oleh

‘PERAMPASAN TANAH ADALAH KEJAHATAN KEMANUSIAAN’

loading...
PERAMPASAN
TANAH ADALAH KEJAHATAN KEMANUSIAAN

Oleh, Eva Bande

KOLOM PEMBACA-OPINI,  SriwijayaAktual.com  – Tanah adalah bagian dari Bumi.
Tanah dan segala sesuatunya berhubungan dengan manusia. Tanah
ditakdirkan menjadi sumber meteriel dari segala  sesuatu yang dibutuhkan manusia
untuk hidup.
Apabila anda sedang menggenggam telepon selular (HP) berbasis android
(atau sejenisnya) dengan fasilitas internet, maka anda sedang memegang sebuah benda
yang dapat menghubungkan  anda dengan segala sesuatu yang
ingin anda  ketahui tentang  manusia dan kehidupannya, yang seluruh bahan (meterial)
penunjang  hidupnya berasal dari tanah. Komponen luar maupun dalam dari HP
tersebut semuanya berasal dari  tanah. Meterial yang membuat perangkat lunaknya,
sistem android maupun aplikasi-aplikasi yang sering anda akses,
seluruhnya bersumber dari tanah, baik  dari bahan plastik maupun logam.
Tanah
dan segala sesuatu yang berada di atas dan yang dikandung di bawahnya adalah milik Tuhan Maha  Pencipta.  Tidak seorangpun makhluk  bernyawa berhak mengklaim,
bahwa Tanah adalah miliknya.
Tuhan memberikan Hak kepada manusia untuk memanfaatkan  tanah dan segala yang
dikandungnya untuk bertahan hidup.
Klaim Hak milik atas  tanah  lahir sebagai konsekuensi
yang timbul dari interaksi sosial yang sangat panjang.
Tulisan ini bukan tempat untuk menjelaskan rangkaian proses itu. Akan tetapi,
bahwa Hak atas tanah itu sekarang menjadi persoalan manusia sepanjang masa,
adalah karena hasrat memiliki manusia yang berlebih-lebihan terhadap tanah.
Pengendalian terhadap hasrat manusia yang melampaui batas itu,
kemudian  memunculkan berbagai hak yang kita kenal sekarang.
Pengendalian terhadap berbagai urusan manusia itu sendiri  merupakan hasil dari  pelepasan sebagian hak
individual maupun  kolektif  kepada Negara, dengan  satu  alasan  mendasar, bahwa Negara
berkewajiban menjamin HAK Individual maupun Kolektif daris eluruh manusia yang
berada di dalamnya.
Pada
Negara hanya melekat fungsi-fungsi kekuasaan untuk mengatur. Untuk menjalankan  fungsinya,
rakyat menyerahkan kepercayaan  kepada  sejumlah orang yang
diberi mandat untuk memerankan fungsi-fungsi kekuasaan itu. Mereka  inilah, para
pelaksana fungsi Negara yang telah menghianati mandat rakyat.
“Munculnya berbagai hak
yang diberikan oleh Negara kepada  korporasi-korporasi merupakan  biang  dari Ketimpangan
dan Konflik Agraria yang ratusan tahun telah membuat sengsara rakyat di
seluruh pelosok negeri bernama Indonesia ini.
Apakah rakyat
membiarkan Saja…?
Rakyat tentutidak diam. Perjuangan  rakyat
di mana-mana tumbuh, dan di mana-mana itu perjuangan  rakyat justru dihalau oleh
tindakan aparatur represif Negara. Perjuangan-perjuangan rakyat di
banyak tempat dipatahkan, tetapi mereka terus berjuang. Dampaknya cukup terasa,
beberapa tahun belakangan para pengurus negara mulai mengubah cara-
cara.
Baik cara-cara memberi izin bagi perseorangan maupun korporasi,
termasuk cara-cara menghalau perjuangan  rakyat. Repotnya,
meski cara-cara berubah tetapi wataknya masih juga tidak berubah, eksploitatif dan
menindas. Rakyat pun semakin pandai, juga mengubah cara-cara, dari perjuangan sendiri,
berkelompok kemudian membentuk organisasi-organisasi yang makin lama
menunjukkan kematangan.
Hal
penting yang hendak saya sampaikan kepada kawan-kawan pejuang sekalian,
bahwa sepanjang kekuasaan masih berputar-putar di sekitar organ-organ politik dan
orang-orang yang sama pucuk pimpinannya
,
maka  perjuangan   tidak boleh padam sekarang atau kapanpun…! Selama industri elektronik,
bangunan-bangunan pencakar langit, hasrat berhias orang-orang kaya,
perusahaan transportasi, dan berbagai kepentingan memewahkan kehidupan dunia
bagi penghuni bumi, maka ketimpangan dan
konflik-konfllik agraria akan terus berlanjut…!!!
Ini  artinya perampasan tanah akan terusa da di muka bumi dan di sini…!!! Perampasan tanah itu  adalah kejahatan kemanusiaan…!!!
Rakyat tidak boleh  lengah, saudara-saudara
yang sudah  mengorganisir kepentingan bersama teruslah  berserikat, berkuat-kuatlah
dan bersabar-sabarlah, karena perjuangan kita  masih sangat panjang.
Ajarkan kaum  muda kita dengan moralitas dan nilai-nilai yang memuliakan  tanah,
sebarluaskan semangat kolektif untuk merebut  kembali hak-hak yang terampas.
Jalinlah  Persatuan seluruh elemen perjuangan rakyat,
jangan bercerai-berai karena soal-soal sepele dalam organisasi.
Kaum yang tertindas harus saling menguatkan, Jangan Lupakan Sejarah, belajarlah darinya

loading...
Saling rebut penguasaan, pemilikan dan
pengelolaan sumber-sumberdaya agraria antara individu dengani ndividu lainnya,
antara  individu  terhadap sekelompok individu, kelompok dengan kelompok,
antar komunitas, hingga antar bangsa, yang dilakukan secara halus hingga pemaksaan,
adalah  catatan sejarah paling tebal perjalanan bangsa-bangsa dari masa ke masa.
Bila ini  terus  menerus  berlangsung dan tidak dihentikan,
maka  sejarah akan menyimpulkan, bahwa  seluruh  kehidupan bermasyarakat yang pernah ada
di bumi sejak dulu, kini, hingga batas perhentian waktu, adalah penindasan sebagian kecilmanusia berkekuasaan
dan berkekayaan terhadap bagian terbesar manusia. Ini tidak boleh terjadi.
Perlawanan terhadap “para penindas” juga tumbuh di mana-mana, termasuk di
Indonesia. 
Konon Raja
Erlangga  Mataram berasal dari kasta Syudra (buruh/petani) yang mendapat dukungan kuat dari rakyat
yang terlalu menderita akibat ketatnya sistem Kasta di kala itu. Ken Arok yang
terkenal, pun berasal dari kasta Syudra,
merebut kekuasaan Singosari dengan dukungan rakyat jelata yang
muak atas ketertindasan mereka. Penderitaan menjadi berlipat kali rasanya,
ketika penjajahan bangsa asing mendera hidup rakyat. Perlawanan demi perlawanan yang
dilakukan di berbagai tempat  berbeda tidak membuahkan hasil. Lalu,
kaum tertindas dari Sabang hingga Merauke bersatu,
membebaskan diri dari penindasan bangsa Asing, dan merdeka. Eforia kemerdekaan itu membahana segenap  pelosok
negeri, namun hanya sebentar,
karena rakyat jelata harus melanjutkan penderitaan mereka. Ratusan, ribuan,
bahkan jutaan  nyawa rakyat  dikorbankan untuk mempertahankan kemerdekaan yang
hendak  dirampas kembali oleh bangsa  asing, hingga pada akhirnya negara
ini benar-benar berdaulat dan mendapat mandatrakyat dari Sabang hingga Merauke.
Ingatlah…..!!! Sejarah lahirnya Negara
Republik Indonesia ini melalui  perjuangan  panjang manusia yang
mempertahankan hak atas tanah (airnya). Kesamaan nasib kelompok-kelompok, suku-suku,
bangsa-bangsa, yang kemudian  menghimpun mereka seluruhnya kedalam suatu kesadaran senasib
yang melintasi pulau-pulau (Nusantara). Rasa cinta tempat lahir dan bertumbuh yang
semula kecil kemudian membesar dan membentuk kesadaran berbangsa satu, berbahasa yang
satu, bertumpah darah yang satu, tanah Air Indonesia.
Setiap orang yang lahir, tumbuh dan
berkembang di Tanah Air Indonesia harus menancapkan sekuat-kuatnya di
dalam  kesadarannya, bahwa udara merdeka yang
dihirup sekarang adalah buah dari penderitaan yang sangat panjang, perbudakaan yang
sangat kejam, perjuangan berdarah-darah rakyat jelata di seluruh Nusantara.
Kemerdekaan Indonesia bukan pemberian bangsa atau negara lain. Republik Indonesia
adalah karya rakyat jelata. Harta, waktu, jiwa,
dari jutaan rakyat terkorbankan untuk menghadiahkan Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI)  kepada kita.
Sekarang kita  sedang berhadapan dengan musuh
yang tidak tampak batang hidungnya, tetapi menguasai tidak saja secara materiel,
