke objek terdalam pedesaan. Mewadahi
segala jenis aktivitas seni yang dapat dikembangkan pada setiap daerah
menjadi UMKM. UMKM dengan free modal atau pinjaman UMKM free bunga.

Serta
membuatkan sentra UMKM pada setiap kecamatan di kabupaten Tuban. Setiap
kecamatan memiliki ciri seni masing-masing. Kerek dengan batiknya,
jatirogo dengan kerajinan mebelnya dan sebagainya. Setiap kecamatan
wajib menelurkan dan memperkuat karya seninya hingga mampu menjual.

Dengan
cara seperti ini, Tuban bukan hanya menjadi kota dengan seribu macam
karya seni, namun cara ini juga mampu membantu menaikkan perekonomian
rakyat kecil. Bahkan jika cara ini dapat berkembang dengan baik, setiap
kecamatan akan mampu menamai dirinya menjadi “Kampung seni batik gedog,
kampung seni ongkek, kampung seni gerabah, kampung seni mebel, dsb”
misalnya.

Mewujudkan karakter seni, bukan hanya dengan cara itu
saja. Bukan hanya dicapai dengan cara parsial yang ditanamakan di tiap
daerah kecamatan melalui pengembangan seni untuk UMKM.Tapi bisa melalui
wujud fisik dengan menanamkan karakter nyeniman pada infrastrukturnya.
Boleh jadi dengan membangun fasilitas-fasilitas publik dengan desain
unik berbeda dari kota-kota lain.

Dengan cara mengadopsi seni
budaya khas Tuban. Saya melihat sejauh ini, pemerintahan masih kurang
berani mengeksplore lebih jauh tentang hal ini. Sejauh ini hanya sebatas
adanya Dome di rest Area dengan fasad gambar motif batik Tuban,
lampu-lampu jalan dan pot bunga sebagai street furniture yang
difinishing dengan motif batik Tuban. Hanya sebatas itu saja.

Bagaimana
kalo kita bisa mencoba meksplore lebih dalam, dengan mulai berani
membuat bangunan publik berkarakter seni kota Tuban. Saya rasa, dengan
memanggil arsitek-arsitek muda yang ikhlas tanpa dibayar dan berasal
dari kota Tuban, mampu mengubah bangunan Publik di kota Tuban menjadi
bangunan lebih berkarakter seni kota Tuban yang kuat.

Misalkan
saja dengan merenovasi museum kambang putih, perpustakaan umum kota
Tuban, rumah sakit umum Tuban, kantor pemerintahan, GOR, Stadion serta
bangunan-bangunan publik yang penting di kota Tuban.

Serta
membuat ikon-ikon berupa sculpture atau patung unik berkarkter seni Kota
Tuban (misalkan sclupture patung ongkek di tengah kota). Yang mana
ikon-ikon ini melekat dipikiran setiap lapisan masyarakat. Ikon-ikon
bangunan ini akan menjadi “yang pertama melintas dibenak semua orang”
ketika ada yang menyebut kota Tuban.

Masih dalam memperkuat
karakter seni, saya dan yang lainnya, membayangkan apabila pemerintah
menyediakan lahan kusus untuk para penggiat seni mural (seni
graffiti-menngambar pada tembok). Dimana tembok-tembok itu nantinya
berisi gambar-gambar yang bukan hanya bernilai seni, namun juga
menggambarkan poster-poster tentang kritikan, saran serta “cuap-cuap”
warga Tuban tentang aspirasi mereka. Dari sini juga tembok yang sudah
dilukis, akan mengurangi tangan-tangan usil menempeli tembok-tembok
kosong itu dengan brosur iklan-iklan berupa kertas-kertas tempelan yang
sangat mennganggu estetika ruang kota.

Sudah cukup saya rasa
berbicara tentang Tuban dengan karakter seninya. Saya akan beralih
membahas tentang harapan Tuban menjadi Kota dengan teknologi informasi
yang maju. Saya rasa teknologi informasi di Kota Tuban belum begitu
dipedulikan.

Masyarakat belum memimiliki kesempatan mengakses
berbagai macam informasi yang sengaja diperuntukkannya dari pemerintah.
Semisal pelayanan akses internet secara gratis untuk masyarakat selama
ini saya lihat hanya ada di Perpustakaan Umum Kota Tuban.

Selain
itu pemerintah belum menyediakan secara khusus ditempat lain. Minimnya
pelayanan internet membuat masyarakat kurang aktif dalam menyikapi
segala persoalan publik. Informasi yang kurang, sedikit menghambat
perkembangan pola pikir untuk menjadi warga yang penuh apresiasi,kritis,
aktif dan inovatif.

