Partai Syariah 212, “Belum Seminggu Mekar Sudah Layu”

Berita51 Dilihat
Deklarasi Partai 212. ©youtube.com

JAKARTA, SriwijayaAktual.comGedung Joang 45 di bilangan Menteng, Jakarta
Pusat, menjadi saksi lahirnya partai baru. Namanya Partai Syariah 212.
Identitas itu dipilih lantaran banyak diisi para anggota jebolan aksi
unjuk rasa bela islam  2 Desember 2016  tahun lalu.
Tepat tanggal 17 Juli 2017, partai terbentuk. Tujuh orang menjadi
deklarator adalah Siti Asmah Ratu Agung, Ma’ruf Halimuddin, Agung
Suyono, Sidiq Waluyo, Ruli Munandzir, Andi Darmawati dan Hafidz. Mereka
berharap partai ini bisa menjadi wadah baru bagi umat muslim.

Belum
juga berkembang konflik antar-deklarator terjadi. Ketegangan muncul
antara kubu Ma’ruf dan Bunda Ratu. Ma’ruf mengumumkan pengunduran diri.
Dia meminta maaf telah ikut mendorong terbentuknya partai. Perpecahan
diduga karena rebutan jabatan pimpinan.

Menjabat Ketua Pelaksana
Deklarasi Partai Syariah 212, Ma’ruf keluar hanya lima hari usai
deklarasi partai. Tak lupa, dia juga meminta maaf kepada para peserta
aksi 212 dan ulama. Dia merasa tak lagi sejalan dengan Bunda Ratu selaku
penggagas lahirnya Partai Syariah 212.

Ketua Aktivis 212
Indonesia itu merasa lahirnya Partai Syariah 212 bakal menimbulkan
perpecahan umat muslim. Terutama bagi mereka yang pernah ikut aksi 212.
Selain itu, banyak keanehan awal terbentuknya partai ini.

Kegelisahan
itu dimulai sejak dua hari sebelum deklarasi. Ma’ruf merasa janggal
dengan sikap Bunda Ratu. Sosok itu merasa yakin dengan pelbagai
langkahnya. Keganjilan bermula saat dirinya ingin membuat surat undangan
kepada para tokoh ulama, habib, ormas dan tokoh 212 sebelum menggelar
deklarasi partai.

Ma’ruf menilai mengundang para tokoh sangat
perlu untuk meminta restu. Langkah ini dianggap wajib. Sebab, setiap
aksi maupun gerakan berlandaskan aksi 212, biasa meminta restu dari para
ulama.

Bunda Ratu tidak melakukan itu. Justru mengklaim telah mendapat
dukungan. Kondisi ini membuat Ma’ruf heran. Akhirnya hari dinanti tiba.
Deklarasi dilakukan. Tanpa dihadiri para ulama.

“Saya tanya ini
yang mau diundang siapa saja? Dia bilang enggak ada, enggak usah
diundang, semua itu enggak penting,” kata Ma’ruf kepada merdeka.com,
Kamis pekan lalu.

Sikap Bunda Ratu membuatnya bertanya-tanya. Apa
tujuan wanita itu mengajaknya mendirikan partai Islam? Namun dalam
prosesnya ogah meminta pendapat para ulama. “Loh, ini yang mau dijual
siapa?” tanyanya sambil mengernyitkan dahi.

Spesial Untuk Mu :  "Ramadhan Berbagi" di Kota Pagaralam, Parstisipasinya atau Silahkan Antarkan Bantuannya di Posko Kegiatan

Dalam pertemuannya
dengan kami sore itu, Ma’ruf membeberkan sosok Bunda Ratu. Dia mengakui
bahwa sosok itu misterius. Dalam lingkungan pertemanannya, Bunda Ratu
memang dikenal sebagai ‘pemain’. Lantaran pernah berkecimpung di banyak
partai.

