SriwijayaAktual.com – DALAM Bahasa Jawa dikenal adanya urutan
bilangan angka. Mulai dari 1, 2, 3 dan seterusnya hitungan tersebut akan
sama dengan urutan yang dipergunakan oleh masyarakat dunia. Hanya saja
dalam penyebutannya dalam Bahasa Jawa terdapat perbedaan. Bukan satu,
dua, tiga melainkan siji, loro, telu dan seterusnya.
Bicara soal penyebutan, dalam Bahasa Jawa ternyata ada tiga angka
yang dianggap unik dan berbeda dengan bilangan lainnya. Angka tersebut
dinilai mengandung makna filosofi yang diyakini memiliki kesesuaian
dengan kehidupan masyarakat Jawa. Angka berapa saja yang dinilai unik
dan misteri anka Jawa tu?
Angka 25
Dalam Bahasa Jawa, angka kepala dua disebut menggunakan ‘Likur’,
semisal selikur (21), rolikur (22), telulikur (23) dan seterusnya. Namun
saat jatuh pada angka 25 penyebutannya tak lantas menjadi limolikur,
melainkan ‘Selawe’.
Konon penyebutan Selawe tersebut memiliki makna tersendiri. Selawe
diartikan sebagai ‘Seneng-senenge Lanang lan Wedok’ atau dalam Bahasa
Indonesia ‘Sedang suka-sukanya seorang pria dan perempuan’.
Filosofi yang tersimpan di dalamnya yakni tentang pernikahan. Umumnya
seorang pria maupun perempuan Jawa akan melangsungkan pernikanan saat
berumur 25 tahun. Saat usia inilah seorang Jawa dinilai sudah matang dan
siap untuk membina rumahtangga.
Angka 50
Bilangan puluhan dalam Bahasa Jawa menggunakan penyebutan ‘Puluh’,
seperti sepuluh (10) rongpuluh (20), telungpuluh (30) dan seterusnya.
Namun demikian penyebutan ini tak berlaku untuk bilangan 50, angka ini
akan disebut dengan nama ‘Seket’ dan bukan limopuluh.
Seket dimaknakan sebagai ‘Senenge Kethunan’ atau ‘Suka mengenakan
kethu alias penutup kepala’. Filosofi yang ingin disampaikan dari angka
ini yakni saat umur mengijak 50 tahun seseorang akan mendekati lanjut
usia dan rambut mulai botak serta memutih sehingga banyak masyarakat
Jawa akan mengenakan penutup kepala.
Pada usia ini sikap mawas diri seseorang harus lebih ditingkatkan.
Pola kehidupan masa muda yang telah dilalui perlahan harus diubah dengan
lebih mencintai keluarga dan mempererat hubungan sesama masyarakat.
Angka 60
Orang Jawa tak akan menyebut angka 60 dengan Nempuluh, namun
‘Sewidak’ karena penyebutan ini berarti ‘Sejatine Wis Wayahe Tindak’.
Dalam bahasa Bahasa Indonesia kata tersebut berarti ‘Sesungguhnya sudah
saatnya untuk pergi’.
Makna yang tersimpan di dalamnya yakni saat usia kepala 60, seseorang
sudah harus mempersiapkan diri untuk mencari bekal kehidupan. Kebiasaan
buruk semasa hidup harus ditinggalkan dan saatnya mencari jalan terang
menuju kepada-Nya. (Van)