oleh

nah Dia!! Terduga Teroris asal Riau Akui Donatur Mereka Bekerja di BUMN

-Berita-244 Dilihat

Gagal Serang Mako Brimob, Teroris Ditangkap di Palembang. (Liputan6.com/Nefri Inge)

PALEMBANG, SriwijayaAktual.com – Dua orang terduga teroris
asal Pekanbaru, Riau, yang ditangkap Densus 88 Antiteror dan Polda
Sumatera Selatan (Sumsel), pada Senin 14 Mei 2018, tidak mengakui adanya
Pancasila.
Ketika diinterogasi langsung oleh Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara, kedua terduga teroris tersebut sudah menghilangkan makna Pancasila dari kehidupan mereka.
Para terduga teroris yang ditangkap yaitu Heri Hartanto alias Abdul Rahman (39) dan Hengki Satria alias Abu Ansyor (38).
“Mereka hapal Pancasila, saya juga tanyakan mereka tentang makna Sila
Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Tapi makna dari seluruh silanya mereka
hilangkan,” ujar Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara saat
membuka kegiatan Tatap Muka Forkopinda Sumsel di Aula Hotel Swarna Dwipa
Palembang, Selasa (15/5/2018).
Salah satu terduga teroris asal Pekanbaru mengakui donatur mereka
merupakan warga Pekanbaru, yang bekerja di salah satu Badan Usaha Milik
Negara (BUMN). Mereka juga sudah menyebutkan identitas dan tempat
tinggal dosen yang mengajar di universitas di Palembang, yang gagal
mereka temui.
Namun Kapolda Sumsel masih belum bisa menjadikan kesaksian kedua
terduga teroris tersebut sebagai fakta hukum. Mereka akan mencaritahu
bukti pendukung lainnya. Karena saat ditangkap, tidak ada bukti apapun
yang menguatkan mereka sebagai pelaku teroris.
“Kita akan caritahu apakah ada transfer uang, atau ada saksi yang
melihat donatur tersebut memberikan dana ke mereka. Termasuk identitas
dosen tersebut, bisa saja nama yang disebutkan palsu dan alamat yang
dimaksud adalah perkantoran,” katanya.
Informasi tersebut masih akan mereka kembangkan, salah satunya
berkoordinasi dengan Densus 88, Polresta, dan Polda Riau. Kedua terduga teroris ini
mengaku sebagai anggota Jamaah Anshorul Daarul (JAD). Bahkan mereka
mendalami cara berjihad dari ustaz yang mereka panuti melalui internet.
*Dijanjikan Ketemu Bidadari
Reka ulang penangkapan teroris di Kabupaten Muara Enim Sumsel (Liputan6.com / Nefri Inge)

Sebelumnya
kelompoknya dinamai Jamaah Anshorul Tauhid (JAT). Karena tidak
progresif, sehingga mereka membentuk JAD yang diketuai oleh Aman
Abdurahman dan Abu Bakar Ba’asyir.
“Tersangka bilang kalau pahamnya Salafiah, itu tidak ada kaitannya
dengan agama, karena ini ideologi. Kami saja disebutnya kafir harby atau
musuh utama yang harus dimusnahkan,” katanya.
“Cara mereka memusnahkan juga tidak boleh sembunyi-sembunyi. Memang
harus berhadapan langsung dengan anggota polisi, sama seperti di
Surabaya,” ujarnya.
Para terduga teroris ini juga dijanjikan akan mati syahid jika tertembak, dan akan bertemu 70 bidadari di surga kelak.
Dua orang terduga teroris tersebut sebelumnya berangkat bersama lima
rekannya dari Pekanbaru menuju ke Jakarta hendak menyerang mako Brimob
Kelapa Dua. Tapi karena gagal menyerang, mereka berpencar.
Para terduga teroris asal Pekanbaru ini baru sampai di Palembang pada
14 Mei 2015. Mereka tidak mengetahui dimana keberadaan lima rekannya
tersebut.
Kapolda Sumsel menegaskan, aksi pengamanan tersebut merupakan pencegahan agar aksi teror bom tidak sampai terjadi di Sumsel.
“Jangan sampai terjadi amaliyah (bom bunuh diri) di Sumsel, apalagi
disini akan digelar Asian Games 2018. Pergerakan mereka ini sleeping
sel. Hanya diam saja, tiba-tiba bergerak waktu ada kejadian, jadi kita
tidak bisa memantau 24 jam,” katanya.
Kedua terduga teroris asal Pekanbaru ini, ternyata bukan kelompok
teroris asal Kabupaten Muara Enim Sumsel yang masih buron. Ada 6 orang
teroris asal Muara Enim yang sedang dalam pengejaran.
“Kalau di Muara Enim, mereka belajar dari Ustaz Solihin. Pemikiran
mereka sama saja, ditembak mati malah senang dan bisa langsung masuk
surga. Masih kita buru 6 orang teroris tersebut,” katanya.
Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

[*]

Komentar