oleh

“Mengulang Sejarah Zaman Kerajaan Mataram”

-Berita-255 Dilihat

Oleh: Ki Bowo Dadigaro*
KEHIDUPAN manusia tidak ubahnya seperti kehidupan dalam pewayangan.
KOLOM PEMBACA-OPINI, SriwijayaAktual.com – Dalam wayang selain menokohkan tentang kebaikan, banyak juga tokoh yang
berperilaku jahat seperti suka membunuh, suka mengadu domba, suka
menyakiti orang lain, suka menggoda istri orang, hidup serakah, mengejar
kedudukan dan lainnya. 

Sementara itu di dalam dunia nyata, manusia saling fitnah, saling ejek,
saling hasut, saling tendang dan sikut, saling memerangi. Bahkan dalam
banyak hal manusia terasa lebih kejam daripada makhluk yang lain. Hal
tersebut dapat kita lihat di sekitar kita, terlebih lagi dalam alam
politik di tanah air.

Peristiwa pemilihan umum dan pasca pemilihan umum saat ini seperti telah
memamerkan seluruh sikap dan perilaku manusia, di mana kekuatan baik
dan buruk saling berebut untuk mendapatkan haknya agar mendapatkan
pengakuan, demi mewujudkan konsepsi kebahagian diri atau kelompoknya.

Berebut kekuasaan di dalam politik saat ini seperti mengulangi sejarah
zaman kerajaan Mataram yang bermula dari pertikaian antar-anggota
keluarga di istana Kasunanan Surakarta yang melibatkan para pewaris
kekuasaan wangsa Mataram, di mana ada tiga tokoh utama yang terlibat
dalam perang saudara ini, yaitu Susuhunan Pakubuwana II, Pangeran
Mangkubumi, dan Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyawa. 

Pakubuwana II, raja pendiri Kasunanan Surakarta dan Pangeran Mangkubumi
adalah kakak-beradik, sama-sama putra dari Amangkurat IV, (1719-1726).
Sementara itu Raden Mas Said merupakan salah satu cucu Amangkurat IV,
atau keponakan Pakubuwana II dan Pangeran Mangkubumi. 

Raden Said mengklaim bahwa ia berhak atas takhta Mataram yang diduduki
pamannya, Pakubuwana II. Ini lantaran ayah Raden Mas Said, Pangeran Arya
Mangkunegara, adalah putra sulung Amangkurat IV.

Arya Mangkunegara seharusnya menjadi raja Mataram sebagai penerus
Amangkurat IV. Namun, lantaran kerap menentang kebijakan VOC, ia
diasingkan ke Srilanka hingga meninggal dunia. VOC lantas menaikkan
putra Amangkurat IV lainnya, yakni Pangeran Prabasuyasa, sebagai
penguasa Mataram selanjutnya. Prabasuyasa inilah yang kemudian bergelar
Pakubuwana II (1745-1749) dan memindahkan istana dari Kartasura ke
Surakarta. 

Dalam suksesi kepemimpinan saat ini, Prabowo yang yang diyakini para
pendukungnya sebagai pemenang Pilpres dan berhak atas kursi kepresidenan
akhirnya kembali harus menerima kenyataan dengan dimenangkannya kubu 01
sebagai presiden dan wakil presiden dalam putusan Mahkamah Konstitusi
pada tanggal 27 Juni 2019.

Dalam kacamata spiritual, pertikaian pasca putusan MK masih akan tetap
berlangsung dalam bentuk yang berbeda dan ada kemungkinan dibawa ke
mahkamah internasional. Perpecahan di dalam masyarakat dan ketidakpuasan
dari berbagai pihak akan terus ditunjukkan sehingga membuat
pemerintahan Jokowi- Maruf Amin tidak berjalan dengan mulus. Terlebih
lagi akan menghadapi masalah ekonomi yang cukup serius.

Kendati tidak direcoki atau “dirusuhi” oleh kaum oposisi, pemerintahan
yang dipimpin Jokowi akan mengalami pelemahan akibat tata kelola
pemerintahan yang buruk sehingga menimbulkan semacam automatic
destruction atau penghancuran secara otomatis. Ibarat kata, tidak perlu
diganggu maka akan hancur sendiri.

Seperti halnya pertikaian antar-anggota keluarga di istana Kasunanan
Surakarta yang melibatkan para pewaris kekuasaan wangsa Mataram. Maka
dalam percaturan politik tanah air saat ini ada tiga kubu yang ikut
bermain, yaitu kubu Prabowo, kubu Jokowi, dan kubu yang punya agenda
tersendiri dan dimanfaatkan oleh pihak asing dengan menjalankan politik
devide et impera.

Dalam pemerintahan Jokowi mendatang akan terjadi pengkhianatan dari
dalam kubunya sendiri, di mana akan terjadi saling berebut pengaruh,
saling menjatuhkan satu sama lain dan membuat kebijakan yang kontra
produktif akibat politik balas budi. 

Hukum tidak berjalan sebagaimana mestinya, yang salah dibenarkan dan yang benar disingkirkan serta dikucilkan.

Gejolak politik dan ekonomi yang terjadi dalam masa mendatang akan
menimbulkan prahara diberbagai daerah akibat krisis kepercayaan terhadap
kepemimpinan nasional. 

Karena Tuhan itu maha baik, semua doa yang dipanjatkan baik dari kubu 01
maupun 02 itu akan dikabulkannya untuk Indonesia melalui cara-Nya
sendiri. Saat ini Dia tengah mengabulkan doa dari kubu 01, setelah itu
doa 02 pun akan dikabulkan-Nya. 

Semua ini hanya masalah waktu untuk diwujudkan Sang Penguasa Alam
semesta, karena tidak ada hal abadi di muka bumi. Seorang pemimpin yang
tengah berkuasa sekalipun pada saat-Nya akan menemui Sang Pencipta. [*]

*) Pengamat Spiritual Politik

Komentar

Banyak Berita Terhangat Lainya