oleh

Menghina Manusia Langsung Ditangkap, Menghina Rasulullah Bebas!

loading...

Penulis: Tarmidzi Yusuf

KOLOM PEMBACA, SriwijayaAktual.com – Kasus penistaan agama marak lima tahun terakhir. Seorang kafir Ahok
harus demo umat Islam berjuta-juta dan berjilid-jilid baru diproses
hukum. Kafir Ahokpun dipenjara secara spesial di Mako Brimob Depok bukan
di Lapas pada umumnya. Hukum belum berpihak kepada keadilan dan
kebenaran.

Kini, kafir Ahok diberi karpet merah sebagai Komisaris Utama Pertamina.
Gajinya 3,2 miliar per tahun. Seorang penista agama mendapat posisi
strategis di BUMN tanpa melihat track record yang bersangkutan. Sangat
melukai hati umat Islam. Hukum ‘dipelintir’ oleh rezim untuk
membersihkan noda hitam yang dilakukan si kafir Ahok.

Sukmawati sudah dua kali melakukan penistaan agama, bebas
sebebas-bebasnya. Muwafiq (namanya beda w dan n. kalo n jadi Munafiq),
Ade Armando dan Abu Janda yang kita ragukan keislamannya sudah tak
terbilang melakukan penistaan agama dan tokoh Islam, juga bebas.
Jangankan ditangkap, diproses hukumpun tidak.

Giliran Wakil Presiden dihina dengan sebutan ‘babi’ langsung ditangkap.
Kenapa ada perlakuan istimewa kepada penista agama seperti Sukmawati,
Muwafiq, Ade Armando dan Abu Janda. Seolah tidak tersentuh hukum.

Sejak kapan Presiden maupun Wakil Presiden lebih tinggi kedudukannya
terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Presiden, Wakil
Presiden maupun manusia lainnya bukan nabi, tidak dijamin masuk surga.
Sementara Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seorang nabi yang telah
dijamin masuk surga. Teladan umat manusia dan sebaik-baik manusia di
muka bumi.

Kenapa hukum dan penguasa tebang pilih. Apa memang ada yang memelihara
manusia hina seperti Sukmawati, Muwafiq, Ade Armando dan Abu Janda untuk
melakukan penistaan agama.

Umat Islam sangat sabar. Agamanya dihina tidak bertindak anarkis. Masih
berharap ketiga orang tersebut ditangkap dan diadili. Begitulah hukum
manusia tidak bisa berbuat adil. Sementara hukum Allah Ta’ala sangat
adil. (*)

Bandung, 9 Rabiul Tsani 1441/6 Desember 2019

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed