oleh

Pariaman, Satu-Satunya Kota Yang Tidak Ada Orang China Di Dunia

-Berita-36 views
loading...

SriwijayaAktual.com – Pariaman, Satu-Satunya Kota Bebas China Di Dunia – Keturunan Tionghoa
atau China dikenal ada di mana saja. Di mana bumi membentang pasti ada
China nya. Pameo demikian tidak berlaku untuk Kota Pariaman pasca
insiden “Kansas” yang terjadi sekitar tahun 1944 bertepatan sebelum
hengkangnya Jepang dari tanah air. Peristiwa Kansas itu sendiri terjadi
di Simpang Kampuang Cino Pariaman tepatnya di simpang tugu tabuik
sekarang.
Insiden Kansas adalah peristiwa pembunuhan (dengan
penggorokan) terhadap beberapa orang penduduk keturunan Tionghoa di
Pariaman karena sesuatu alasan. Kansas dalam artian Kanso, adalah alat
yang dilakukan untuk menggorok. Kanso bisa disamakan dengan jenis logam
seng tebal yang terdapat pada beberapa kaleng. Kanso yang digunakan saat
itu diambil dari bekas kaleng roti.
Peristiwa Kansas dipicu akibat tidak setianya beberapa oknum penduduk
China Pariaman kepada pejuang pribumi. Tidak semuanya memang, namun
akibat gesekan rasial tersebut seluruh komunitas China yang ada di
Pariaman hengkang menyelamatkan diri ke berbagai daerah. Aset mereka
yang tinggal begitu saja, beberapa waktu kemudian dijual murah melalui
perantara.
Sebelum peristiwa tersebut, komunitas China sangat
ramai di Pariaman. Mereka punya pandam pakuburaan tersendiri yakni di
belakang Makodim 0308/Pariaman (sekarang). Masyarakat Tionghoa di
Pariaman sudah ada sejak zaman Belanda. Mereka yang ada di Pariaman
umumnya para pedagang, pemilik pabrik roti, pabrik sabun, hingga
distributor rempah-rempah dan kebutuhan sehari-hari (kumango).
Komunitas
China Pariaman bermukim di area Kampung Chino yakni di Jl. SB Alamsyah
Kp Balacan, Kp Jawo, dan Kp Pondok. Sebelum Insiden Kansas, mereka hidup
rukun berdampingan dengan pribumi. Tempat sembahyang China di Pariaman
terletak di Simpang Tabuik yang sekarang persis berada di deretan Toko
Ali.
Merujuk pada sejarah yang dituturkan saksi hidup yang sempat
kami wawancarai, kekecewaan pribumi pada komunitas China bermula dari
diketahuinya lokasi pejuang pribumi oleh tentara Jepang. Pejuang pribumi
saat itu banyak dieksekusi di tempat persembunyiannya. Apa yang mereka
rencanakan selalu diketahui oleh tentara tentara Jepang.
Atas
keganjilan tersebut, pribumi saat itu memutar otak. Mereka mencari
dimana letak keganjilannya. Mereka berpikir ada sesuatu yang telah
terjadi. Pengkhianatan terhadap mereka telah dilakukan.
Pejuang
pribumi yang tersisa mengutus anak-anak untuk memata-matai beberapa
oknum yang dicurigai. Mereka disuruh bermain-main di halaman sejumlah
kedai yang acap digunakan tentara Jepang berkumpul. Mulailah anak-anak
bermain gasing, patok lele dan permainan tradisional lainnya ke
tempat-tempat yang disuruh pejuang pribumi.
Usaha tersebut
ternyata berhasil. Salah satu kedai kopi milik non pribumi China di Kp
Balacan dikupingi pembicaraannya. Pemberi informasi memang bukan pemilik
kedai, tapi langganan tetap yang juga keturunan China. Rupanya selama
ini dia menjadi mata-mata (spionase) Tentara Jepang.
Singkat
cerita, mata-mata Jepang tersebut “diambil malam” oleh pejuang. Dari
penuturan yang kami himpun, komplotan mata-mata itu semuanya berjumlah
tiga orang. Tiga orang pengkhianat tersebut dibawa ke tempat
persembunyian pejuang. Di sana mereka diinterogasi dan akhirnya mengakui
perbuatannya.
Atas perbuatannya itu, ketiga orang tersebut
dieksekusi dengan cara yang belum pernah terpikirkan olehnya. Leher
mereka digorok hingga nyaris putus dengan Kanso yang maha perihnya.
Ketiga mayat tersebut diletakan menjelang subuh tepat di depan tugu
tabuik sekarang ini berada. Kanso sebagai alat eksekusi masih menempel
di leher mereka. [eramuslim]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed