oleh

‘Mewaspadai Skenario 1965, 1998 dan Tahun 2019’

loading...
Ilustrasi

Oleh: Anwar Hudijono
Wartawan Senior

KOLOM-OPINI, SriwijayaAktual.com – MENJELANG pengumuman hasil Pilpres tanggal 22 Mei 2019, suhu politik
Indonesia kian pengap, sumuk, panas layaknya mendekam di bawah tenda
kanopi  yang ditutup rapat.

Isu people power yang akan ditandai berkumpulnya massa di Jakarta mengingatkan jargon politik tahun 1965: Jakarta hamil tua.
Bagi penganut teori konspirasi atau perdalangan, jargon politik 1965 itu
memiliki titik kemiripan  dengan konstelasi politik sekarang. 

Dua kekuatan sedang siaga pada front yang berhadapan. Yaitu kubu pro
Prabowo yang melabelkan nama Kedaulatan Rakyat berhadap-hadapan dengan
rejim Jokowi. 

Ibarat pertandingan tinju pro, kedua petinju sudah berada di sudut
masing-masing dengan telanjang dada, butiran keringat mulai menyembul,
tinggal menunggu gong tanda pertarungan dimulai.

Jargon politik ini pula yang bergaung pada tahun 1998 ketika kelompok
gerakan reformasi berada pada front yang berpendelik-pendelikan dengan
front rejim status quo Soeharto. Di tahun 1965, dua front yang
berhadapan adalah PKI versus militer, khususnya TNI Angkatan Darat.

Pada geger 1965 bukan lagi layaknya pertarungan dua petinju, tetapi
sudah seperti perang Baratayuda. Militer merangkul umat Islam untuk
melibas PKI dengan memanfaatkan sentimen ideologis. Juga mengompori
mahasiswa dengan memanfaatkan darah mudanya. Merasa keteter dalam
pertarungan, PKI berlindung di balik Bung Karno. Sebagai negarawan yang
mencoba ngemong semua elemen bangsa dengan menjadi penengah, Bung Karno
akhirnya harus jadi korban. 

Tidak berhenti sampai di situ. Warga PNI yang setia kepada Bung Karno
juga dimasukkan sebagai PNI Asu yang pro PKI sehingga harus diberangus. 

RRC, negara yang dekat dengan Bung Karno dalam aliansi antineokolonialisme dan imperialisme, dituduh terlibat makar bersama PKI.

Hasil dari geger 1965 itu persis seperti yang dikehendaki Sang Dalang. Bung Karno jatuh tragis.  
Bung Karno memilih legowo lengser demi menjaga agar pertumparah darah sesama anak bangsa tidak semakin berkobar. 

Seandainya Bung Karno melawan, pasukan Amerika hanya butuh waktu sekitar empat jam untuk menduduki Jakarta mendukung militer.

Istilah Shaikh Imran Hosein, pakar ekstalogi Islam, maupun pengamat
politik ROG Anderson, Bung Karno memang di target operasi (TO) jatuh
karena menjadi palang pintu lajunya neokolonialisme dan kapitalisme
(nekolim) atau The New World Order (NWO).  

Akibat lain, PKI diharamkan hidup lagi. Hubungan dengan RRC putus. 
Soeharto bersama militer berkuasa selama 32 tahun. Teknokrat berlatar
belakang sosialis dan nonmuslim menguasai denyut birokrasi. Konglomerat
merajalela. Jadilah fenomena rezim oligarkis: politik despotisme
(tirani), kapitalisme serakah, dan teknokrat oportunis.

Di mana umat Islam yang berjasa sangat besar menumbangkan PKI,
menjatuhkan Bung Karno, mengamini pengusiran RRC? Tetap berada di
pinggiran. Ibaratnya hanya menjadi tukang dorong mobil mogok, setelah
mobil jalan ditinggal begitu saja bahkan konyolnya masih sempat
diludahi. 

Sudah seperti kehendak alam, pinggiran itu layaknya pantai tempat laut
membuang sampah dan kotorannya. Pantai tidak mendapat ikan dan mutiara.
Istilah pengamat politik Islam BJ Boland dalam buku Pergumulan Muslim di
Indonesia, umat Islam kembali menuai kekecewaan baru.

Wayang Seksi 
Rezim Orde Baru bisa menjadi wayang yang seksi  sesuai kehendak Sang
Dalang. Membuka selebar-lebarnya bagi kapitalisme untuk semakin
merajalela. Mempersilakan sumber daya alam Indonesia yang berlimpah ruah
dikeruk oleh Sang Dalang. 

Seolah mendukung perjuangan rakyat Palestina tapi diam-diam melakukan kontak dagang pembelian senjata dengan Israel.

Setelah sekitar 30 tahun berkuasa, Soeharto dinilai mulai berulah.
Menyambung hubungan diplomatik dengan RRC. Mempererat hubungan dengan
Rusia dan Iran. Merangkul umat Islam setelah mencium dirinya mau
dijatuhkan dengan isu dirinya kejawen anti-Islam. Ini bahaya bagi Sang
Dalang. Untuk itu harus dilengserkan.

Dimulailah dengan pengembangan isu Soeharto raja korupsi. Biang kerok
kolusi dengan konglomerat keturunan China. Membangun nepotisme. Ditekan
dengan krisis moneter sejak tahun 1997.

Walhasil yang terjadi Jakarta kobong. Warga keturunan China jadi sasaran
amuk. Aset konglomerat dibakar. Sebagai negarawan Soeharto bersikap
legowo memilih mundur untuk mencegah korban lebih besar. Seandainya
Soeharto melawan dengan mengerahkan militer, dalam waktu empat jam
tentara Amerika yang sudah siaga di perairan Selat Sunda akan merengsek
masuk Jakarta.

Bagaimana umat Islam yang ikut andil pergantian rejim Orde Baru ke
reformasi? Memang sempat senang dengan tampilnya BJ Habibie karena
dianggap representasi santri modern (Ketua Umum ICMI). Tapi kemudian
kecewa karena Habibie dicegah melanjutkan kekuasaanya dengan cara
laporan pertanggungjawabannya ke MPR ditolak. Habibie bukanlah sosok
yang dikehendaki Sang Dalang.

Kekecewaan umat Islam terobati dengan tampilnya Gus Dur sebagai
presiden. Gus Dur representasi dari partai-partai Islam plus atau Poros
Tengah. Tapi Sang Dalang tidak senang kelompok Islam berkuasa, maka Gus
Dur harus dilengserkan di tengah jalan.

The Killing Fields 
Sang Dalang tidak mau lengah sedikitpun memainkan skenarionya untuk
Indonesia. Indonesia negara besar dan kaya raya. Merupakan negara dengan
populasi muslim terbesar di dunia. Sangat bernilai dari segi
geopolitik, geoekonomik, geostrategik. Maka dalam Pilpres 2019 ini Sang
Dalang tetap memainkan skenarionya.

Lantas apa kira-kira arah dan tujuan Sang Dalang? Apakah pergantian
rejim seperti 1965 dan 1998? Kemungkinan bukan itu tujuanya. Tujuan
utamanya memperlemah Indonesia. 
Bangunan nation-state Indonesia harus dirapuhkan dan dicabik-cabik.
Pelemahan itu bisa melalui pertumpahan darah sesama anak bangsa, konflik
sosial yang berkepanjangan, karut marut ekonomi yang kian mencekam.

Lihat saja fabrikasi isu yang digaungkan, diagitasi-propagandakan
sekarang adalah sensivitas Islam-kafir, pribumi – nonpribumi, sentimen
mazhab dalam Islam, bahkan isu nostalgia bekas daerah Islam radikal
versus bukan daerah eks radikal yang dilontarkan secara ngawur.

Salah satu kekuatan penyangga Indonesia adalah umat Islam. Untuk itu
harus diperlemah. Caranya, dibuat umat Islam berfriksi-friksi dan
berfaksi–faksi. 

Perbenturan antarkelompok Islam. Maka fabrikasi isu yang digaungkan
sejak beberapa tahun terakhir adalah khilafah, radikalisme, intoleransi,
terorisme dan lain-lain.

Diserpih-serpih dengan kelompok-kelompok yang tidak jelas defisinya
seperti wahabi, Aswaja, Syiah, Salafi, Islam Liberal, Islam moderat,
ISIS, Alqaeda dsb. Dibangun isu-isu yang memprovokasi  sesama umat Islam
berbenturan. Wadah ukhuwah Islamiyah saat ini seperti adonan jenang di
tong besar yang mendidih. 

Jargon Islam dipompakan terus menerus menjelang 22 Mei. Sayangnya jargon
itu dikemas dalam suasana agitasi-propaganda yang menggelorakan nafsu.
Misalnya, Jihad dimanipulasi sebegitu rupa menjadi perlawanan. Padahal
jihad terbesar adalah mengalahkan hawa nafsu.

Jargon-jargon atau kaidah-kaidah Islam dalam rangka menjaga kohesi
sosial cenderung diabaikan. Perselisihan seharusnya diselesaikan dengan
hikmah. Wajaldilhum bilati hiya ahsan (Dan berdebatlah dengan cara yang
terbaik). Wasyawirhum bil amr (bermusyawarahlah dalam pelbagai urusan).

Umat Islam dijejali isu-isu panas, subhat (remang-temang) yang deras
tanpa sempat  dikonfirmasi (tabayun). Padahal isu, info yang tidak
dikonfirmasi akan menjadi pemantik hancurnya sebuah bangsa. Begitu
penegasan Quran surah Al Hujurat ayat 6. Sekarang setiap isu ditelan
mentah-mentah diyakini sebagai kebenaran. Dan sebagian umat Islam kini
dimasukkan mesin kamuflase seolah sedang pergi ke Badar, padahal sedang
digiring ke The Killing Fields.

Sang Dalang juga bertujuan membenturkan RRC dengan rakyat Indonesia.
Mengurangi peran RRC di kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik.  RRC
merupakan batu sandungan skenario global Sang Dalang. 

RRC merupakan kekuatan dunia baru. Maka isu yang digaungkan dengan utang
maut (utang yang membuat Indonesia dikuasai RRC), banjir tenaga kerja
asing asal RRC, penduduk imigran gelap asal RRC.

Siapa yang menang dalam Pilpres, bagi Sang Dalang tidak masalah. Yang
penting siapapun yang berkuasa harus semakin tergantung kepada Sang
Dalang. Dan Indonesia yang harus kian lemah, rapuh, sehingga akan mudah
bagi Sang Dalang menguasainya sebagai bagian dari skenario  menguasai
dunia. Peluang RRC sebagai kompetitor Sang Dalang masuk ke Indonesia
semakin sulit karena sudah tertanam sentimen di hati rakyat Indonesia.

Pertanyaannya siapa Sang Dalang tersebut? Bukan Trump maupun Amerika.
Bukan Putin maupun Rusia. Tapi Sang Dalang itu eksistensial. Seperti
dalam sebuah pertunjukan wayang wong atau ketoprak, Sang Dalang berada
di balik panggung yang tidak terlihat. Allahu a’lam bisshawab. [*]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed