Pasang Iklan Murah disini
Berita  

‘Pecah Kongsi Alumni 212 dengan Kubu Prabowo Subianto’

Prabowo dan la nyalla. ©2018 Merdeka.com
SriwijayaAktual.com – Pemilihan Gubernur Jawa Timur membuat La Nyalla Mattalitti
meradang. Dia rupanya kesal tak diusung sebagai calon. Partai besutan
Prabowo Subianto malah merapat ke pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur
Soekarno.
Mantan ketua umum PSSI itu blak-blakan menceritakan kegagalannya
diusung Gerindra. Termasuk cerita ketidaksanggupannya memenuhi mahar
politik ratusan miliar rupiah yang disebutnya permintaan Ketua Umum
Gerindra Prabowo.
Dia mengaku sudah mengucurkan Rp 5,9 miliar yang diterima oleh
Tubagus Daniel Hidayat (Bendahara La Nyalla) dan diserahkan ke saudara
Fauka. La Nyalla mengatakan, Prabowo justru marah-marah dan memakinya
sambil menyinggung soal uang Pilpres 2014. Dia mengaku tak mengetahui
maksud kemarahan Prabowo.
“Saya juga sudah buka cek Rp 70 miliar sudah dibawa oleh saudara
Daniel ke Hambalang. Hambalang juga saya enggak tahu. Saya sudah
sampaikan semua ini juga cair, kalau semua ini sudah resmi jadi calon
gubernur, belum apa-apa saya udah diperas,” tuturnya di Restoran Mbok
Berek, Jl Prof Dr Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (11/1/2018)
Saat bertemu dengan Prabowo itu, La Nyalla juga ditanya kesiapan
untuk uang saksi. Satu saksi Rp 200.000. Di tiap TPS ada dua saksi.
Jumlah TPS mencapai 68.000 TPS. Dengan hitungan itu maka La Nyalla harus
menyiapkan Rp 28 miliar untuk saksi. Tapi, kata La Nyalla mengaku diminta Rp 48 miliar untuk uang saksi di TPS. Uang
itu harus diserahkan sebelum tanggal 20 Desember 2017. Satu saksi Rp
200.000. Masing-masing TPS dijaga dua saksi. Total ada 68.000 TPS.
Dia menambahkan, permintaan mahar untuk mengeluarkan rekomendasi
datang langsung dari Prabowo. Nilainya tidak tanggung-tanggung, ratusan
miliar.
“Prabowo sempat ngomong, ‘kamu sanggup Rp 200 miliar?’ 500 saya
siapkan, kata saya karena di belakang saya banyak didukung
pengusaha-pengusaha muslim,’ tutur La Nyalla.
Awalnya La Nyalla mengira pernyataan Prabowo saat itu hanya gurauan
saja. Namun dia kaget setelah benar-benar ditagih. La Nyalla mencoba
melobi dengan menawarkan pemasangan foto Prabowo di seluruh Jawa Timur
untuk bahan kampanyenya.
“Saya pikir main-main, ternyata ditagih betul Rp 40 miliar, saya bilang nanti,” beber La Nyalla.
La Nyalla melanjutkan ceritanya. Tidak hanya Prabowo, Ketua DPD
Gerindra Jatim Soepriyatno juga disebut memalak Rp 170 miliar. Namun La
Nyalla menolak.
Ketua Presidium Alumni 212 Slamet Maarif mengakui ada
ketidaksepahaman antara alumni dengan koalisi Gerindra, PKS, dan PAN
atas ditolaknya lima rekomendasi untuk Pilkada 2018. Slamet menyebut
dalam waktu dekat akan melakukan rakernas untuk menentukan sikap
terhadap Prabowo cs.
Slamet mengungkapkan Alumni 212 kecewa Gerindra, PKS, dan PAN
terpecah. Salah satunya di Jawa Timur, Gerindra dan PKS malah bergabung
dengan PDIP yang selama ini mereka lawan. Slamet mengancam tidak lagi
memberikan dukungan.
“Satu wilayah koalisi ini jadi pecah dan bercampur dengan partai
penista agama ya konsekuensi nya kita tidak akan dukung sebetulnya kita
objektif saja lah,” jelas Slamet.
Baca Juga: Presidium Alumni 212 Kecewa dengan Tiga Parpol yang Menolak Calon-calon Kepala Daerah Rekomendasi Para Ulama. Seperti Apa Ungkapannya?…
Penasihat Alumni 212, Eggi Sudjana mengatakan sesungguhnya pemilu
adalah hak. Alumni 212, kata Eggy, mampu menggerakkan umat Islam untuk
beri dukungan. Namun, kalau aspirasi tidak didengar, untuk apa mereka
melanjutkan dukungan.
“Tapi kalau mereka suara kita dompleng saja kemudian setelah itu
ditinggal dan aspirasinya tidak dipakai, untuk apa begitu,” kata Eggi.
Sekjen FUI Al Khaththath mengaku alumnis 212 kecewa saat Prabowo dan
koalisi Partai Gerindra tak mengusung lima calon yang mereka
rekomendasikan. Salah satu yang gagal maju adalah La Nyala di pilgub
Jatim.
Para pemimpin aksi mengaku sudah merasa ikut berperan memuluskan
Anies-Sandi di Pilgub DKI Jakarta. Mereka sudah menggelar aksi
besar-besaran di 212.
“Pesan Habib Rizieq ketika saya pergi ke Mekah, agar meminta kepada
tiga pimpinan supaya meng-copy paste yang ada di Jakarta supaya
mendapatkan kemenangan di provinsi-provisni lain,” katanya saat jumpa
pers di Jakarta, Kamis (11/1)..
Al Khaththath mengaku mereka memberikan dukungan berharap nanti
Gerindra, PAN dan PKS memberikan rekomendasi kepada calon yang diajukan
para ulama itu untuk maju.
“Nah tentunya saya nggak tahu apakah ada miss presepsi seolah-olah
kita mendukung dengan cek kosong. Mungkin pemahaman mereka seperti itu,”
katanya kecewa.
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menepis semua tudingan La
Nyalla Mattalitti. Fadli menegaskan Prabowo tidak pernah meminta uang
untuk kepentingan pribadi maupun partai kepada calon kepala daerah yang
akan diusung.
“Saya kira kalau dari Pak Prabowo tidak ada ya‎ itu, saya tidak
pernah dengar‎ dan juga menemukan bukti semacam itu ya,” kata Fadli di
Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (11/1).
Fadli menuturkan, kalaupun ada permintaan dana, sesungguhnya hanya
untuk kebutuhan logistik dan saksi bagi La Nyalla di Pilgub Jatim.
Logistik yang dibutuhkan untuk transportasi serta saksi dalam jumlah
banyak.
Anggaran cukup besar dibutuhkan karena luas wilayah dan jumlah kabupaten/kota serta penduduknya yang cukup besar di Jawa Timur.
“Belum lagi untuk saksi-saksi, jumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS)
sangat besar, hitungan-hitungan itu pasti terkait dengan saksi, gerakan
relawan. Jadi saya kira wajar, bukan untuk kepentingan pribadi,
kepentingan partai, tapi kepentingan yang bersangkutan,” tegas Fadli.

Baca Juga Ini: ‘Prabowo Subianto Tidak Jadi Nyapres 2019’, kok Bisa?

Wakil Sekjen Gerindra Arief Poyuono juga membantah semua tuduhan La
Nyalla soal mahar politik yang diminta Prabowo. Dia mengatakan,
kegagalan La Nyalla diusung Gerindra bukan karena mahar politik tapi
karena tak kunjung mendapat rekan koalisi.
“Tidak ada permintaan 40 milyar dalam Surat tugas Gerindra pada Mas
La Nyalla untuk mendapatkan Partai Koalisi untuk mengusung Mas La Nyalla
dalam Pilgub Jatim. Sampai surat tugas itu berakhir Mas La Nyalla tidak
berhasil mendapatkan Partai Koalisi dalam Hal ini Partai Besutan Pak
Amin Rais,” ujar Arief melalui pesan singkat yang diterima merdeka.com.
Namun, kata dia, soal uang saksi yang diminta pada La Nyalla dianggap
wajar. Sebab, para saksi di TPS adalah ujung tombak dalam pertarungan
Pilkada. Dia menjelaskan, setidaknya dibutuhkan tiga Saksi untuk satu
TPS. Belum lagi saksi di tingkat PPS, PPK dan KPUD. Belum lagi untuk
dana pelatihan saksi sebelum pencoblosan yaitu sebesar Rp 100.000 per
orang/hari. Pelatihan disiapkan untuk 3 hari. Artinya masih dibutuhkan
dana sebesar Rp 20,5 miliar.
“Artinya kekurangan dana nantinya yang menanggung ya kader Partai
Gerindra, seperti pada Pilgub DKI Jakarta seluruh Kader Gerindra di
Indonesia urunan untuk bantu Anies – Sandi,” tandasnya. [did]
Spesial Untuk Mu :  Meriah & Seriusnya LK I HMI Komisariat Sriwijaya, Unsri