oleh

Pemuda ini Masih Percaya Primbon Jawa, dan Kami ‘Hajar’ 8 Pertanyaan Penting #Reportase

-Berita-791 Dilihat
Ilustrasi

Pemuda ini Masih
Percaya Primbon Jawa, dan Kami Beri Dia 8 Pertanyaan Penting #Reportase

SriwijayaAktual.com  –  Siang itu mentari bersinar terik. Di bawah keteduhan atap teras
kantornya, seorang lelaki duduk dengan santai. Badannya yang tinggi
besar dibalut kaus putih. Sesekali dia mengisap rokok dan mengembuskan
asapnya. Lelaki berusia 26 tahun itu bernama Panggah.
Raut wajahnya ceria saat diajak ngobrol panjang lebar oleh Hipwee. Dengan
logat yang cukup kental, dia bercerita tentang primbon atau kepercayaan
warisan leluhur Jawa. Zaman sekarang sudah sedikit orang yang percaya,
apalagi anak muda. Namun, rupanya Panggah adalah perkecualian.
Panggah sudah mengenal primbon seumur hidupnya. Dari generasi ke
generasi, keluarganya menurunkan ajaran tersebut. Dia adalah generasi
kelima di keluarganya yang meyakini primbon. Karena itulah hidupnya
berbeda dengan orang kebanyakan.
Setiap tahun Panggah merayakan ulang tahunnya
di tanggal yang berbeda. Sebab dia nggak mengikuti sistem penanggalan
umum, tetapi mengikuti penanggalan Jawa. Apa bedanya? Kalau memakai
sistem umum, Panggah yang lahir pada 17 Februari akan selalu merayakan
ulang tahun di tanggal tersebut, hanya harinya yang berubah-ubah. Lain
halnya dengan penanggalan Jawa. Panggah yang lahir pada Rabu Pahing akan
selalu merayakan ulang tahunnya pada Rabu Pahing pula. Tentunya hanya
setahun sekali, tanggalnya saja yang berubah-ubah.
Jika hari lahir atau weton-nya tiba, ibu Panggah akan membuat syukuran kecil-kecilan. Biasanya beliau membuat nasi glubang atau gudangan. Lantas masakan itu dibagikan ke orang-orang. Kalau kata orang Jawa, pembagian itu berdasarkan konsep megaring payung atau
membuka payung. Saat seseorang membuka payung, tentunya yang terlindung
oleh payung itu hanya sekitarnya saja. Begitu juga dengan syukuran weton, yang diberi nasi glubang hanya tetangga depan, belakang, dan samping kanan kiri.
Ajaran primbon juga memengaruhi Panggah saat pernikahannya setahun
lalu. Dia melamar seorang perempuan dari keluarga yang sama-sama percaya
primbon. Untuk menentukan tanggal pernikahan yang baik, seorang tetua dari keluarga menghitung weton mereka
berdua. Sebetulnya Panggah ingin menikah pada Januari 2018. Namun
karena tanggal yang tepat jatuh pada bulan Juli, dia mengundur
pernikahannya. Dia enggan melanggar perintah orang tua karena takut
terjadi hal-hal yang nggak diinginkan.
Salah satu ajaran primbon
yang katanya fatal kalau dilanggar adalah menikah pada bulan Sura.
Sebetulnya Sura adalah bulan yang baik, bahkan diyakini sebagai Tahun
Baru Islam. Namun ternyata primbon punya sudut pandang yang berbeda.
Orang-orang Jawa menggunakan bulan Sura untuk prosesi mencuci barang
pusaka seperti keris, contohnya di Kraton Yogyakarta. Prosesi itu
dianggap suci dan sakral. Jadi nggak sopan kalau orang-orang biasa
menggelar prosesi juga di bulan yang sama.
Bagaimana kalau
larangan itu dilanggar? Katanya pernikahan nggak bakal langgeng. Panggah
pun menceritakan hal buruk yang pernah didengarnya. Dia mempunyai
seorang pakdhe yang bekerja sebagai pembawa acara dan saksi dalam
pernikahan. Beliau pernah dua kali menghadiri pernikahan di bulan Sura.
Pada akhirnya, kedua pasangan yang menikah saat itu nggak berakhir
bahagia. Semuanya bercerai. Ada yang bercerai setelah lima tahun
menikah, ada juga yang setelah dua puluh tahun. Apakah itu kebetulan
atau hukuman karena melanggar primbon? Silakan balik ke kepercayaan
masing-masing.
Untuk mengetahui primbon lebih banyak, berikut ini Sriwijaya Aktual melalui Hipwee menyajikan obrolan dengan Panggah dalam bentuk pertanyaan dan jawaban.
1. Siapa sih yang bikin ramalan primbon di koran atau majalah?
