oleh

Nilai Tukar Petani Tidak Sebanding Indeks Harga Yang Dibayar Petani, “Yang Miskin Semakin Miskin”

-Berita-383 Dilihat
Tatapan Kosong Dari Seorang Petani Padi  (Ilustrasi)
JAMBI, SriwijayaAktual.com  – Rendahnya pendapatan petani
membuat kondisi ekonomi masyarakat desa semakin terpuruk. Hal ini
dikeluhkan oleh Dulah, warga Batanghari yang berprofesi sebagai petani
karet dan juga mengojek. Pekerjaan mengojek dilakoninya dua hari sekali,
diselingi dengan rutinitasnya sebagai penyadap getah karet. 
“Sekarang ekonomi makin sulit, getah
karet yang disadap harga jualnya rendah sekali. Ngojek pun sekarang
mulai susah, karena masyarakat yang ramai bepergian ke pasar hanya pada
hari minggu saja,” keluhnya.
Sulitnya mendapatkan uang guna memenuhi kebutuhan perekonomian keluarganya mendorong Dulah untuk menjual tanah kebun miliknya.
“Untuk mencukupi biaya pendidikan anak
sekolah, mau tidak mau harus jual kebun. Ini jualnya pun susah, sudah
ditawarin kemana-mana masih belum laku juga. Padahal sudah jual murah,”
lanjutnya.
Kondisi semakin miskinnya masyarakat
pedesaan dapat dilihat dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang diperoleh dari
perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga
yang dibayar petani.
Data yang dirilis Badan Pusat Statistik
(BPS) Provinsi Jambi merupakan salah satu indikator untuk melihat
tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan. Nilai ini juga
menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan
barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin
tinggi NTP,secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya
beli petani.
Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga
perdesaan di sepuluh kabupaten/kota di Provinsi Jambi pada Juli 2016,
menurut Kepala BPS Provinsi Jambi, Dadang Hardiwan NTP Provinsi Jambi
turun sebesar 1,04 persen dibandingkan bulan sebelumnya yaitu dari 99,18
menjadi 98,15. Artinya pendapatan yang diterima petani masih lebih
rendah dari biaya produksi yang dikeluarkan.
Penurunan NTP pada Juli 2016 kata Dadang
disebabkan indeks harga hasil produksi pertanian turun sebesar 0,26
persen sedangkan indeks harga yang dibayar petani naik sebesar 0,79
persen.
“Kenaikan NTP terjadi pada dua subsektor
yaitu subsektor Hortikultura naik sebesar 1,12 persen dan subsektor
Perikanan naik sebesar0,47 persen. Sedangkan penurunan indeks terjadi
pada subsektor Tanaman Pangan yaitu sebesar 1,14 persen, subsektor
Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 1,82 persen, dan subsektor Peternakan
turun sebesar 0,64 prsen,” lanjutnya.
Pada bulan Juli 2016 pun terjadi
perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) Perdesaan mencerminkan angka
inflasi atau deflasi di wilayah perdesaan. “Pada Juli 2016, IHK di
wilayah perdesaan Provinsi Jambi sebesar 125,52 atau terjadi
inflasisebesar 0,99 persen,” ujar Dadang.
Waduh Kok Gak Netes-Netes Ini Getah Karet (Ilustrasi).
Jika dilihat menurut kelompok konsumsi
rumah tangga, inflasi terjadi pada enam kelompok pengeluaranyaitu
kelompok Bahan Makanan sebesar 1,97 persen; kelompok Makanan Jadi,
Minuman, Rokok dan Tembakau sebesar 0,28 persen. Kelompok Perumahan
sebesar 0,12 persen; kelompok Sandang sebesar 0,49 persen; kelompok
Kesehatan sebesar 0,40 persenserta kelompok Pendidikan, Rekreasi dan
Olah Raga sebesar 0,28 persen. Sedangkan deflasi terjadi padakelompok
Transportasi dan Komunikasi sebesar 0,11 persen.
Sedangkan penurunan NTUP (Nilai Tukar
Usaha Pertanian) Provinsi Jambi dipengaruhi oleh turunnya NTUP yang
cukup besar pada tiga subsektor. Penurunan NTUP pada tiga subsektor
tersebut adalah pada subsektor Tanaman Pangan sebesar 0,25 persen,
subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 1,07 persen, dan subsektor
Peternakan sebesar 0,09 persen. Sedangkan NTUP naik pada dua subsektor
yaitu subsektor Hortikultura sebesar 1,64 persen dan subsektor Perikanan
sebesar 1,19 persen.
“Pada Juli 2016,Nilai Tukar Petani di seluruh provinsi se-sumatera turun. Nilai Tukar Petani Provinsi
Jambi berada pada urutan kelima diantara
sepuluh provinsi se-Sumatera. NTP tertinggi di Provinsi Lampung sebesar
104,25 sedangkan NTP terendah di Provinsi Bengkulu yaitu sebesar
91,64,” bebernya.
Jika dilihat dari perubahan NTP pada
Juli2016 terhadap bulan sebelumnya, penurunan NTP tertinggi terjadi di
Provinsi Bangka Belitungyaitu sebesar 1,67 persen. Nilai Tukar Usaha
Pertanian Provinsi Jambi pada Juli2016 berada pada urutan ketujuh
diantara sepuluh provinsi se-Sumatera. Untuk NTUP tertinggi di Provinsi
Lampung yaitu sebesar 113,03 dan kenaikan NTUP tertinggi yaitu di
Provinsi Kepulauan Riau yaitu sebesar 0,13 persen.(*).
Sumber, Jambi Independent

Komentar