lebih jauh lagi menguasai kesadaran bangsa Indonesia.  Sangat mudah  kita, antara individu dengan individu adu fisik hingga saling bunuh.
Peristiwa antar individu bisa merembet hingga antar suku atau agama,
dar ijumlah kecil hingga  jumlah yang sangat besar. Rasa sebangsa-negara semakin
tipis, seiring peradaban yang makin tinggi. Ironisnya, para
pengurus rakyat dari jenjang paling bawah hingga di pucuknya,
mempertontonkan buruknya mental dan moralitas mereka. Korupsi yang
semakin menguat diiringi dengan maraknya izin-izin pembabatan hutan, pengusahaan kayu,
tambang minyak, gas, nikel, izin usaha perkebunan, kehutanan, dan lainnya, yang kesemuanya melanggar hak-hak rakyat atas tanah.
Rakyat miskin tambah melarat. Di dalam kemiskinannya,
rakyat sering menjadi sasaran tembak aparatur keamanan negara yang memilih mengawal
para pengendali modal daripada menjadi pengawal rakyat yang melahirkan mereka.
Perjuangan rakyat di lapangan agraria,
baik yang terorganisasi maupun yang
tidak terorganisasi telah berlangsung hampir seusia negara ini. Akan tetapi,
mengapa perjuangan itu tidak pernah mencapai puncaknya? yaitu,
keadilan dalam penguasaan, pengelolaan, peruntukkan, dan pemanfaatan sumber-sumber agraria?
Ketika sudah merdeka, pun
persoalan Agraria justru menunjukkan peningkatan dari waktu-waktu dengan korban yang
melulu adalah rakyat jelata. Lantas apa  ,
sementara sebagian terbesar rakyat di negara ini, sadar tidak sadar  sedang mengalami penindasan
oleh sekaligus bangsa sendiri dan bangsa asing, langsung maupun tidak langsung.
Persoalannya adalah,
rakyat pun telahter bentuk pola pikirnya, akibat penetrasi bertubi-tubi,
bertahun-tahun, beraneka cara dan metode,
sehingga sebagiannya tidak peduli dengan nasibnya sendiri,
sebagiannya mengambil posisi mencari untung dari situasi, sebagian menunggu kesempatan,
dan sebagian kecil sadar hendak berjuang tetapi tidak teorganisir atau menunggu
orang-orang yang akan memimpin mereka mencapai kesejatian bernegara.
Segelintir
orang dari  bagian terkecil itua dalah mereka yang
berupaya memastikan bahwa keadilan harus tegak berdiri di manapun mereka berada,
mereka mengorganisir diri untuk bersetia  dengan tujuan-tujuan hidup sejatis ebagai komunitas
yang berkesadaran  berbangsa dan bertanah air satu. Kesadaran ini, sudah lama
hadir menggeliat dan hendak bangkit perlahan-lahan, mengundang seorang demi
seorang, sekelompok demi kelompok,
mencoba menata hidupnya secara lebih arif dengan dasar yang lebih kuat.
Kesadaran ini hendak dituangkan kedalam sebuah sistem berkehidupan dalam kelompok yang
kecil, sedikit demi sedikit, memulai dari yang praktis dan
dikombinasi sedemikian rupa untuk menuju kesadaran baru, lalu menjadi sebuah agenda
perjuangan baru, tata kelola agraria berkelanjutan yang
sungguh-sungguh berkeadilan sosial.
Kita
semua adalah segelintir orang itu…!!!
*(TulisaninisayapersembahkanuntukKegiatanMusyawarahBesarKomiteReformaAgraria
Sumatera Selatan, Palembang 8-10 Desember 2019)
SelamatBerkongres.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed