oleh

Mantan KSAU: Dunia Sudah Membagi Luar Angkasa, Kita”Indonesia Boro-Boro…

-Berita-471 Dilihat
Ilustrasi/Luar Angkasa
JAKARTA, SriwijayaAktual.com – Negara sebesar Indonesia dengan wilayah udara yang begitu luas
membutuhkan lembaga think thank kedirgantaraan yang dapat diandalkan.
Lembaga tersebut idealnya bekerja secara independen memberikan masukan
kepada pengambil kebijakan agar tidak terjadi kekosongan kebijakan di
tengah perkembangan dunia kedirgantaraan yang begitu pesat.

Selain kepada pemerintah, lembaga itu pun idealnya mengedukasi publik
agar memiliki pemahaman yang memadai mengenai  perkembangan
kedirgantaraan mengingat aktivitas kedigantaraan semakin dekat dengan
kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

 pertemuan ke-9 PSAPI di ruang pertemuan lantai 8, Gedung Karsa, Kementerian Perhubungan di Jalan Medan Merdeka Barat, Senin pagi (5/8/2019)
Demikian antara lain disampaikan Ketua Pusat Studi Air Power Indonesia
(PSAPI) Marsekal (Purn) Chappy Hakim ketika membuka pertemuan ke-9 PSAPI
di ruang pertemuan lantai 8, Gedung Karsa, Kementerian Perhubungan di
Jalan Medan Merdeka Barat, Senin pagi (5/8/2019).

Chappy berharap, PSAPI yang juga kerap disebut sebagai Air Power Center of Indonesia (APCI) dapat mengambil peran tersebut.

Terkait dengan perkembangan dunia kedirgantaraan yang begitu pesat,
mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) itu mencontohkan sebuah
diskusi di Leiden, Belanda, sekitar dua bulan lalu yang dihadirinya.

“Saya yakin kalau seminar itu diadakan di Jakarta akan dianggap sebagai
dagelan dan ditertawakan orang. Topiknya adalah block building at the
outer space,” ujar Chappy Hakim seperti dikutip dari ZonaTerbang.Id.

“Bayangkan, dari sekarang mereka sudah bikin kapling-kapling karena
ternyata ada potensi mineral dan tambang (di luar angkasa) yang sangat
dibutuhkan manusia di masa depan, dan sekarang sudah mulai menuju ke
dispute,” sambungnya sambil menambahkan sekitar lima tahun lalu hal ini
baru berada pada tahap Research and Development (RND).

“Kalau kita’ Indonesia boro-boro untuk outer space (luar angkasa). Untuk air (udara) saja kita masih sedikit perhatian,” katanya lagi.
Chappy Hakim sudah lama membayangkan sebuah lembaga think thank
kedirgantaraan yang kredibel. Sejak pensiun di tahun 2005, ia kerap
mengajak beberapa temannya berkumpul untuk membicarakan hal itu.
Akhir tahun lalu, pria kelairan Jogjakarta, 17 Desember 1947 ini
meluncurkan tiga buku kedirgantaraan, yakni “Penegakan Kedaulatan di
Udara”, “Menata Ulang Penerbangan Nasional”,  dan “Tol Udara Nusantara”.
Usai peluncuran ketiga buku itu Chappy Hakim mulai mematangkan rencana
pembentukan lembaga think thank dan mengajak sejumlah temannya serta
pihak-pihak yang memiliki perhatian yang sama pada perkembangan dunia
kedirgantaraan untuk berkumpul setidaknya sebulan sekali.
“Saya dulu merasa sendirian lalu mengundang beberapa teman dekat.
Sekarang setiap bulan kita bisa bertemu seperti ini. Luar biasa,” kata
dia.
Chappy mengatakan, sejumlah peristiwa yang terjadi belakangan ini,
termasuk kekacauan sistem digital Bank Mandiri dua pekan lalu dan
pemadaman listrik di Pulau Jawa kemarin (Minggu, 4/8/2019) memberikan
gambaran mengenai tantangan yang dihadapi dunia kedirgantaraan
Indonesia.

“Hal-hal itu juga merupakan tantangan (bagi dunia kedirgantaraan) yang
tidak terlihat secara visual, tetapi berakibat fisik. Belum lagi kalau
kita bicara tentang Artificial Intelligent dan Cyber War. It is our
future,” demikian Chappy Hakim.(rmol)

Komentar

Banyak Berita Terhangat Lainya