Keinginannya mendirikan sebuah partai ini juga terkesan
terburu-buru. Ma’ruf menduga pendirian partai merupakan pesanan dari
seseorang melalui Bunda Ratu, untuk memecahkan para umat muslim.
“Saya simpulkan, ada orang besar di belakangnya dan tujuannya membenturkan umat,” tegas Ma’ruf.
Informasi
yang berhasil dihimpun  merdeka.com sebagaimana dilansir (7/8/2017), Bunda Ratu pernah menjadi sekretaris Ikatan
Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Peduli, bagian dari Dewan Koperasi
Indonesia dan seorang pengusaha. Tak hanya itu, dia juga merupakan salah
satu pendukung Prabowo Subianto saat Pilpres tahun 2014 lalu.
Ma’ruf
pun mengakui sosok Bunda Ratu memang memiliki berbagai ide dan gebrakan
luar biasa. Hanya saja pelbagai ide cemerlang tersebut digunakan untuk
hal menyimpang. Terutama untuk mencari keuntungan.
“Bunda Ratu
ini sepertinya ada sesuatu yang menyuruh. Jadi setelah dia bikin di
sini, kotori di sini, cemplung lagi di sini, kotori lagi di sini. Nah,
ending terakhir itu dia mau bikin Partai Syariah 212,” ungkapnya.
Berbagai
kejanggalan dirasakan itu akhirnya memuncak lima hari setelah
deklarasi. Merasa tak lagi sejalan, Ma’ruf dengan empat temannya
memutuskan cabut. Mereka adalah Agung Suyono, Sidiq Waluyo, Ruli
Munandzir dan Andi Darmawati. Empat sekawan ini akhirnya membuat ormas
Islam bernama Aktivis 212 Indonesia.
Partai Syariah 212 kini
tinggal digawangi dua orang, yakni Bunda Ratu dan Hafidz, putranya.
Pendirian partai juga diambang kehancuran. Ma’ruf pesimis sosok itu bisa
melanjutkan. Apalagi pada jajaran pengurus pusat masih belum menemukan
kata sepakat.
Bunda Ratu memang sulit dijumpai. Kami bahkan harus
berkali-kali menghubungi. Banyak alasan disampaikan ketika kami ingin
menemuinya langsung.
Alamat Kantor DPP Partai Syariah 212
akhirnya didapat. Kami mendatangi langsung. Beralamat di Jalan Mampang
Prapatan II nomor 32, Jakarta Selatan, kantor dimaksud ternyata sebuah
rumah dijadikan klinik kecantikan bernama ‘ARA’.
Plang nama
Klinik kecantikan itu tampak pudar. Hanya tinggal terlihat tulisan
‘ARA’. Kantor tersebut merupakan rumah mediterania dua lantai, bercat
putih dan mulai tampak mulai pudar. Beberapa bagian rumah juga tampak
tak terawat.
Kanopi garasi di kantor itu terlihat bolong. Pagar
rumah setinggi satu meter dibiarkan terbuka. Belum lagi sampah dibiarkan
berserakan dan lampu halaman dibiarkan menyala di siang hari.
Kala
itu ada mobil Grand Livina berwarna abu-abu terparkir. Di sisi lainnya,
tampak sebuah sedan tertutupi sarung mobil. Beberapa kali kami mengetuk
pintu rumah dan menekan bel. Namun, tak juga ada penghuni rumah keluar.
Lokasi sekitar juga terlihat sepi.
Setelah menunggu sekitar 30
menit, keluarlah seorang remaja laki-laki dari dalam rumah itu. Bocah
laki-laki itu menyebut Bunda Ratu sedang ke Lampung untuk beberapa hari
ke depan. “Bunda Ratu lagi ke Lampung, Ahad malam baru sampai ke sini,”
ujar bocah tersebut.
Sementara dari keterangan warga sekitar,
Bunda Ratu memang dikenal sebagai pemilik klinik kecantikan ARA. Dulu,
klinik tersebut ramai didatangi pengunjung. Salah seorang pemilik warung
nasi enggan disebutkan namanya, mengaku pernah ditawari bedak. Harganya
sekitar Rp 200 ribu.
“Saya dulu pernah ditawari bedak tapi saya
takut. Dia bilang itu bedak bagus, racikan dokter. Saya beli Rp 200
ribu. Bedaknya emang bagus sih, tapi kan mahal,” cerita wanita berambut
pendek itu.
Beruntung Bunda Ratu akhirnya bisa dihubungi. Dia
mengaku hanya mau diwawancarai lewat sambungan telepon. Dalam
perbincangan kami, Bunda Ratu menyebut bahwa Partai Syariah 212 pada
Kamis 3 Agustus, mendaftarkan ke Kantor Kementerian Hukum dan HAM
melalui notaris. Ini sengaja dilakukan agar bisa ikut dalam bursa Pileg
dan Pilpres pada 2019 mendatang.
“Kami sudah memiliki 34 kantor DPD di seluruh provinsi,” kata Bunda Ratu.
Menurut
dia, partai besutannya ini telah diketuai Dr. Junaedi. Sayangnya dia
enggan memberikan kesempatan kami untuk berkomunikasi langsung dengan
Junaedi. Sehingga untuk urusan Partai Syariah 212, hanya melalui
dirinya. “Sebelum legalnya terbit, suara keluar cukup (lewat) Bunda
Ratu,” tegasnya.
Bunda Ratu membeberkan kondisi partai
besutannya. Dia mengaku Kementerian Hukum dan HAM telah menerima
pengajuan pendirian Partai Syariah 212. Hanya saja, ada sejumlah berkas
harus dilengkapi untuk bisa memperoleh legalitas dari pemerintah. Hal
ini juga membuat kantor DPP Partai Syariah 212 di Mampang, Jakarta
Selatan, bersih dari atribut partai.
Soal tudingan Maruf
Halimudin, Bunda Ratu menyebut bahwa mantan rekannya di partai itu hanya
panitia penyelenggara. Dia tegaskan bukan bagian penggagas Partai
Syariah 212.
Dalam perjalanannya, saat pemilihan ketua partai,
Bunda Ratu mengakui membuat aturan kriteria calon pemimpin partai. Salah
satunya berpenghasilan minimal Rp 100 juta setiap bulan. Menurutnya,
aturan ini membuat Ma’ruf keluar dari partai lantaran tak memenuhi
kualifikasi sebagai pemimpin partai.
“Nampaknya Ma’ruf ada
ambisi, enggak masuk kualifikasi dia marah dan keluar. Orang ini
ambisius untuk berkuasa. Kalau Bunda enggak, hanya untuk bantu umat.
Bunda enggak tertarik untuk jadi ketua umum atau ketua pembina, sebagai
penggagas saja sudah,” ujarnya.
Tak hanya itu, dia juga membantah
bila dalam mendirikan partai enggan melibatkan para ulama, ormas maupun
tokoh aksi 212. Dirinya berdalih ulama memiliki peran lebih penting
ketimbang turun tangan di partai politik. Hal ini menjadi dasarnya tak
mengundang mereka saat deklarasi pada 17 Juli yang lalu.
“Partai
itu kecil hanya kendaraan. Bunda enggak mau dong nyeret-nyeret mereka ke
urusan partai. Kalau Bunda mengajak mereka berarti Bunda mengecilkan
arti mereka. Urusan mereka bukan partai tapi negara,” tegasnya.
Bunda
Ratu mengklaim selama ini komunikasi dengan para ulama masih berjalan
dengan baik. Keterlibatan ulama dalam partai, menurutnya, juga tak elok.
Dia bermimpi membangun sistem politik baru dengan profesional dan
konstitusional. Sehingga tak mengedepankan keberadaan tokoh tertentu
sebagai pemikat.
Apalagi pandangannya selama ini para partai
politik sangat dipengaruhi tokoh tertentu. Sehingga, ketika tokoh
tersebut pamornya turun maka berdampak pula pada elektabilitas partai.
“Partai Syariah 212 yang inisiatornya tidak tertarik dengan jabatan, yang semuanya umat muslim, membela muslim,” tegasnya.
Untuk
itu, Bunda Ratu berharap Partai Syariah 212 bisa diminati umat muslim
di Indonesia. Nantinya bisa menjadi kendaraan politik umat muslim untuk
mendapatkan jabatan demi kejayaan Islam di Indonesia.
“Ayo umat
Islam, mari kita rapatkan barisan, Bunda Ratu telah sediakan kendaraan
politik menuju NKRI Jaya. Jihad ekonomi, jihad politik, Allahuakbar!”
serunya mengakhiri pembicaraan dengan kami. [*]
Spesial Untuk Mu :  ‘Luhut Itu Menteri Indonesia Atau Dubes Khusus China’ Bukan Tulisan Akbar Tandjung

Komentar