oleh

Mengintip Lebih Dekat Proses Memandikan Keris di Malam 1 Suro, Pakai Mantra Khusus?

-Berita-1158 Dilihat
Malam satu Suro

JAKARTA, SriwijayaAktual.com  – Dalam tradisi Jawa, di malam 1 Suro,
pemilik keris akan ‘memanjakan’ barang pusaka tersebut. Beberapa
percaya kalau keris yang dimandikan di malam 1 Suro akan membawa
kebaikan, tentu seizin Tuhan Yang Maha Esa.
Salah satu kegiatan yang dilakukan dalam menyambut malam 1 Suro
adalah memandikan keris atau yang dalam istilah Jawa disebut dengan
Jamasan. Ritual ini kerap dianggap sebagai upaya pemujaan. Padahal,
menurut Penyuci Keris di Museum Pusaka Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
Nasib Hadi Prayitno, memandikan keris adalah upaya memelihara
kebudayaan.
“Orang-orang masih banyak salah persepsi mengenai memandikan keris di
malam 1 Suro. Tidak dipungkiri memang ada beberapa orang yang mengisi
keris mereka dengan spirit, tapi kalau saya pribadi menilainya itu
adalah upaya memelihara barang pusaka agar tidak keropos dimakan waktu
akibat karat,” paparnya pada Okezone saat ditemui langsung di ruang
praktiknya di Museum Pusaka TMII, Jakarta, Sabtu (31/8/2019).
Nasib melanjutkan, tidak ada salahnya untuk Anda yang memiliki keris
untuk merawat barang pusaka tersebut, terlebih jika itu adalah
kenang-kenangan dari kakek atau orangtua. Sebab, jika keris
ditelantarkan begitu saja, Nasib melihatnya, itu akan membuat keris akan
punah karena rusak tak terjaga kualitas barangnya.
Di kesempatan itu juga Nasib mengajak Okezone melihat langsung
proses jamasan atau penyucian keris di ruang praktiknya. Penasaran
bagaimana Nasib memoles keris agar terlihat baru kembali? Apakah memang
ada campur tangan jin di saat membersihkan keris?
Museum Pusaka TMII menerima jasa penyucian keris secara umum.
Jadi, tak heran kalau di ruang penyucian keris terdapat banyak keris
yang antre untuk dimandikan. Di momen ini, Okezone diperlihatkan proses
memandikan keris ‘Sabuk Inten Majapahit Luk 13’. Bagaimana runtutannya?
Hal pertama yang dilakukan Nasib adalah mengucap niat dan doa
sebelum melakukan pekerjaannya itu. Dia sendiri mengaku tak ada mantra
khusus yang digunakan di malam 1 Suro.
“Jadi, keris diangkat dan ditempatkan di tempat cuci. Setelah itu,
gosokkan jeruk nipis ke semua bagian keris untuk memastikan tak ada lagi
karat di sana. Setelah itu sikat dengan sabun cuci. Kalau sudah,
masukkan kembali keris ke larutan air kelapa muda,” papar Nasib.
“Saya mengucap doa seperti bismillah, shalawat, dan syahadat. Tidak ada pakai mantra-mantra khusus,” ungkapnya.
Setelah itu, baru kemudian memastikan apakah masih ada karat atau
tidak di keris. Jika masih, maka keris harus direndam di dalam wadah
berisi air kelapa hijau muda dan kembang 7 rupa. Jika keris sudah
dipastikan tak ada lagi karat, maka masuk ke tahapan selanjutnya yaitu
menyucinya dengan jeruk nipis dan sabun cuci.
Proses selanjutnya ialah mencelupkan keris ke dalam cairan warangan.
Cairan ini berwarna hitam yang terbuat dari perasan jeruk nipis dengan
arsenik. Fungsi warangan sendiri menurut Nasib adalah agar pemor atau
motif si keris bisa kembali muncul dan keris kembali berwarna hitam
pekat. Cairan ini menjadi kunci dari proses jamasan secara keseluruhan.
Sebab, jika warangan tidak dalam kondisi baik, maka warna hitam
yang sudah muncul di keris akan luntur setelah dibilias dengan air
mengalir. Makanya, proses penyimpanan warangan sangat spesial.
“Cairan itu nggak boleh sama sekali tercampur dengan cairan lain
bahkan puntung rokok. Jika terjadi, nanti hasil penyucian keris akan
gagal,” tegasnya. 
Di proses warangan juga keris direndam dalam waktu 5 hingga 15 menit.
Ini bertujuan agar cairan warangan bekerja maksimal dalam membuat
keris terlihat kembali seperti baru. Kalau ternyata keris masih
menyisakan karat, biasanya hasil akhirnya tidak akan mulus dan ini yang
menentukan kemahiran si penyuci keris.
Setelah proses itu, keris sudah terlihat seperti semula. Menariknya,
Nasib meletakkan keris yang sudah dicuci bersih di atas kain putih
kemudian ditaburi bunga 7 rupa. Di sisi pojok tempat meletakkan keris,
disajikan teh dan kopi pahit. Tidak bisa dipungkiri juga, ruangan
penyucian keris dipenuhi aroma menyan yang kuat yang dibakar di atas
arang membara.
“Saya tidak menutup pintu untuk siapa pun yang mau belajar
men-jamas. Malah, bagi saya itu adalah proses menyebarkan ilmu. Satu
hal yang mau saya sampaikan, jangan takut pegang keris dan jangan
selalu berpikiran keris itu ada isinya,” tambahnya. (tam/okezone)


Komentar