Kayaknya yang bikin bukan orang ahli primbon beneran. Setahuku yang bikin justru random, ganti-ganti
yang mengelola. Bisa dipercaya nggak ramalannya? Tergantung diri
sendiri. Kalau anak milenial zaman sekarang, percayanya cuma sama
ramalan yang bagus. Kalau ramalannya jelek, tinggal berdoa semoga nggak
terjadi apa-apa.
2. Benarkah primbon bisa membantu atau justru menghalangi percintaan?
Ilustrasi/Percintaan sepasang kekasih Jawa
Itu terjadi nggak jauh dari keluargaku, tepatnya sepupuku. Suatu hari
dia punya pacar, udah sama-sama seneng, terus bapaknya tanya, “Rumah
pacarmu hadap mana?” Ternyata hadap selatan. Padahal katanya rumah yang
hadap selatan itu rezekinya kurang baik, nggak cocok buat sepupuku.
Gagal deh hubungannya. Tapi itu contoh yang ekstrem sih. Kalau buat
perjodohan, biasanya orang-orang menghitung weton atau kecocokan tanggal lahir.
3. Kalau ada yang bilang, “Berdasarkan primbon, kamu cocoknya kerja di air.” Apa kita perlu percaya?
Sekarang aku lebih ke realitasnya aja. Soal memilih karier,
aku nggak percaya primbon atau kejawen. Kalau aku cari kerja ya pilih
kerjaan yang aku suka dan pingin. Bukan berdasarkan “bagusnya kerja di
air”. Generasi-generasi sebelumnya di keluargaku juga nggak percaya.
Soalnya itu bikin kita seakan dikotak-kotakkan. Ikuti aja hati kata
hati. Kalau kerja, aku lebih mikir diri sendiri pinginnya ke mana. Ya,
pencipta kita pasti udah ngasih jalan.
4. Apa benar primbon bisa dipakai buat berjudi dan dapat nomor togel?
Jarang ada orang judi pakai primbon. Paling pakai cara ngawur-ngawuran.
Misalnya cari kodok di kuburan, terus kerok bagian perutnya pakai duit.
Katanya sih bisa keluar angka. Atau kalau ketemu pocong, gesek-gesek
aja dahinya, nanti keluar angka juga. Cara lain ya kalau kecelakaan,
perhatiin plat nomor kendaraannya, terus pakai angka itu. Tapi itu semua
cuma dibuat-buat sama orang sih.
5. Contoh lain ajaran primbon yang unik?
Ilustrasi
Katanya kalau lagi ngulek sesuatu pakai muthu (cobek) dan muthu-nya
patah, berarti bakal ada hal buruk yang terjadi. Orang yang nggak
sengaja ngelakuin itu bakal dibikinin ruwatan. Itu semacam buang sial.
Prosesinya kayak orang siraman pas mau menikah. Tapi ada dukun
khususnya yang baca-bacain doa. Terus ada cemeti dipecutin ke sebelah
kanan dan kirinya orang yang diruwat. Terakhir dia disiram pakai air.
Setelah dia mandi, semua baju yang dipakai selama ruwatan tadi, termasuk
perhiasan sekalipun, harus dilarung atau dihanyutkan ke sungai.
6. Apa ajaran primbon berubah dari masa ke masa?
Kalau ajaran tetep sama. Nikahan ibuku sama nikahanku sama aja, tetep ngitung tanggal berdasarkan weton. Yang beda mungkin prosesinya. Dulu bener-bener semua prosesi nikah Jawa dijalanin, kayak siraman sama midodareni. Kalau sekarang kan mikir budget juga to. Nggak semua orang punya duit, padahal kalau acara lengkap butuh budget yang lebih. Tapi kalau cara ngitung hari pakai weton, itu tetap sama sampai sekarang.
7. Bisakah ajaran primbon diterapkan di luar Jawa?
Ya
bisa digunakan, bisa juga enggak. Soalnya tiap tempat punya ajaran dan
mitos sendiri. Tapi sebetulnya primbon udah nyebar ke luar Jawa sih.
Lihat aja kalender. Biasanya di kalender nggak cuma ada nama hari kayak
Senin, Selasa, atau Rabu. Tapi juga ada Pahing, Pon, Wage, Kliwon, sama
Legi. Itu tanggalan berdasarkan kepercayaan Jawa. Tapi penyebarannya
udah ke mana-mana di Indonesia.
8. Kalau ada orang yang nggak percaya atau meremehkan primbon, bagaimana reaksimu?
Biasa
aja. ‘Kan mereka yang menjalani, jadi terserah mereka. Selama mereka
nggak menganggu dan mencampuri hidupku terlalu dalam, nggak masalah.
Boleh kok punya kepercayaan masing-masing. Tapi sebenernya primbon dan
kejawen bukan kepercayaanku yang utama. Kepercayaanku yang paling
penting ya Islam. Aku tetep percaya adanya Gusti Allah. Kalau primbon
itu adat, yang namanya adat ya harus dihormati. [*]

Komentar