Pasang Iklan Murah disini
Berita  

Persis: Kapolri Tugasnya Mengayomi, Melindungi dan Bukan Pengadu Domba

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian [foto/dok]
JAKARTA, SriwijayaAktual.com  — Pernyataan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian dalam
sebuah video yang beredar ditanggapi beragam oleh berbagai pihak.
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis), Irfan
Saprudin, mengatakan bahwa sebagai pejabat tinggi, seorang Kapolri harus
sadar dan faham dengan kedudukannya.
Oleh karenanya, menurutnya, pejabat tersebut hari bisa mengontrol
perilaku dan pernyataan-pernyataan yang akan di keluarkan. Karena yang
bersangkutan tidak bisa mengatasnamakan pribadi atau individual.
“Pernyataan
seorang pejabat akan memengaruhi dan berdampak secara sosial dan
politik di masyarakat (bangsa dan negara). Pejabat tersebut diundang
atas jabatannya, bukan karena individunya. Karena ketika berbicara
memakai baju seragam, jabatan tersebut adalah seorang Kapolri,” kata
Irfan, melalui pesan elektronik kepada Republika.co.id, Selasa (30/1/2018).
Irfan
mengatakan, ada beberapa hal yang bisa dianalisis dari pernyataan Tito
tersebut. Karena berbicara di kalangan satu ormas, maka biasanya seorang
pejabat akan mengungkapkan pujian terhadap ormas tersebut. Meski merasa
berbicara di kalangan terbatas, ia menilai Kapolri tetap tidak perlu
menyatakan seperti itu. 
Menurutnya, hal itu berlebihan.
Irfan mengatakan, tidak menutup kemungkinan pengetahuan seorang Kapolri
tentang ormas Islam yang besar sangat terbatas hanya kepada NU dan
Muhammadiyah saja. Sedang yang lain kurang dikenalinya.
Sementara
ini, menurutnya, masyarakat umumnya banyak mempersepsi bahwa pejabat
tinggi sekelas Kapolri pasti memiliki pengetahuan tentang sejarah ormas
dan jumlah ormas, peran dan kontribusi mereka terhadap negara. “Tetapi,
dengan pernyataannya tersebut, apakah kita boleh merubah persepsi?”
lanjutnya.
Irfan mengatakan, pemahaman terhadap arti tugas,
posisi dan tanggungjawab sebagai seorang pejabat tinggi setingkat
Kapolri harus dipahami dan diresapi. Ia mempertanyakan apakah itu juga
sebagai fenomena kegagalan sistem pendidikan di Keposilian. “Apa mungkin
terjadi seperti itu? Rasanya tidak mungkin. Bisa juga para pembantu
disekelilingnya memberikan informasi kepada atasannya banyak distorsi,
anomali dan kurang akurat, hal ini juga bisa jadi?” ujarnya.
Irfan menarasikan kesimpulan yang dapat diambil dari fenomena
hubungan polisi dengan masyarakat selama ini. Menurutnya, selama ini
kapolri (polisi) kurang bersilaturrahmi kepada ormas-ormas Islam yang
ada di Indonesia. “Harus dipahami bahwa fungsi Polri adalah pengayom dan
pelindung masyarakat, bukan sebagai pengadu domba masyarakat dan
ormas,” kata dia.

Baca Juga ini: Ini Indikasi PDIP “MAIN MATA” dengan Petinggi Polri?

Ia juga menyarankan agar dikalangan internal Polri mengadakan kegiatan untuk mengkaji dan membaca sejarah Ormas Islam di Indonesia
dengan jernih, objektif dan menghilangkan prasangka negatif. Ia
menambahkan, bahwa Polri harus kembali ke jati diri yang sejati sebagai
polisi Indonesia yang profesional, amanah dan dicintai rakyat.
Dalam video yang beredar, berikut pernyataan Kapolri Tito tersebut:
“Saat
Rapim Polri, saya sampaikan tegas menghadapi situasi saat ini, perkuat
NU dan Muhammadiyah. Dukung mereka maksimal. Semua Kapolda yang wajibkan
untuk membangun hubungan dengan NU dan Muhammadiyah tingkat provinsi.
Semua kapolres wajib untuk membuat kegiatan untuk memperkuat para
pengurus cabang di tingkat kabupaten dan kota. Para Kapolsek wajib untuk
di tingkat kecamatan bersinergi dengan NU dan Muhammadiyah, jangan
dengan yang lain. Dengan yang lain itu nomor sekian. Mereka bukan
pendiri negara, mau merontokkan negara malah iya.”
[*] 

Baca Juga ini: CRASS..CRASS!! Dihadang Begal Sadis, Prajurit Marinir ini Dibacok Senjata Tajam Berkali-kali, Lihatlah Kondisi Akibat Bacokan Begal Ditubuh Prajurit Marinir ini…

Spesial Untuk Mu :  Penembakan di Kampus UCLA, Tidak Ada Korbanya Dari WNI