oleh

Menakar Pertemuan Mega-Prabowo, Pertanda Koalisi Jokowi-Maruf Retak?

-Berita-260 Dilihat

KOLOM PEMBACA, SriwijayaAktual.com – Pertemuan Ketua Umum Partai Gerindra
Prabowo Subianto dengan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri dihiasi
senyum dan tawa. Pertemuan dua pimpinan partai besar ini juga banyak
memunculkan spekulasi di publik.

Menurut Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara
(Laksamana), Samuel F Silaen, peta pepolitikan langsung berubah.

“Peta politik berubah drastis bagaikan bola liar. Ini berdampak serius
kepada soliditas koalisi pendukung Joko Widodo (Jokowi). Apakah ini
pertanda adanya keretakan di kubu koalisi 01 pendukung Jokowi-Maruf?”
kata Samuel dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Rabu
(24/7/2019).

Bukan tanpa alasan, komposisi koalisi Jokowi-Maruf terkenal gemuk dan diisi parpol dengan perolehan suara banyak di Pemilu 2019.
“Perebutan kursi menteri ini emang keliatan cukup panas,” lanjutnya.

Saat ini Partai Gerindra masih belum memberikan kepastian soal
kesediannya masuk ke kabinet Jokowi. Namun pertemuan dua pimpinan ini
bisa berbicara lain.

“Dengan adanya pertemuan Prabowo dan Megawati memberikan sinyal kuat
terciptanya peta politik baru dalam mengisi kabinet Jokowi jilid dua
ini,” lanjut Samuel F Silaen yang juga meupakan Ketua Umum Generasi Muda Republik Indonesia (GEMA-RI) ini.

Untuk saat ini, PR Jokowi adalah menyusun kabinet 2019-2024 dengan tetap
menjaga keseimbangan partai politik tanpa harus mengenyampingkan
aspirasi masyarakat.

Baginya, tidak ada kawan dan lawan abadi dalam politik. Yang ada hanya
kepentingan abadi, apalagi musuh bebuyutan. Ini juga sebagai pelajaran
penting bagi rakyat di akar rumput dalam menyikapi perbedaan pandangan
politik yang dipertontonkan oleh elite politik.

“Rakyat jelata jangan sampai karena beda pilihan politik jadi musuh,
apalagi sampai baku bunuh,” kata aktivis organisasi kepemudaan ini.

Ia menambahkan, Indonesia terlalu mahal jika untuk dijadikan kelinci
percobaan dari kaum komparador pemburu rente hingga mengorbankan masa
depan negeri ini hanya untuk memuaskan syahwat politik kaum ‘borjuis’
yang terkadang berjubahkan agama.

“Politik itu sesungguhnya sangat mulia, yakni memperjuangkan dan
memperbaiki kesejahteraan rakyat yang lebih baik lagi, “tutup Silaen. [md]

Komentar

Banyak Berita Terhangat Lainya