Turut campur masyarakat dalam mengaspirasi keharmonisan kota menjadi sangat minim pula.

Untuk itu, saya selaku wakil masyarakat, ingin memberikan saran saya sekali lagi, Pak. Masih boleh kan?

Andai
saja di Kota Tuban, disediakan spot-spot khusus semisal “warung
nongkrong berinternet gratis” yang mana ditempat itu disediakan wifi
gratis serta tempat yang nyaman untuk mengakses internet secara gratis.
Tempat dapat berupa taman-taman kecil yang merupakan lahan terbuka hijau
(Green zone) dengan pohon-pohon rindang mengelingi, dan tempat
duduk-duduk santai. Dimana masyarakat dapat dengan nyaman berlama-lama
disana menikmati layanan internet gratis.

Dan saya harap, tempat
tersebut tidak hanya ada di pusat kota saja. Namun harus menyebar ke
seluruh pelosok Kota Tuban. Setidaknya ada minimal satu tempat “warung
nongkrong berinternet gratis” di setiap kecamatan. Bisa dibayangkan
bukan? Bagaimana masyarakat yang tinggal di desa pun dapat menikmati
layanan internet dengan puas.
Dimana informasi tentang dunia luar
akan mengalir pada semua lapisan masyarakat yang haus akan informasi.
Pola pikir yang penuh apresiasi,kritis, aktif dan inovatif masyarakat
akan maju pesat.

Selain internet gratis, bisa jadi menyediakan
informasi berupa media cetak koran gratis untuk masyarakat. Memasang
koran yang di update setiap hari di tempat yg disediakan (semacam
majalah dinding) pada sudut-sudut ruang publik yang banyak di akses oleh
masyarakat.
Misalkan di taman kota, di pinggir-pinggir trotoar dan
tempat-tempat lain yang mudah ditemukan. Koran yang menyajikan berita
setiap hari akan mengembangkan masyarakat untuk bersikap kritis dan
tidak ketinggalan jaman.

Didukung dengan dua aspek tersebut, saya
rasa ini cukup menumbuhkan cinta-cinta dari yang lain selain saya
terhadap kota ini, terhadap Bapak selaku pemimpin kota ini. Ketika
mereka merasa sudah dinyamankan berada di kota ini, mereka akan
mencintai bapak dengan sepenuh hati. Saya sangat yakin sekali akan hal
itu.

Sebelum saya mengakhiri surat saya, saya ingin mengutip
beberapa kata orang-orang bijak tentang cinta, Pak. Semoga bisa menjadi
sedikit suntikan semangat kepada Bapak untuk terus mencintai kota kecil
saya ini tanpa henti. Dan selalu memimpin dengan penuh cinta.


Cinta bukanlah penuntutan, penguasaan, pemaksaan, dan pengintimidasian.
Tak lain itu hanyalah cara manusia mendefinisikannya. Karena cinta
adalah perjuangan, pengorbanan, tanggungjawab, kejujuran, dan keikhlasan

– Cinta yang menciptakan peradaban mulia. Melahirkan generasi
bercita rasa tinggi, yang tak mau mengintimidasi, bahkan menjadi solusi
di zaman ini –

– Cinta itu memberi untuk menerima sekaligus memberi untuk menumbuhkan –

– Yakinilah bahwa cinta bukan hanya sekedar hiasan bibir, atau syair para pujangga. Namun ia menjadi kekuatan yang menggerakan –
Mungkin
semua yang saya ungkapkan sedikit terkesan merayu ya, Pak? Hehe… Tak
apalah. yang penting saya tidak menggombal ya, Pak. Karena saya pun
sedang berusaha mencintai dengan baik dan hanya mampu dengan cara saya
yang seperti ini.

Sekiranya cukup sekian yang ingin saya
sampaikan.Mohon maaf kalo benar-benar terlalu ngalor ngidul dan sangat
picisan apa yang saya bicarakan. Sekali lagi mohon maaf yang tak
terhingga atas kata-kata yang mungkin salah dan menyakiti hati Bapak.
Serta saya ucapkan terima kasih kepada Bapak, sudah meluangkan waktu
untuk bercengkrama dengan tulisan saya. Semoga Bapak membaca surat ini
dengan mencukupkan secangkir kopi. Supaya yang sekiranya pahit, masih
saja ada bagian yang terkesan manis.
Akhir kata, Wassalamualaikum wr.wb.

Ps: Mohon
doanya untuk saya segera lulus kuliah ya, Pak. Supaya saya bisa segera
kembali ke Tuban. Melahirkan karya saya dibidang arsitetektur untuk
menyumbang kemajuan kota Tuban. Hehehe…

Sumber, Berita Jatim

Komentar