oleh

nah dia! Ratusan Warga Penerima Bantuan di Daerah ini Pilih Mundur, karena Malu Dicap Keluarga Miskin

-Berita-22 views
loading...

OKI-SUMSEL, SriwijayaAktual.com – Ratusan penduduk miskin di daerah Kabupaten Ogan Komering Ilir (Kab.OKI),
Provinsi Sumatera Selatan mundur dan tidak mau menerima bantuan dari pemerintah.
Hal ini menyusul adanya stempel ‘Keluarga Miskin’ di rumah mereka.
 
“Kami memang sudah memasang stiker dan stampel keluarga penerima
bantuan pemerintah. Dalam stampel tertulis jika penghuni rumah keluarga
‘tidak mampu’ dan perlu dibantu,” terang Kepala Dinas Sosial OKI, H. Amiruddin,
Rabu (6/3/2019).
Pemasangan stampel ini sudah dilakukan di Kecamatan Mesuji sejak
beberapa waktu lalu. Pasca dilakukan hal itu, dari 1.595 kepala keluarga
yang terdaftar, 25 persen memilih untuk mundur sebagai penerima dana
bantuan Program Keluarga Harapan (PKH).
“Awalnya penerima bantuan pemerintah program PKH itu 1.595 kepala
keluarga. Setelah dipasang stampel mereka sadar, terakhir menyatakan
untuk mundur, saat ini tersisa 1.252. Untuk 343 pilih mundur secara
sukarela,” kata Amir.
“Kalau keluar dari prrogram PKH harus keinginan atau kesadaran
masyarakat, istilahnya ya mengundurkan diri. Maka penulisan di dinding
rumah ini sebagai salah satu upaya memastikan program pro poor ini tepat
sasaran” katanya.
Amir menjelaskan, di kabupaten OKI sendiri, ada sekitar 35.525
keluarga yang menerima bantuan PKH. Seluruhnya tersebar di 18 kecamatan
berdasarkan catatan tahun 2015 lalu.
Camat Mesuji, Mukhlis mengatakan upaya pemasangan stampel dan stiker
sebagai upaya dalam pengentasan kemiskinan. Salah satunya dengan melihat
penerima bantuan agar tidak salah sasaran.
“Kita bersama perangkat kepala desa sudah melakukan validasi ulang
untuk penerima PKH. Jadi ada kesepakatan bersamanya bahwa rumah penerima
manfaat kita tulis dengan cat semprot,” kata Mukhlis.
Apakah karena sadar diri ataupun malu, penerima bantuan akhirnya
menyatakan untuk mundur. Ada pula yang mengaku sudah hidup layak dan
tidak perlu dapat bantuan.
“Banyak warga yang tadinya menerima tapi tidak mau dicap sebagai
keluarga miskin. Akhirnya mereka menyatakan untuk mundur dari program
itu,” tutup Mukhlis. [IsP/Detik]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed